Posts

Spring in Beijing: Growing Up, Flying Far, Staying Ourselves

Image
--- May 2026 Traveling with a childhood friend is strange in the best possible way. Because somewhere between airport queues, shared meals, getting lost in subway stations, and debating where to go next, you suddenly realize: this person has witnessed multiple versions of you. Not just the current adult version who books flights and checks Google Maps. But also the awkward teenager version. The school-uniform version. The version of you that existed before the world became this complicated. In my case, that person was Gladys, my friend since SMP and SMA days, and somehow life brought us all the way to Beijing together. And honestly? The trip taught me more about people, adulthood, and peace than I expected. 1. Being “cuek” is an underrated life skill.  One thing I deeply appreciated during this trip: having a relaxed, non-dramatic mindset is incredibly valuable. So many things become lighter when you stop taking every difference personally. We could disagree on destinations, timing...

How to End April with Mindfulness

Image
I have read quite many this week. I attended more classes than I ever have before along my time here. And this weekend I'm stranded in an island called academic-orgasm land. Aku masih half belief that I can be accepted here, I always felt incapable in intellectual environment; modalku cuma: gue penasaran, gue pengen tau.  It's exhilarating.... Aku udah bertahun-tahun nggak berjauhan dari practical world and logical way of thinking. Bahkan di UK aja semua risetku berat ke case case dan aku membedahnya pake teori.  Tapi di level S3 ini aku disuruh mikir kebalik, pahami cara berpikir baru apply ke case atau cari case-nya.. Let alone in UGM, the world knows how UGM is about theoretical stance. I never feel right, I never feel enough with what I know, I always crave more. The more I read papers and books, the more lost I am. Ini rasa yg sama waktu di UK karena bacaan disana rich banget bahkan aku bisa seharian bolak balik rak buku komunikasi psikologi politik (karena di lantai...

How to Start April with Full Adrenaline

Bimbingan kedua, dan kali ini lebih intens karena aku dapet kesempatan present ide proposal disertasiku. BARENG PARA SENIOR . Jujur, aku sempat merasa paling kecil di ruangan itu. Karena bukan yang pertama present, aku jadi saksi interaksi Prof dan kakak kakak angkatan. Banyak senior yang sudah di semester lima, enam, dan hampir semua bicara dengan struktur yang rapi, data yang jelas, dan arah yang sudah kelihatan matang. Sementara aku? Baru semester satu. Masih meraba-raba. Bahkan belum sepenuhnya yakin dengan bentuk akhir ideku sendiri. Bahkan kadang masih nanya "gue ngapain sih disini ya Allah" Waktu giliranku maju, deg-degannya level EDAN! Tapi aku tetap maju. Dengan satu hal yang aku pegang: aku ingin mencoba menyuarakan ide besarku, walaupun aku tahu isinya belum sepenuhnya siap. Dan aku butuh feedback buat terus maju di arah yang bener, so this is my moment. Yang aku nggak sangka, justru di situ percakapan mulai terbuka. Bukan dalam bentuk validasi yang manis, tapi dal...

Kisah Lebaran Umar Soghiro

Image
Ada yang berubah dari cara Umar melihat lebaran sejak dia tinggal di Jepang. Dulu, lebaran itu selalu datang dengan sendirinya. Tanpa perlu dipikirkan. Tiba-tiba saja rumah sudah ramai, dapur sudah sibuk, dan suara takbir terasa dekat, hampir seperti memeluk dari segala arah. Sekarang, lebaran terasa seperti sesuatu yang harus dia cari sendiri. Ini lebaran ketiganya jauh dari rumah. Dan malam ini ia berjanji akan jadi Lebaran terakhirnya jauh dari keluarga. Umar bangun, duduk sebentar di tepi tempat tidur, mungkin sambil mengingat hari apa ini sebenarnya. Hari raya. Tapi rasanya tidak sepenuhnya seperti hari raya. Dia tetap bersiap. Memakai baju terbaik yang dia punya di sana. Bukan karena ada yang melihat, tapi karena dia tahu, di rumah, ini hari yang selalu diperlakukan dengan istimewa. Salat eid dia jalani bersama orang-orang yang juga sama-sama jauh dari rumah. Mereka saling tersenyum, saling menyapa, terlihat juga beberapa melakukan video call ceria dengan keluarganya. Umar hanya ...

