The Day I Started My Ph.D

Being in a new place that is not so new; Jogjakarta.

Jogja selalu punya cara aneh untuk menetap di hati.
Bukan dengan gemerlap, bukan dengan ambisi yang teriak-teriak. Tapi pelan. Tenang. Kayak orang yang duduk di pojok ruangan, nggak banyak bicara, tapi begitu kita sadar… dia sudah jadi rumah.

Aku menyimpan Jogja lama. Sejak versi aku yang masih belajar mengenal diri, belajar jatuh dan bangun tanpa banyak saksi. Kota ini seperti jeda panjang dalam hidup —tempat di mana napas bisa ditarik lebih dalam, dan pikiran nggak harus selalu buru-buru. Jogja itu rasa. Bukan cuma koordinat geografis.

& Now I'm coming back.
Bukan sekadar pulang, tapi datang membawa mimpi yang dulu hanya berani diucapkan dalam doa paling sunyi: a doctoral degree. Starting my PhD here feels surreal. A dream come true, truly. Ada momen-momen ketika aku duduk sendiri, membuka buku, lalu berhenti sebentar karena air mata jatuh tanpa aba-aba. Ya Allah, aku sampai di titik ini.

Bukan karena aku paling hebat. Tapi karena hidup, entah bagaimana caranya, mengizinkanku melangkah sejauh ini.

Tapi mimpi, seperti yang sering kita tahu, jarang datang tanpa harga. Konsekuensi itu nyata.
Aku harus membayarnya dengan jarak.
Dengan pagi-pagi tanpa suara anak-anak berebut perhatian.
Dengan malam tanpa obrolan kecil bersama suami sebelum tidur. Dengan rindu yang nggak dramatis, tapi konsisten—menyelinap di sela-sela kesibukan, lalu menetap di dada.

There are days when I feel strong, purposeful, grounded.
Dan ada hari-hari lain ketika aku bertanya pelan: apakah aku egois? Mengejar mimpi pribadi, sementara peran sebagai istri dan ibu harus dijalani dari jauh.

Tapi hidup tidak selalu tentang memilih yang paling nyaman.
Kadang tentang memilih yang paling jujur pada diri sendiri—meski berat dan penuh menyesakkan. Aku percaya, cinta tidak selalu harus hadir dalam jarak 0 kilometer. Kadang cinta justru diuji lewat kepercayaan, lewat sabar yang panjang, lewat doa-doa yang dikirim lintas kota & lintas waktu.

Jogja menjadi saksi dari mimpi yang akhirnya berjalan.
Dan juga saksi dari hati yang harus belajar merelakan kebersamaan untuk sementara.

I'm here to learn.
Tentang ilmu.
Tentang diri sendiri.
Tentang rindu yang tidak membuatku mundur, tapi justru menguatkan langkah.
Because some journeys are not meant to be easy, they are meant to be meaningful.

Comments

Popular posts from this blog

Renungan Transjakarta Sore Ini

Why Making Everything Digital Is Important

Romantisme Allah Lewat Azan: Panggilan Mesra dari Langit