Lately

Thursday, 18 August 2016

Aku sedang hobi memandangi langit malam hari. Menurutku, tenang dan menenangkan. Bukan karena siang hariku bosan atau melelahkan, hanya saja langit malam selalu memberiku ketenangan belakangan ini.

Ya, belakangan ini.
Gelapnya langit malam tidak lagi membuatku takut, namun lebih tenang. Mungkin akibat gumpalan awan yang sesekali datang, atau akibat taburan bintang yang sesekali tertampakkan.

Malam ini, langit bicara padaku. Ia bicara bahasa kalbu, aku pikir sulit memahaminya, ternyata hanya butuh beberapa bait lagu dan beberapa patah kata untuk bertutur dengannya. Sebenarnya aku tidak yakin dia paham dengan ucapanku, tapi dari lengkungan bulan yang mengisinya, sepertinya langit mengerti.

Aku sampaikan pada langit bahwa kisah kitab suci yang kubagi dengannya itu nyata. Mungkin butuh kesabaran seluas dirinya untuk percaya, atau sekedar menjadi terbiasa. Mungkin butuh waktu sepanjang dirinya digabung siangnya untuk memberi makna, buat setiap ungkapan yang aku wariskan padanya.

Ya, hanya ungkapan yang dapat aku wariskan. Mungkin selebihnya dia akan bertahan sendiri, dengan gelap, dengan terang, dengan sahabatnya bulan dan bintang, samapun dengan awan dan hujan di siangnya.

Dia, langit terindah, terkuat, tertenang dan terbijaksana di sepanjang malamku terjaga.
Dia, langit tertinggi, terindah, terberani dan terbaik di sepanjang siangku berusaha.
Langit, kamu begitu cantik malam ini.