Posts

How to Start April with Full Adrenaline

Bimbingan kedua, dan kali ini lebih intens karena aku dapet kesempatan present ide proposal disertasiku. BARENG PARA SENIOR . Jujur, aku sempat merasa paling kecil di ruangan itu. Karena bukan yang pertama present, aku jadi saksi interaksi Prof dan kakak kakak angkatan. Banyak senior yang sudah di semester lima, enam, dan hampir semua bicara dengan struktur yang rapi, data yang jelas, dan arah yang sudah kelihatan matang. Sementara aku? Baru semester satu. Masih meraba-raba. Bahkan belum sepenuhnya yakin dengan bentuk akhir ideku sendiri. Bahkan kadang masih nanya "gue ngapain sih disini ya Allah" Waktu giliranku maju, deg-degannya level EDAN! Tapi aku tetap maju. Dengan satu hal yang aku pegang: aku ingin mencoba menyuarakan ide besarku, walaupun aku tahu isinya belum sepenuhnya siap. Dan aku butuh feedback buat terus maju di arah yang bener, so this is my moment. Yang aku nggak sangka, justru di situ percakapan mulai terbuka. Bukan dalam bentuk validasi yang manis, tapi dal...

Kisah Lebaran Umar Soghiro

Image
Ada yang berubah dari cara Umar melihat lebaran sejak dia tinggal di Jepang. Dulu, lebaran itu selalu datang dengan sendirinya. Tanpa perlu dipikirkan. Tiba-tiba saja rumah sudah ramai, dapur sudah sibuk, dan suara takbir terasa dekat, hampir seperti memeluk dari segala arah. Sekarang, lebaran terasa seperti sesuatu yang harus dia cari sendiri. Ini lebaran ketiganya jauh dari rumah. Dan malam ini ia berjanji akan jadi Lebaran terakhirnya jauh dari keluarga. Umar bangun, duduk sebentar di tepi tempat tidur, mungkin sambil mengingat hari apa ini sebenarnya. Hari raya. Tapi rasanya tidak sepenuhnya seperti hari raya. Dia tetap bersiap. Memakai baju terbaik yang dia punya di sana. Bukan karena ada yang melihat, tapi karena dia tahu, di rumah, ini hari yang selalu diperlakukan dengan istimewa. Salat eid dia jalani bersama orang-orang yang juga sama-sama jauh dari rumah. Mereka saling tersenyum, saling menyapa, terlihat juga beberapa melakukan video call ceria dengan keluarganya. Umar hanya ...

Juat Another First Day of My Period

Image
I used to think that strangers were the ones most likely to hurt us. But life keeps proving the opposite: the people closest to us often hold the sharpest edges. Ada beberapa momen kecil yang membuatku berhenti sejenak dan berpikir tentang hubungan manusia —tentang kedekatan, ekspektasi, dan rasa sakit yang kadang datang dari arah yang tidak kita duga. Belakangan ini aku lagi sangat antusias menulis paper. You know the kind of excitement when an idea keeps spinning in your head and you just want to keep working on it. Rewrite. Edit. Rewrite again. Read it again. Fix a paragraph. Delete another one. Repeat. It's a tiring process, really not because I am a mother of three but merely because it can be very stressful even for a chilled person like me. Eventually, setelah beberapa kali revisi, aku memberanikan diri mengirimkan draft itu ke promotorku. Sekalian aku approach juga: would you mind reviewing it and maybe becoming my co-author?  No immediate response. But that part didn’t bot...

Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–Amerika 2026 dan Keresahanku

Transformasi ekonomi digital global telah mengubah hubungan antara perdagangan internasional dan industri komunikasi. Perjanjian perdagangan modern tidak lagi hanya mengatur barang fisik, tetapi juga mencakup sektor digital, data, dan layanan komunikasi. Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 antara Indonesia dan Amerika Serikat mencerminkan tren tersebut dengan memasukkan ketentuan terkait investasi, perdagangan digital, aliran data lintas negara, serta regulasi teknologi komunikasi. Dalam kerangka industri komunikasi, perjanjian ini memiliki implikasi penting terhadap struktur kepemilikan aset, arus investasi, dan dinamika ekosistem media digital di Indonesia. Beberapa ketentuan utama ART mencakup pembukaan investasi asing di sektor seperti broadcasting dan publishing, fasilitasi perdagangan digital dan aliran data lintas negara, serta penghapusan hambatan terhadap layanan digital dari perusahaan Amerika Serikat.   Esai ini menganalisis dampak ART terhadap aset dan investa...

