Posts

Showing posts with the label Allah

Surat Thaha dan bisikan ketakutan

Image
Pagi ini aku membuka Al-Qur'an seperti biasa. Tidak sedang mengejar target khatam. Tidak sedang mencari jawaban atas masalah tertentu. Hanya membaca. Lalu aku sampai pada Surat Thaha. Entah kenapa, pagi ini rasanya berbeda. Aku tidak sedang membaca kisah yang baru pertama kali kudengar. Justru sebaliknya. Surat Thaha adalah salah satu surat favoritku sejak lama. Di dalamnya ada begitu banyak hikmah yang selalu membuatku kembali lagi: kisah Nabi Musa yang berbicara langsung dengan Allah, doa yang begitu terkenal dan sering diamalkan oleh para public speaker, hingga cerita yang secara historis dikaitkan dengan masuk Islamnya Umar bin Khattab. Aku sudah membaca kisah-kisah itu berkali-kali. Tetapi pagi ini, aku tidak sekadar membacanya. Aku merasakannya. Mungkin benar, Al Qur'an berbicara pada siapa yang membacanya. Dan rasanya begitu personal lalu tanpa sadar, air mataku mengalir. Mungkin karena pikiranku melompat pada kisah lain yang selama ini sering kita dengar: I...

He Fell in Love with Islam, Again

Image
I've never specifically talked about him in my blog, (or maybe I have you just need to scroll if you want to make sure). But, let me tell you (probably again) this time. It's about my best friend, the internist. --- You know how some people grow up with religion around them, but it never really hits them until something big happens? That’s how it was for my friend. He was never the overly religious type. He respected Islam, sure — practiced when he could, asked big questions about God and life — but not the kind to get swept away in spiritual ecstasy. If anything, he was a realist, a thinker. Someone who believed, but hadn't yet  felt  the full weight of that belief.  What I always admired about him was his openness. He wasn’t blindly skeptical, nor was he blindly obedient. He had this honest kind of curiosity—about the universe, about God, about the Divine energy that surrounds everything. He'd ask deep, random questions about destiny, about du'a, about why pain e...

Rasa Takut yang Begitu Indah

Image
Ada rasa takut yang membuatmu lari. Tapi ada pula rasa takut... yang justru membuatmu kembali. Malam itu hening. Angin menyusup di sela jendela kamar. Lampu redup. Dan di layar ponselku, suara tilawah Al-Qur’an menyusup perlahan ke dalam hatiku. Lalu aku menangis. Bukan karena hidupku sedang berantakan. Bukan karena aku sedang kehilangan siapa-siapa. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku sadar: Aku akan mati. Dan setelah itu, semuanya dimulai .  "فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ..." “Barangsiapa yang diberikan kitab catatannya dengan tangan kanannya...” (Qur’an 69:19) Ayat itu tidak menyeramkan. Tapi aku menggigil. Kenapa? Karena di antara segala rasa takut yang pernah aku alami dalam hidup ini — gagal ujian, kehilangan kerja, ditinggalkan manusia — semuanya menjadi kecil di hadapan rasa takut akan hisab. Bukan hanya karena takut masuk neraka. Tapi takut... berdiri di hadapan-Nya, dalam keadaan hina. Takut saat amalku ditimbang dan bumi bersaksi atas s...

TEMENIN AKU YUK!

Image
 Berikut ini LIMA alasan dasar kenapa ikut kajian itu tetap penting buat kamu—iya, kamu —meskipun: cuma bisa datang sekali-sekali , niatnya masih naik turun , dan ilmu agama kamu masih terasa “culun” dibanding yang lain. ---- Ini catatan pribadiku, kamu sih mungkin beda perspektif ya. Tapi boleh dong kamu baca dulu pendapat dan pengalamanku (sok-sok) ikut kajian :) ---- 1. Karena hidayah itu harus dijemput, bukan ditunggu Kadang kita mikir, “Aku belum pantes, masih banyak dosa.” Tapi justru dengan datang ke tempat yang baik, kamu sedang membuka pintu buat hidayah masuk. Bukan soal seberapa alim kamu sekarang, tapi seberapa mau kamu mendekat. Allah itu Maha Menuntun, asal kamu bergerak walau satu langkah. "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim) 2. Lingkungan itu ngaruh banget Kita nggak bisa terus-terusan berharap iman kita stabil kalau lingkungannya isinya cuma hiburan, gosip, dan scroll...