Juat Another First Day of My Period

Image
I used to think that strangers were the ones most likely to hurt us. But life keeps proving the opposite: the people closest to us often hold the sharpest edges. Ada beberapa momen kecil yang membuatku berhenti sejenak dan berpikir tentang hubungan manusia —tentang kedekatan, ekspektasi, dan rasa sakit yang kadang datang dari arah yang tidak kita duga. Belakangan ini aku lagi sangat antusias menulis paper. You know the kind of excitement when an idea keeps spinning in your head and you just want to keep working on it. Rewrite. Edit. Rewrite again. Read it again. Fix a paragraph. Delete another one. Repeat. It's a tiring process, really not because I am a mother of three but merely because it can be very stressful even for a chilled person like me. Eventually, setelah beberapa kali revisi, aku memberanikan diri mengirimkan draft itu ke promotorku. Sekalian aku approach juga: would you mind reviewing it and maybe becoming my co-author?  No immediate response. But that part didn’t bot...

Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–Amerika 2026 dan Keresahanku

Transformasi ekonomi digital global telah mengubah hubungan antara perdagangan internasional dan industri komunikasi. Perjanjian perdagangan modern tidak lagi hanya mengatur barang fisik, tetapi juga mencakup sektor digital, data, dan layanan komunikasi. Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 antara Indonesia dan Amerika Serikat mencerminkan tren tersebut dengan memasukkan ketentuan terkait investasi, perdagangan digital, aliran data lintas negara, serta regulasi teknologi komunikasi. Dalam kerangka industri komunikasi, perjanjian ini memiliki implikasi penting terhadap struktur kepemilikan aset, arus investasi, dan dinamika ekosistem media digital di Indonesia. Beberapa ketentuan utama ART mencakup pembukaan investasi asing di sektor seperti broadcasting dan publishing, fasilitasi perdagangan digital dan aliran data lintas negara, serta penghapusan hambatan terhadap layanan digital dari perusahaan Amerika Serikat.   Esai ini menganalisis dampak ART terhadap aset dan investa...

It's raining again in Jogja tonight.

Aku balik lagi ke Jogja. Dan kali ini rasanya nggak sesimpel, “yay kuliah lagi.” It’s heavier. Bukan karena nggak mau. Justru karena mau banget. Because I want this. I chose this. Tapi justru itu yang bikin complicated. Karena sekarang aku bukan cuma “anak yang pergi merantau buat belajar.” Aku ibu. Dan ini yang jarang orang bahas: stabilitas di rumah itu… banyak banget bergantung sama aku. Kayak, when I’m home, everything runs smoother. Makan teratur. Mood lebih stabil. Hal-hal kecil nggak jadi drama besar. Bukan karena aku superwoman. Tapi karena aku ada. Presence matters more than we admit. Jujur ya… ada rasa takut. Takut kalau pas aku pergi, rumah jadi lebih chaos. Takut kalau ada yang nggak ter-handle. Takut kalau ternyata aku terlalu sentral. Dan lebih jujurnya lagi? Ada sedikit (atau banyak!) rasa bersalah. Kayak… “Emang boleh ya gue ninggalin dulu?” Padahal ninggalinnya juga bukan buat main-main. Buat belajar. Buat grow. Buat bangun sesuatu yang lebih besar ke depan. B...

first week wrapped: an angle I can share with you

Image
Minggu pertama PhD ternyata bukan tentang teori. Bukan tentang metodologi. Apalagi tentang kontribusi ilmiah. Ini tentang duduk di ruang kelas, mendengar orang lain berbicara sangat percaya diri, lalu dalam hati bertanya: “ Oke… aku harus summarise dan synthesise berapa artikel malam ini?” Reading list minggu pertama terasa seperti pesan singkat dari semesta: “Selamat datang. Silakan baca 312 halaman sebelum Selasa.” --- Selama ini aku terbiasa jadi yang menjelaskan. Tiba-tiba sekarang aku yang mencatat cepat-cepat supaya tidak terlihat terlalu blank. Skill paling penting dan paling berguna di minggu ini adalah bukan critical thinking, tapi mengangguk and making the face like you get it. YES FAKE IT TIL YOU MAKE IT. And it happens, the impostor syndrome cameo. Ada momen di mana aku merasa semua orang sudah membaca buku yang belum pernah kudengar namanya. Tapi kemudian aku sadar: mungkin mereka juga sedang pura-pura tenang. --- Ternyata yang membuatku bertahan bukan teori si...

