Catatan Akhir Tahun

Thursday, 27 December 2012

Setelah me-review Catatan Akhir dua Tahun lalu, saya jadi bengong sekaligus semangat. I don't know what to write but thanks to Gregorian almanac for giving me a line to start; months.


JANUARI
New Year's in Scotland!!! Anyone must have been very very jealous of an international girl like me. I spent great time in Edinburgh and Glasgow with amazing Indonesian friends who studied with me in Leeds. Kami nyewa 7 seater car untuk 8 people, dan ended up struggling selama 3 hari di Skotlandia. God bless Reyhan yang hampir menjebak kami di speed camera waktu dia ngebut di jalan tol; untung nggak ada apa-apa. Selebihnya, saya nggak banyak ngapa-ngapain bulan ini kecuali mulai semester dua Masters saya, dan tetep olahraga, main salju sama temen-temen Indonesia, dan mulai mencoba mewujudkan beberapa resolusi saya.


FEBRUARI
Bulan yang katanya penuh cinta ini nggak se-lovely itu, saya punya banyak tugas dan disertasi sudah siap menyergap saya di depan mata. Ini dia awal dari langkah-langkah akhir untuk titel S2, saya mulai fokus di perpus dan merangkai disertasi saya. Tugas saya jadi School Rep juga semakin berat, meetings dan forums terus saya hadiri, well, I was really really busy but I really really enjoy it! Not because I got paid, but because I had the chance to meet many new people. Apalagi saya juga masih menjabat jadi HUMAS di PPI Leeds, maka urusan publishing dan publication masih jadi makanan sehari-hari buat saya. I think the only entertainment I could remember was Sherlock on BBC, and Big Bang Theory too.



MARET
EURO TRIP sungguh menggoda mata!!! Gonggom dan saya merencanakan liburan Spring Summer setelah masing-masing kami menargetkan selesai proposal disertasi tepat waktu di bulan Juni. Yep! Always too advance for me, dan bener kan, aplikasi visa kami butuh persiapan panjang meskipun proses issuing visa schengen only took like a week. Kami bikin itinerary, SALAH BELI TIKET dan booking sana-sini guna menghemat budget dan tetap fun. Yah, waktu itu sih fokus saya tetep ke tugas kuliah dan kerjaan. Yep, seperti tahun tahun sekolah sebelumnya, kopi selalu jadi pasangan saya yang setia. What was so special this month? I GOT ACCEPTED TO WORK FOR THE OLYMPICS!!! Yup! Event-nya masih tengah tahun tapi rekrutmennya dimulai bulan Maret! So excited!


APRIL.
Brother's graduation!!! Akhirnya setelah lima tahun lebih sedikit adik pertama saya mengenyam pendidikan S1, dapatlah ia titel sarjana ekonomi dari kampus swasta paling bergengsi di bidang bisnis dan informatika jakarta utara. Well bro, I am always a proud sister. Ini merupakan wisuda pertama di tahun 2012 yang dihadiri orang tua saya, they're gonna have THREE this year! I was so excited untuk cepet lulus juga dan menghadiahkan ijazah buat Papa-Mama! Realitanya kembali menarik saya pada tugas tugas kuliah yang semakin menantang dan menggoda. Oh I always love being a student, I don't wanna stop. 

By the way, bulan April ini pertama kali saya menginjakkan kaki di London, haha, selama setengah tahun lebih di UK, baru sekali ini ke London, it was fun!


MEI
Disertasi dan tugas saling mengadu pacu ingin memenangkan perhatian saya, dua-duanya menang. Setelah proposal disertasi diterima, renovasi sana-sini dan cari bala bantuan untuk supply data, alhamdulillah, lancar semuanya dari tugas sampe bab-bab awal disertasi. Aplikasi visa juga mulai disiapkan semuanya, berharap Italia bisa memberikan kemudahan untuk saya liburan.

GUESS WHAT? It's another good news from Indonesia. Adik bungsu saya keterima di PSIKOLOGI UI!! I was totally psyched by what he's achieved. Saya selalu tau, bahwa dia yang paling bright di antara kami bertiga, dari kecil sekolah dan makanannya berkualitas sehingga nggak heran kalo otak dia bekerja lebih fantastic dari kakak-kakaknya. Dia bahkan belum dinyatakan lulus SMA dari udah keterima di Universitas negeri impian saya. He wins everything! Di akhir bulan yang sama, dia wisuda. YES! THE SECOND GRADUATION MY PARENTS GOT TO ATTEND! And again, I am a proud sister!


