How to Start April with Full Adrenaline
Bimbingan kedua, dan kali ini lebih intens karena aku dapet kesempatan present ide proposal disertasiku. BARENG PARA SENIOR. Jujur, aku sempat merasa paling kecil di ruangan itu.
Karena bukan yang pertama present, aku jadi saksi interaksi Prof dan kakak kakak angkatan. Banyak senior yang sudah di semester lima, enam, dan hampir semua bicara dengan struktur yang rapi, data yang jelas, dan arah yang sudah kelihatan matang.
Sementara aku? Baru semester satu. Masih meraba-raba. Bahkan belum sepenuhnya yakin dengan bentuk akhir ideku sendiri. Bahkan kadang masih nanya "gue ngapain sih disini ya Allah"
Waktu giliranku maju, deg-degannya level EDAN! Tapi aku tetap maju. Dengan satu hal yang aku pegang: aku ingin mencoba menyuarakan ide besarku, walaupun aku tahu isinya belum sepenuhnya siap. Dan aku butuh feedback buat terus maju di arah yang bener, so this is my moment.
Yang aku nggak sangka, justru di situ percakapan mulai terbuka.
Bukan dalam bentuk validasi yang manis, tapi dalam bentuk afirmasi, arah, dan dorongan untuk berpikir lebih dalam. Tentang trust. Tentang bagaimana sistem bisa terlihat “tuli”. Tentang apakah itu karena tidak mampu, tidak sengaja, atau justru disengaja.
Di titik itu aku mulai sadar, mungkin di level ini, yang dihargai bukan seberapa lengkap jawaban kita, tapi seberapa jujur kita dalam mencari pertanyaan yang tepat. Dan akhirnya makin jelas kenapa gelar akhirnya disebut Doctor of Philosophy. It's all about how we think and how we shape our thoughts.
Bahkan di akhir, ada momen yang sempat membuatku diam sebentar. "Kalo bisa nggak harus 2 semester dulu ujian candidacy, dia bisa nih saya ajukan ke candicacy". I WAS LIKE WOW! Is this basa-basi? Does a Prof can do basa-basi like this?
BUT.... Ketika kemungkinan untuk melangkah lebih cepat disebutkan, tapi pada saat yang sama aku juga tahu; aku belum perlu terburu-buru. Ini bukan aku banget; nggak buru-buru. Those who know me, know how QUICK I am in many things.... And this time, I'm sucking it deeper than usual. Taking my own time and pace myself down knowing that NOT EVERYTHING IS WORTH THE RUSH.
Dan mungkin itu juga bagian dari belajar.
Bahwa bergerak cepat itu baik, tapi memahami arah itu lebih penting.
Aku masih di awal. Masih banyak yang belum aku pahami.
Tapi setidaknya sekarang aku tahu satu hal: rasa “belum siap” itu bukan tanda untuk mundur, atau takut.
Kadang, itu justru tanda bahwa kita sedang berada di tempat yang tepat untuk bertumbuh.
And let's go to another semester!
Comments
Post a Comment