The Day I Started My Ph.D

Being in a new place that is not so new; Jogjakarta. Jogja selalu punya cara aneh untuk menetap di hati. Bukan dengan gemerlap, bukan dengan ambisi yang teriak-teriak. Tapi pelan. Tenang. Kayak orang yang duduk di pojok ruangan, nggak banyak bicara, tapi begitu kita sadar… dia sudah jadi rumah. Aku menyimpan Jogja lama. Sejak versi aku yang masih belajar mengenal diri, belajar jatuh dan bangun tanpa banyak saksi. Kota ini seperti jeda panjang dalam hidup —tempat di mana napas bisa ditarik lebih dalam, dan pikiran nggak harus selalu buru-buru. Jogja itu rasa. Bukan cuma koordinat geografis. & Now I'm coming back. Bukan sekadar pulang, tapi datang membawa mimpi yang dulu hanya berani diucapkan dalam doa paling sunyi: a doctoral degree. Starting my PhD here feels surreal. A dream come true, truly. Ada momen-momen ketika aku duduk sendiri, membuka buku, lalu berhenti sebentar karena air mata jatuh tanpa aba-aba. Ya Allah, aku sampai di titik ini. Bukan karena aku paling hebat. Tapi...

The Superstitions You Hate (or Ignore)

Image
As someone who believes in superstitious things, I merely rely myself on my salah. I know, it might sound so dumb to some people; how you rely on a performance of a few meditating rituals, five times a day, reading some sort of spells, and pouring your heart into an absurd thing called 'faith'. I know. But to some others, it's like a safe space almost like an escape. To me, last minute rescue. Let me tell you a story of how one night I was so desperate about things I cannot control in life, and I went to perform my salah. And magically the problems were gone. Ada fase di hidup gue di mana semua pintu rasanya ketutup rapi. Bukan dramatis yang teriak-teriak, tapi jenis putus asa yang sunyi. Yang bikin dada berat, kepala rame, tapi ke orang lain cuma bisa bilang, “gapapa kok.”  Malam itu gue sampai di titik:  Oke. Kayaknya gue udah mentok. I don't think I can do this. There goes my plan Z: I performed tahajjud. Just as an escape route, and hoping that at least I can medit...

just another undeniable thing

Kita sering bangga (dan rightly so) sebagai manusia. We think. We question. We doubt. Kita pakai logika, debat soal etika, ngulik moral, bahkan—let’s be honest—merayakan free mind. Manusia dikasih privilege yang nggak kecil: kebebasan berpikir. Kita boleh setuju, boleh nggak. Boleh patuh, boleh membangkang. Boleh percaya, boleh skeptis. Dan sering kali, kebebasan ini kita anggap sebagai bukti paling valid bahwa manusia itu “merdeka”. But then… there’s this one thing we never get to negotiate with. Gravitasi . Sesederhana itu. Sekaligus serumit itu. Kita boleh denial soal banyak hal—nilai, ideologi, bahkan keberadaan Tuhan. Tapi lompat dari lantai 39? Gravity doesn’t care about your free will. It pulls you. You fall. Period. Tubuh kita tumbuh dengan asumsi ada “atas” dan “bawah”. Tulang kita menguat karena setiap hari menahan berat badan. Darah mengalir, otot bekerja, postur terbentuk, semuanya aligned dengan hukum alam yang sama sekali nggak nanya pendapat kita. No voting. No consent f...