JUNI
This month! Bulan ter-hectic dan terseru sepanjang taun (so far by that time) karena ada Indofest, dimana Leeds jadi juara volley competition di Indofest 2012, dan saya ikut andil di dalamnya! Yeah man, I live for sports! AND EUROTRIP TOO!!! Summer di Inggris nggak pernah se-summer itu! Maka saya dan Gonggom, serta visa kami melancong ke Italia dan Spanyol. Dua minggu yang menyenangkan, melelahkan dan menghabiskan banyak uang (ternyata). Well it was worth the fun, dan saya jadi belajar banyak hal tentang travelling.

EITHS!!! jangan khawatir, disertasi saya udah setengah jalan, tentu saja karena di bulan bulan sebelumnya saya membangun pos kamling di perpustakaan dan menenggak puluhan kaleng Redbull untuk menjaga vitalitas dan semangat bekerja! HAHAHA!



JULI
Diawali dengan PARIS TRIP SELAMA TIGA HARI!! Gonggom sakit waktu itu, dan karena tiket sudah dibooking, alhasil kami memaksakan pergi! Nggak maksimal banget perginya, excuse buat saya pergi ke Paris lagi, suatu hari, sama pacar! WAJIB! Yeah, obsesi! Lagipula di bulan Juli ini saya udah harus tuntaskan disertasi karena training untuk job Olympics juga lumayan menguras waktu dan tenaga. Saya harus bolak-balik Birmingham-Leeds untuk training food safety, dan lumayan, sertifikatnya menambah kualifikasi skill dan ability saya sebagai anak rantau di bidang hospitality dan serving food, serta catering. HOW MULTI-TALENTED AM I, BITHCEESS!!

Bulan Ramadhan pertama di Inggris, waktu puasa yang lama dan kerjaan yang padat setiap harinya. What a life experience. Kayaknya harus saya ralat bahwa bulan sebelumnya yang paling fun! Setiap bulan di tahun ini adalah fun dalam versinya masing-masing. Dan puasa tahun ini, berkesan banget!


AGUSTUS
THE REAL OLYMPICS DEAL FOR ME!!! Bersusah payah mencari kejelasan tentang shift kerja di London, sendirian, cari akomodasi dan nyasar sana-sini. Bener-bener pengalaman yang nggak akan saya lupakan. Bayarannya sih lumayan, bisa buat hura-hura selama sebulan dan kemudian pengalamannya sangat berkesan, sampe kapan-kapan. Olympics was awesome! Dan saya selalu bangga pernah menjadi bagian darinya. Enggak semua orang kan bisa kerja di event olaharaga terbesar sedunia ini tiap empat tahun sekali? So I was blessed, mungkin ganjaran karena menyelesaikan disertasi dengan akselerasi maksimum dan hasil yang lumayan (yeah, nggak bagus, cuma nggak jelek juga).

Idul Fitri pertama nggak bareng keluarga. A good decision that I did a hometown trip last year before I went here. Telponan sama ortu dari rumah kontrakan baru di Leeds nggak bisa menggantikan nikmatnya kumpul sama keluarga. Yeah, it's just another month to go for me to be here. Tinggal selesaikan beberapa urusan organisasi dan ada event besar PPI Leeds bulan Septembernya, then BOOM!! I'll be home in no time!


SEPTEMBER
I decided to go home at the end of this month. Bulan kesukaan saya ini emang saya spare untuk banyak hal; travelling around the UK, fokus sama organisasi dan tetep berolah raga. Setelah berkutat tentang tanggal pulang sama orang tua dan saldo di rekening bank, baru saya bisa fokus lagi ke PPI Leeds. I spent three days in Newcastle and it was really exhilarating. Sampe di suatu weekend, dimana saya bertugas jadi MC di seminar perdana PPI Leeds. I finally met Arief, I finally said bye to Gonggom and I firstly met Abel. Yep! That guy! He's been secretly, weirdly, amazingly stole my attention.

Saya pikir saya akan berjodoh sama housemate-nya Abel, eh ternyata Abel melancarkan aksi naturalnya dalam membuat saya naksir dia duluan. Too bad we only got a month to know each other, lumayan sih quality banget sebelum saya balik ke tanah air. Dari beberapa social events kami, ulang tahun, house warming, farewell, I think there were several seconds he got my attention, but then I expected nothing. Kayaknya waktu itu luka dari relationship sebelumnya belum begitu beres, so why bother?




That moment, 30th of September was the first time I regret my bought ticket back to Indonesia, I really wish I could spend longer time in Leeds and get to know Abel a bit well. But it's okay, God has written us another path, the more beautiful one, at least I believed so.



