first week wrapped: an angle I can share with you

Minggu pertama PhD ternyata bukan tentang teori.
Bukan tentang metodologi. Apalagi tentang kontribusi ilmiah.
Ini tentang duduk di ruang kelas, mendengar orang lain berbicara sangat percaya diri, lalu dalam hati bertanya:
Oke… aku harus summarise dan synthesise berapa artikel malam ini?”

Reading list minggu pertama terasa seperti pesan singkat dari semesta: “Selamat datang. Silakan baca 312 halaman sebelum Selasa.”

---
Selama ini aku terbiasa jadi yang menjelaskan. Tiba-tiba sekarang aku yang mencatat cepat-cepat supaya tidak terlihat terlalu blank. Skill paling penting dan paling berguna di minggu ini adalah bukan critical thinking, tapi mengangguk and making the face like you get it. YES FAKE IT TIL YOU MAKE IT.

And it happens, the impostor syndrome cameo. Ada momen di mana aku merasa semua orang sudah membaca buku yang belum pernah kudengar namanya. Tapi kemudian aku sadar: mungkin mereka juga sedang pura-pura tenang.

---
Ternyata yang membuatku bertahan bukan teori sistem atau epistemologi. Tapi pesan sederhana: “ibu lagi dimana? Ibu pulang kapan?”
It's simple but it breaks my heart worse than journal rejections. Oh yes, I have submitted some articles to catch up with the requirements baik dari 2 kampus yang jadi rumahku.

Video call itu bukan cuma komunikasi. Itu pengingat bahwa nilai diriku tidak ditentukan oleh seberapa tajam analisisku. Mereka nggak peduli berapa banyak artikel jurnal yang udah aku baca atau udah berapa banyak buku yang aku rangkum.

Mungkin itu sebabnya video call terasa seperti menurunkan bahu yang tanpa sadar menegang seharian. Ada ruang di mana aku tidak perlu membuktikan apa pun. Aku sudah cukup, bahkan sebelum menyelesaikan satu paper pun.

---
Jadi mungkin beginilah minggu pertama PhD bekerja: bukan sedang mengajarkanku menjadi lebih pintar, tapi sedang melatihku menjadi lebih seimbang. Di satu sisi ada ruang kelas yang membuatku ingin terlihat tahu segalanya. Di sisi lain ada layar kecil yang mengingatkanku bahwa aku tidak perlu menjadi apa-apa selain diriku sendiri. Aku masih belajar membagi energi, membagi waktu, membagi hati—tanpa merasa harus kehilangan salah satu peran.

Mungkin aku hanya sedang belajar berdiri di dua dunia sekaligus, dan pelan-pelan menemukan cara untuk tetap utuh di tengah keduanya. Dan untuk sekarang, itu sudah cukup. Besok kita angguk lagi di kelas. Malamnya kita pulang —meski hanya lewat layar.



Comments

Popular posts from this blog

Renungan Transjakarta Sore Ini

Why Making Everything Digital Is Important

Romantisme Allah Lewat Azan: Panggilan Mesra dari Langit