Melamar dan Berefleksi

Acara yang kelihatannya sederhana—duduk manis, senyum sopan, air mata ditahan—ternyata diam-diam jadi panggung refleksi besar tentang peran hidup di tiap fase umur manusia . Hari itu aku nggak cuma nemenin adik bungsu dilamar. Aku lagi nonton hidup. One phase at a time. --- Ada sang kakek. Duduknya tenang. Nggak banyak bicara, tapi semua nunggu suaranya. Kalau beliau angkat alis sedikit aja, satu ruangan langsung hening. Di umur segitu, seseorang nggak lagi dinilai dari pencapaian terbaru, tapi dari track record hidupnya . How you loved. How you survived. How you treated people when nobody was watching. Terus aku mikir: At 80-something, I want to be remembered as who? Orang bijak? Orang baik? Orang yang “nggak gampang tapi pantas didengar”? Karena ternyata, reputasi hidup itu bukan dibangun pas tua. It’s accumulated. Pelan-pelan. Seumur hidup. --- Ada sang ayah. Ah, ini bagian paling sunyi tapi paling riuh di dalam hati. Berat. Bangga. Sedih. Haru. Relief. Loss. Al...

Being in 2026 and letting go the January already

HAPPY NEW YEAR! January is almost over, and somehow I already feel like time is walking faster than my heart can fully follow. 2026 arrived quietly, without fireworks inside me, but with a subtle shift in the air—like standing at the edge of a new road that looks both inviting and unfamiliar.  I am truly excited, but also scared. There’s a new journey unfolding in front of me, and for once, I can’t predict how it will look. No clear map. No perfect plan. Just a direction and a feeling that says, “You have to go anyway.” Excitement comes with that. So does fear. And I’m learning that maybe they are supposed to coexist. I wake up a bit later when I can these days, just to smell my kids longer and to feel their hug deeper. Because this year, I don't really have MANY goals, just a few but BIG ones. So I think it's a far enough reason to keep up with the kids before losing my time with them and owing them so so many milestones in a year time. Maybe. What I’m really preparing this y...

Ngobrol Sama Malam

Malam selalu datang dengan cara yang sama: pelan, diam, tapi menekan. Lampu-lampu menyala, suara mulai mengecil, dan dunia seperti memberi ruang—bukan untuk istirahat, tapi untuk merasa. Aku sering ngobrol sama malam. Bukan karena kesepian ingin ditemani, tapi karena malam satu-satunya waktu di mana aku boleh jujur tanpa harus kuat. Tentang rindu. Rindu yang aneh. Bukan rindu yang bisa dituntaskan dengan pesan singkat, atau pertemuan singkat. Rindu yang bahkan kalau ditanya, “kangen sejauh apa?” aku nggak punya satuan ukur yang pantas. Ada rindu yang harus disimpan. Bukan karena tak ingin, tapi karena tak bisa. Bukan karena tak berani, tapi karena tak ada jalan yang benar untuk menujunya. Malam mendengarkan semuanya tanpa menghakimi. Ia tahu, ada rasa yang kalau dipaksa keluar justru akan merusak banyak hal. Ia paham, bahwa tidak semua rindu perlu dicari ujungnya. Sebagian cukup diakui keberadaannya, lalu dipeluk dalam diam. Kadang aku bertanya ke malam: “Kalau rindu ini aku biarkan sa...

you drive me crazy

It's the early morning gaze from the sun that starts my day bright. It's the kindness of the universe that kicks start my mood. I think earth is actually very forgiving, and it's always accepting.  Meanwhile humans are full of greed, unsatisfaction and insatiable wishes. Humans are made of soil, supposed to be strong but humans are weak. I'm so ashamed of being a human sometimes. I'm so embarrassed with the earth that contains my formula. I'm so undeserving to be present in this world of how much I'm very useless. The earth deserves better.

Holiday Highlight: A Winter Blur Across West Europe

Image
I just came back from a whirlwind trip with my mom—six countries in ten days across West Europe. Yes, you read that right. Six countries . Ten days . Winter. A demanding mother. And a suitcase that felt heavier every morning. Was it exhausting? Absolutely. Would I do it again? …Probably also yes. Cold and quiet Lucerne Travelling in winter is a different flavour of tired. The air bites a little, your fingers go numb while you’re trying to take photos, text your lovers, and strolling around charming European streets suddenly feels like a cardio challenge. But still, there was something magical about it; the cold breath, warm lights, the smell of pollution-free cities, and the constant hum of new places rushing past you. This trip was packed—like, “no nap, no mercy” kind of packed. My mom (being my mom, you know if you know my mom) wanted to see everything , taste everything , and shop everywhere (she really ended up buying EVERYTHING from head to toe) . I swear sometimes I felt like th...