OKTOBER
What is it? HOME!!! I feel like I belong here, always! I spent hours, days and weeks in my bedroom, unpacking and keeping in touch with Abel. Yes. We have had that chemistry you guys have always defined as 'falling in love'. I was reluctant too, selain nggak suka LDR, rasanya luka lama untuk relationship belum bener-bener reda. Not that I blamed anyone,  nor the distance, it was just not yet the time. Well, I think Abel is smart, attractive, talk-able, random and absurd, just like me. I liked him. No, wait, I have fallen for him ever since. I was reminiscing our times together in Leeds; the afternoon jog, the movie date, the dinner, the walk and the talk, and yes, I have fallen for him.

He confessed, no, let's say WE confess that we were attracted to each other. It was funny, because both of us are absurd, dan anehnya, kami suka keanehan kami masing-masing. He is completely interesting and all I could do in October was to drag my parents to attend my graduation on December, AND FOR MYSELF TO MEET HIM AGAIN. Just to make sure that we had the right chemical in our both head and heart.


NOVEMBER
Yes, I clearly have fallen deeper for Abel. We had this connection and I felt very comfortable to tell him ANYTHING, EVERYTHING, and he cares too. I thought he was just being nice, but a jerk must have been struggling very hard to act annoying AND interesting at the same time for quite a time. Secara de facto, kami seperti pacaran. Seacara de jure.... well, we agreed to see where this thing could go when we meet in December. Saya inget visa Mama-Papa belum juga issued padahal udah minggu ke-tiga Setelah di-solat hajat-in sekali, akhirnya release juga! See? God gives what we ask.


Sempet sibuk travelling di minggu-minggu terakhir bulan November, it was a bit tiring, but I love travelling a lot. I wish to do it again some time near in the future!



DESEMBER
"kok ada sih orang kayak kamu?" was the most frequently asked question between saya dan Abel. We constantly asked that question when we're FINALLY IN AN OFFICIAL RELATIONSHIP!!! He made my month.





Meskipun kami cuma nghabisin dua minggu, Abel udah berhasil mencuri hati orang tua saya, teman-teman saya, dan tentu saja alam sadar dan bawah sadar saya. I consecutively dreamt of him since October up until the days we were together in England! He is ultimately amazing, compassionate, loving, faithful, gentle, sensitive, caring and intelligent. I'm gonna make a separate part to write about him. Intinya, Desember ini, ceria. Saya lulus S2 dan punya pacar yang luar biasa. I badly want our relationship to work. I secretly want his name to appear again as my boyfriend by the time I write the next catatan akhir tahun. We'll see.




So see you in another Catatan Akhir Tahun






Surat Terbuka Untuk Afi.

Wednesday, 26 December 2012

Cecil meninggal hari ini karena kanker lidah, tapi justru my attention went to my dearest friend, Afi.




Dear Afi,


Pertama kali kita kenalan, di kampus A LSPR, Jane yang ngenalin kita. You were with your baju jawa and eccentric appearance, dari dulu gue tau kalo elo seniman. I was right, beberapa waktu kemudian, gue liat hasil karyalo baik visual maupun audio. You were attractive, considering how I define "attractive" guys.

Kita nggak ngobrol banyak, nggak pernah sekelas, dan bahkan jarang banget ketemu. Waktu gue sapa lo sebelum lo perform gak-tau-apa-temanya tapi itu buat charity event LSPR di Ritz Carlton atau Sahid, gue lupa. You were fucking awesome with gue-lupa-nama-alat-musik-yang-lo-bawa waktu itu. Gue juga lupa gimana, tau-tau gue bawain alat musik itu di mobil gue, kayaknya gara-gara adimas minta tolong atau gimana.


Semester sekian kuliah, kita baru sering ketemu di smoking area kampus B. I remember you were with your cigarettes and Bea all over you as a beloved girlfriend that time. Gue baru bilang sama Babang dan Nandha dan Dhita bahwa gue tertarik sama elo. None of them suggesting I should go ahead, as they know you were madly in love with Bea. Terus dari situ, gue tau lagi, bahwa elo adalah tipikal cowok setia yang loving dan susah move on. You give full faith to relationship and you work hard for it to happen. Impressive.


Gak lama itu, bertepatan kita mulai skripsi, elo udah nggak sama Bea dan terlihat sedang berusaha move on. Kita sering ketemu di perpus dan kebetulan waktu itu gue lagi bantuin skripsi temen-temen yg lain, dan gue udah jadian sama Adimas. Right the day after I firstly met your wonderful mom. I helped you out a bit di skripsi sih, kayaknya gue inget lo nulis nama gue di lembar acknowledgement. Hahhaha.


