Surat Thaha dan bisikan ketakutan
Pagi ini aku membuka Al-Qur'an seperti biasa. Tidak sedang mengejar target khatam. Tidak sedang mencari jawaban atas masalah tertentu. Hanya membaca.
Lalu aku sampai pada Surat Thaha. Entah kenapa, pagi ini rasanya berbeda.
Aku tidak sedang membaca kisah yang baru pertama kali kudengar. Justru sebaliknya. Surat Thaha adalah salah satu surat favoritku sejak lama. Di dalamnya ada begitu banyak hikmah yang selalu membuatku kembali lagi: kisah Nabi Musa yang berbicara langsung dengan Allah, doa yang begitu terkenal dan sering diamalkan oleh para public speaker, hingga cerita yang secara historis dikaitkan dengan masuk Islamnya Umar bin Khattab.
Aku sudah membaca kisah-kisah itu berkali-kali.
Tetapi pagi ini, aku tidak sekadar membacanya. Aku merasakannya. Mungkin benar, Al Qur'an berbicara pada siapa yang membacanya. Dan rasanya begitu personal lalu tanpa sadar, air mataku mengalir.
Mungkin karena pikiranku melompat pada kisah lain yang selama ini sering kita dengar: Isra' Mi'raj. Betapa besar amanah ilmu dan pengetahuan yang Allah titipkan kepada manusia.
Aku membayangkan Rasulullah setelah menerima pengalaman luar biasa yang melampaui batas nalar manusia. Kita sering membayangkan para nabi sebagai sosok yang selalu kokoh dan penuh keyakinan. Padahal dalam banyak riwayat, kita justru diperlihatkan sisi manusiawi mereka.
Ada rasa takut. Ada rasa gentar. Ada kesadaran bahwa apa yang mereka terima begitu besar sehingga terasa nyaris mustahil untuk dipikul seorang manusia - walau kemudian Allah selalu menawarkan solusi dan penenangnya.
Aku teringat bagaimana Rasulullah pulang dalam keadaan menggigil setelah menerima wahyu pertama. Bukan karena beliau lemah, tetapi justru karena beliau memahami betapa dahsyat amanah yang sedang diletakkan di pundaknya. Mungkin itu sebabnya Khadijah menjadi sosok yang begitu penting dalam sejarah Islam. Ketika Rasulullah diliputi kegelisahan, Khadijahlah yang pertama kali menguatkan beliau.
Dan pagi ini aku merasa memahami sedikit sekali, really hanya sedikit banget, tentang perasaan itu.
Bukan karena aku memikul wahyu. Tentu tidak. Tetapi karena aku menyadari bahwa setiap pengetahuan juga membawa tanggung jawab. Semakin banyak kita tahu, semakin banyak yang harus dipertanggungjawabkan.
Mungkin itulah mengapa dalam tradisi Islam, ilmu tidak pernah dipandang sekadar sebagai privilese. Ilmu adalah amanah.
Ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa pada hari kiamat, seorang hamba akan ditanya tentang ilmunya: apa yang telah ia lakukan dengan ilmu yang dimilikinya.
Kalimat itu selalu terasa sederhana ketika dibaca. Tetapi pagi ini, kalimat itu terasa berat. Sangat berat.
Mungkin karena selama ini kita sering mengejar pengetahuan sebagai simbol pencapaian. Gelar. Publikasi. Sertifikat. Pengakuan. Padahal dalam perspektif yang lebih spiritual, setiap tambahan pengetahuan juga berarti tambahan tanggung jawab.
Nabi Musa memahami itu ketika beliau merasa tidak cukup fasih untuk menyampaikan risalah. Maka lahirlah doa yang begitu terkenal:
"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku agar mereka mengerti ucapanku"
Menariknya, doa itu bukan doa meminta kepintaran. Bukan pula doa meminta popularitas. Melainkan doa agar mampu menjalankan amanah.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang membuatku menangis pagi ini. Karena di tengah dunia yang begitu sibuk mengejar pengetahuan, prestasi, dan validasi, aku diingatkan kembali bahwa yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita ketahui.
Tetapi apakah hati kita masih cukup lembut untuk menyadari betapa besar amanah dari apa yang kita ketahui.
Pagi ini, Surat Thaha mengingatkanku akan hal itu. Dan untuk alasan yang bahkan sulit kujelaskan dengan kata-kata, aku bersyukur atas air mata yang mengalir pagi ini.
Comments
Post a Comment