The Cool Crazy Kind of Love

I’ll take pictures of you and save them. I know you’ve never liked it, but I will. You’re so pretty; I really like you and I want to capture you. There is no ugly picture when you’re in it. You’ve never shown affection in public, but I’ll take you somewhere warm — the kind of place that feels like sunlight and soft laughter, where you can finally feel safe being loved out loud. I’ll make sure you feel it, unconditionally.  I’ll serve you coffee, maybe tea, even though you always insist on pouring your own. But I want to show devotion, because you’re worth serving.  I’ll be as vulnerable as I can, so you’ll have space to help me, so maybe you’ll feel needed again, after years of learning to survive alone. I’ll let myself depend on you a little, just enough for you to remember what it feels like to be essential.  I’ll read what you read, so you never feel alone in your thoughts. But I’ll still argue with you about books, about the latest news, about everything that matters....

it's okay to be sad and vulnerable (2)

I just had to add number 2 at the end of this title, because I feel like this is a re-reflective writing. Talked to shrink yesterday, just brief talk of me breaking down what I've been lately, and she said: 1. Why do you have to always be so rational and put things into logical order? 2. When was the last time you feel sad? And express your sadness? 3. Do you punch back when someone punches you? 4. What is your realest coping mechanism other than being in denial at most of the times? I said, "I don't see the point of making stuff harder and more complicated........." Then she cut me : " You always say 'I don't', you always negate everything that goes against your favour, and that makes you even more distant to the question you have been asking " At the end of an hour session, I came to a conclusion: I deny pain, I let things slide too often that there has never been a clear solution. Only escape after escape. Only postponed problems. Only endless...

The Day My Room Smells Pandan

I truly believe it was a piss of a racoon. Or a little fox's at least. It smells weirdly good. It's completely weird when you like something so disgusting because it smells good. To find beauty in what’s repulsive, to let one sense reign while the others wait in silence. Remember, smelling is not the only sense in you. There are other senses, the ones you have ignored while you maxed yourself in your smelling sense. So after that smell gone. Let's go back to the rest but the smelling, even if it means turning your smelling sense off for a while. It's good for you. You've been on the wrong way of defining what is good for you. I think you even deceived yourself about what is good for you, that's bad. So here's a new direction. Get over some senses for a while and focus on the others. You will recover, and everything will be fine again. Redirecting is not a bad thing, even at some point it is necessary. Let's go.

tentang jeda dan rasa rindu yang terjaga

Kita terbiasa berpikir bahwa rindu muncul karena kehilangan. Tapi ternyata, rindu juga bisa tumbuh dari kehadiran yang sengaja dijauhkan. Bukan karena tak ingin dekat, melainkan karena tahu; kedekatan tanpa jeda bisa kehilangan makna. Dalam jeda, ada waktu untuk mengingat tanpa tergesa. Ada ruang untuk bertanya pada diri sendiri: apakah yang kita rasakan masih sama, atau justru tumbuh dalam diamnya? Rasa rindu yang terjaga bukanlah perasaan yang menyiksa, melainkan tanda bahwa sesuatu masih hidup di dalam diri — meski tak lagi dipegang erat. Ia seperti cahaya kecil di sudut hati, yang tak padam meski malam datang panjang. Mungkin memang begitulah cinta yang matang: Ia tahu kapan harus mendekat, dan kapan harus menjaga jarak. Bukan untuk menjauh, tapi untuk menjaga agar rasa tetap bernapas. Dan di antara jeda itu, rindu menjadi lebih jernih. Bukan tentang ingin memiliki, tapi tentang menghargai — bahwa kehadiran tidak harus selalu dekat, untuk tetap terasa. And if you miss me, this post...