Refleksi: Hidup Di Dunia Ini Sementara

Image
Kadang hidup tuh rasanya berat banget. Masalah datang terus, belum selesai satu, udah disambut yang lain. Sampai-sampai mikir, “Ini kapan selesainya, ya?” Tapi di tengah kepenatan itu, aku selalu coba ingetin diri sendiri: hidup ini cuma sementara. Kita cuma numpang lewat di dunia. Tempat tinggal yang sebenarnya itu nanti, di akhirat. Jadi kalau semua hal kita ukur dari sudut pandang dunia, ya wajar aja kalau terasa sesak. Tapi kalau kita mulai ngelihat hidup ini sebagai bekal buat akhirat, pelan-pelan beban itu jadi lebih ringan. Allah sendiri udah bilang di Al-Qur’an: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6) Dan Rasulullah juga pernah bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim) Kalimat itu dalam banget. Karena kadang yang bikin kita capek bukan masalahnya, tapi ekspektasi kita sendiri. Kita pengen semuanya lancar, sesuai rencana, dan cepat selesai. Padahal bisa jadi, justru di proses ya...

Every wound is a piece of art

Image
Pernahkah kamu melihat kaca yang pecah? Kaca bening yang dulunya utuh, indah, dan transparan—dalam satu benturan saja bisa hancur berkeping-keping. Tapi, tahukah kamu bahwa pecahan kaca itu bukan akhir dari segalanya? Justru, dari pecahan-pecahan kecil itulah bisa lahir sesuatu yang baru—bahkan lebih kuat dan lebih berguna dari bentuk aslinya. Dalam dunia industri daur ulang, kaca yang pecah tidak dibuang begitu saja. Kepingan-kepingannya dikumpulkan, dihancurkan lebih halus, lalu diproses ulang menjadi bahan baku yang bisa menciptakan produk baru seperti ubin kaca, bahan konstruksi yang solid, atau bahkan material yang lebih tahan lama. Kaca yang sudah dipecah itu, karena partikelnya lebih padat dan terkontrol, justru menciptakan struktur yang lebih kuat di bentuk barunya. KACA ITU ADALAH KITA Saat hati kita retak karena kehilangan, saat impian kita hancur karena kenyataan, atau saat rasa sakit seakan meluluhlantakkan jiwa—kita merasa seolah segalanya runtuh. Tapi sebenarnya, momen ...

Romantisme Allah Lewat Azan: Panggilan Mesra dari Langit

Image
Pernah nggak sih, kamu lagi sibuk banget—entah itu kerjaan numpuk, anak-anak ribut, hati lagi nggak karuan—tiba-tiba terdengar suara azan? Dan entah kenapa, dadamu terasa seperti ditarik… pelan, lembut, tapi dalam. Itulah azan. Panggilan mesra dari Allah. Seruan cinta dari langit untuk hati yang sering lelah. Azan itu bukan sekadar tanda waktu salat. Lebih dari itu, ia adalah surat cinta lima kali sehari dari Tuhan yang nggak pernah lelah menunggu kita pulang. Di saat semua hal duniawi membuat kita lupa arah, Allah dengan sabar mengirim azan—mengundang kita kembali ke pangkuan-Nya. “ Hayya ‘ala ash-shalah…” Mari, datang ke shalat. Bukankah itu terdengar seperti, “ Ayo, sini… istirahat dulu. Ceritakan semuanya pada-Ku.”? Dan saat kita dengar: “ Hayya ‘ala al-falah…” Kita diingatkan bahwa kemenangan, kebahagiaan sejati, bukan di notifikasi media sosial atau gaji bulanan. Tapi di sujud yang sunyi, di air mata yang jatuh di sajadah. Bahkan setan pun takut saat azan berkumandang...