Kisah Lebaran Umar Soghiro

Ada yang berubah dari cara Umar melihat lebaran sejak dia tinggal di Jepang. Dulu, lebaran itu selalu datang dengan sendirinya. Tanpa perlu dipikirkan. Tiba-tiba saja rumah sudah ramai, dapur sudah sibuk, dan suara takbir terasa dekat, hampir seperti memeluk dari segala arah.

Sekarang, lebaran terasa seperti sesuatu yang harus dia cari sendiri. Ini lebaran ketiganya jauh dari rumah. Dan malam ini ia berjanji akan jadi Lebaran terakhirnya jauh dari keluarga.

Umar bangun, duduk sebentar di tepi tempat tidur, mungkin sambil mengingat hari apa ini sebenarnya. Hari raya. Tapi rasanya tidak sepenuhnya seperti hari raya.

Dia tetap bersiap. Memakai baju terbaik yang dia punya di sana. Bukan karena ada yang melihat, tapi karena dia tahu, di rumah, ini hari yang selalu diperlakukan dengan istimewa. Salat eid dia jalani bersama orang-orang yang juga sama-sama jauh dari rumah. Mereka saling tersenyum, saling menyapa, terlihat juga beberapa melakukan video call ceria dengan keluarganya.

Umar hanya tersenyum melihat sekelilingnya. Ia rindu rumah.

Rumahnya bukan yang paling ramai dan populer dikunjungi tetangga. Keluarganya pun bukan yang paling besar atau paling dihormati di neighborhood nya. Istri dan anaknya bukan yang punya ritual khusus di hari raya. Mereka hanya terbiasa melewati Lebaran dengan sederhana; salat eid di masjid dekat rumah, pulang menyantap opor dan ketupat pesanan tetangga, lalu sibuk dengan masing-masing kesukaannya. Tidak ada interaksi, tidak ada kehangatan kata-kata, tidak ada percakapan dalam, dan tidak ada kegiatan extraordinary walau hanya setahun sekali.

Hari itu, ada yang berbeda. Saat semua orang mulai kembali ke tempat masing-masing, Umar juga pulang ke kamarnya. Tidak ada acara makan bersama keluarga. Tidak ada obrolan panjang di ruang tamu. Tidak ada suara televisi yang terlalu keras atau anak-anak yang berlarian tanpa arah. Yang ada hanya sunyi yang tidak benar-benar kosong, tapi juga tidak bisa diisi. 

Lalu, seperti kebiasaan yang mulai terasa penting justru karena jarak, Umar membuka ponselnya.
Video call.

Istrinya mengangkat. Wajahnya biasa saja, seperti hari-hari lain. Tidak ada ekspresi yang terlalu hangat, tidak juga dingin. Di belakangnya, anak lelakinya terlihat sebentar, lalu hilang lagi entah ke mana.
Udah salat?” tanya istrinya.
Udah,” jawab Umar.
Di sana rame?
Lumayan.”

Lalu jeda.

Anaknya muncul lagi di layar, kali ini lebih dekat. “Ayah,” katanya singkat, lalu senyum sebentar sebelum kembali terdistraksi oleh sesuatu di luar kamera.

Tidak ada obrolan panjang. Tidak ada kata-kata yang terlalu dirangkai. Bahkan mungkin kalau didengar orang lain, percakapan itu terasa biasa saja. Hampir tidak ada yang spesial.

Tapi justru itu yang terasa.
Ternyata, yang dirindukan bukan percakapan yang dalam.
Bukan momen besar yang penuh makna. Tapi keberadaan.
Kebiasaan kecil yang dulu terasa lewat begitu saja. Suara orang di rumah. Cara mereka saling ada, tanpa harus selalu bicara banyak. Hal-hal yang dulu mungkin bahkan tidak disadari sebagai sesuatu yang penting.

Sekarang, justru itu yang paling terasa hilang.
Telepon ditutup, dan kamar itu kembali seperti semula.
Sepi.

Tapi di antara semua itu, ada sesuatu yang mulai dipahami pelan-pelan. Bahwa rumah bukan selalu tentang hangatnya suasana. Kadang, rumah hanya tentang siapa yang ada di dalamnya. Dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang diam-diam membentuk rasa itu. Dan mungkin, justru karena tidak selalu hangat itulah, keberadaan mereka jadi terasa begitu berarti ketika jauh.


Hari itu, Umar berjanji pada dirinya; itu adalah lebaran terakhirnya jauh dari keluarganya.

Comments

Popular posts from this blog

Renungan Transjakarta Sore Ini

Romantisme Allah Lewat Azan: Panggilan Mesra dari Langit

Why Making Everything Digital Is Important