It's raining again in Jogja tonight.

Aku balik lagi ke Jogja. Dan kali ini rasanya nggak sesimpel, “yay kuliah lagi.” It’s heavier. Bukan karena nggak mau. Justru karena mau banget. Because I want this. I chose this. Tapi justru itu yang bikin complicated. Karena sekarang aku bukan cuma “anak yang pergi merantau buat belajar.” Aku ibu. Dan ini yang jarang orang bahas: stabilitas di rumah itu… banyak banget bergantung sama aku. Kayak, when I’m home, everything runs smoother. Makan teratur. Mood lebih stabil. Hal-hal kecil nggak jadi drama besar. Bukan karena aku superwoman. Tapi karena aku ada. Presence matters more than we admit. Jujur ya… ada rasa takut. Takut kalau pas aku pergi, rumah jadi lebih chaos. Takut kalau ada yang nggak ter-handle. Takut kalau ternyata aku terlalu sentral. Dan lebih jujurnya lagi? Ada sedikit (atau banyak!) rasa bersalah. Kayak… “Emang boleh ya gue ninggalin dulu?” Padahal ninggalinnya juga bukan buat main-main. Buat belajar. Buat grow. Buat bangun sesuatu yang lebih besar ke depan. B...

first week wrapped: an angle I can share with you

Image
Minggu pertama PhD ternyata bukan tentang teori. Bukan tentang metodologi. Apalagi tentang kontribusi ilmiah. Ini tentang duduk di ruang kelas, mendengar orang lain berbicara sangat percaya diri, lalu dalam hati bertanya: “ Oke… aku harus summarise dan synthesise berapa artikel malam ini?” Reading list minggu pertama terasa seperti pesan singkat dari semesta: “Selamat datang. Silakan baca 312 halaman sebelum Selasa.” --- Selama ini aku terbiasa jadi yang menjelaskan. Tiba-tiba sekarang aku yang mencatat cepat-cepat supaya tidak terlihat terlalu blank. Skill paling penting dan paling berguna di minggu ini adalah bukan critical thinking, tapi mengangguk and making the face like you get it. YES FAKE IT TIL YOU MAKE IT. And it happens, the impostor syndrome cameo. Ada momen di mana aku merasa semua orang sudah membaca buku yang belum pernah kudengar namanya. Tapi kemudian aku sadar: mungkin mereka juga sedang pura-pura tenang. --- Ternyata yang membuatku bertahan bukan teori si...

The Day I Started My Ph.D

Being in a new place that is not so new; Jogjakarta. Jogja selalu punya cara aneh untuk menetap di hati. Bukan dengan gemerlap, bukan dengan ambisi yang teriak-teriak. Tapi pelan. Tenang. Kayak orang yang duduk di pojok ruangan, nggak banyak bicara, tapi begitu kita sadar… dia sudah jadi rumah. Aku menyimpan Jogja lama. Sejak versi aku yang masih belajar mengenal diri, belajar jatuh dan bangun tanpa banyak saksi. Kota ini seperti jeda panjang dalam hidup —tempat di mana napas bisa ditarik lebih dalam, dan pikiran nggak harus selalu buru-buru. Jogja itu rasa. Bukan cuma koordinat geografis. & Now I'm coming back. Bukan sekadar pulang, tapi datang membawa mimpi yang dulu hanya berani diucapkan dalam doa paling sunyi: a doctoral degree. Starting my PhD here feels surreal. A dream come true, truly. Ada momen-momen ketika aku duduk sendiri, membuka buku, lalu berhenti sebentar karena air mata jatuh tanpa aba-aba. Ya Allah, aku sampai di titik ini. Bukan karena aku paling hebat. Tapi...