One day, gue anter something buat Ibu. Kayaknya oleh-oleh dari umroh, tapi pas di rumah ga ada orang. The day after Ibu ngasih gue lasagna buatannya. Terus gue ngobrol sama Ibu, obrolan yang sampe kapanpun kayaknya gue gak akan lupa, dan gak akan cerita sama elo. Hehehe. I'll keep it to myself dan to be honest, sejak kita sempet pulang bareng, I think you're worth the wait. Tapi ya gue gak nyesel juga melewatkanlo dan end up sama Adimas. It was one of the path God has made us. Gue mikir, yaudahlah, temen kayak Afi worth the keep; yang ada kalo gue pacarin dia lalu putus, gue kehilangan juga silaturahmi sama Ibu yang baik banget waktu itu.


Gue akhirnya ke Leeds, elo masih dateng ke farewell gue meskipun baru pulang kerja. See? I knew you're a good friend! Gue masih sama Dimas waktu itu, perasaan care gue nggak berubah sama lo. Cuma kayaknya gue ngerasa lo jaga jarak sejak gue jadian sama Dimas dan gue kasih kacamata ke elo. I swear I hated your glasses that's why I bought you a new pair! Ha ha ha.


A year after, I found out you were dating this Ratri girl, and she looked fine. Gue kebetulan sering liat postingan twitter dan instagramlo soal anything, dari mulai random things, ngata2in orang dan tentu saja, how special Ratri was to you. I was so happy for you. Sampe suatu hari di Inggris sana, gue denger dari Gyanda bahwa lo kena serangan jantung.


I was shocked, gue tanya sana-sini untuk confirm dan alhamdulillah kita punya geng keren di Jakarta yang arrange buat konser charity untuk operasilo. I missed that concert but I'm glad it helped you out a bit.


Anyway, it was a huge relieve that gue akhirnya for good ke Indonesia dan bisa jenguk elo di RS Harapan Kita, dan bawain stupid requestlo! hahahaha! Mungkin bener Tuhan nulisin juga gitu supaya gue bisa ketemu elo, dan ngobrol lagi sama Ibu; obrolan yang gue bilang mau gue ceritain, tapi kayaknya sekarang akan gue simpen sendiri tanpa elo tau.


But then, another tragedy of your life happened to be heard by me; how terrible Ratri turned out to be. Gue masih kesel sekaligus salut sama lo. God must have given you the strongest heart, literally and psychologically. Lo kena koroner, lo survived dan lo masih bisa memaafkan. It's just amazing.


In conclusion, Fi, you're a big guy. Gue nggak pernah nyesel naksir dan melewatkan elo. Turned out memang kita bisa temenan baik and I feel grateful about it. I remembered your Ar Rahman voice note and I do really hope you live a healthy, wealthy, and prosperity life for long. Lo inget gak lo bilang mau jadi fotografer pre-wed gue! Janji lu yey! :)


I remembered how loyal you are to a friend, and open minded about many things. I remembered your courage for me to apply for an impossible job, and I remembered your passion to achieve many things better. I remembered how enthusiastic you were about my current love life as if you wanted it to work too. You're like one of my coolest friends, only you're strong too. And I'm grateful to have a chance to meet you in my life.


See you around, Puy!


Phele.

What Happened in Leeds, probably move along (part two)

Friday, 21 December 2012

Yep!
less than 24 hours.


Nicky Australiano Laksamana. He's the kid! He told me a lot about something, and I treasure living with him in that transition time, and I think he is smart too. He helped me once lifting the stupid drawer and it hurt him I guess, makasih ya dek Nicky! Keep playing sports and I hope the business (and the love story) go (es) well.



Wahyu Tamtomo Adi. Rocket scientist, inspiring, patient and loving. Melankolis kesukaan gue ya bang Tama ini. He has this open mid about many things, but still on-hold of many strong principles. I think I wrote one or two about him in my tumblr, yet I don't think he cares. I don't care either whether he cares or not. I just adore him. He's smart and I don't have to wait for one day to be his fan.



Boya Subhono. He is taken! He's one hell kind of an engineer who can be really really fun as if he's a social person! He is wise and he once told me what kind of guy to be loved and what kind of to be left. I love his wife, though, Ara was beautiful and sweet too. She's a kid, but they look really nice together. Mas Boya is one of those old people you can always run to when you wanna talk about anything. I crave talking quality with him.



Andyka Kusuma. I met this wise quiet man in an organisation and he is organised as well. Being soooo kind and smart, turned out he has this broad network with me and connects me with anyone, randomly in this world. I wish him the very successful study, career and family with his lovely Lola in Leeds, and in wherever they might end up in the next few years.



Masitoh Indriani. We should have been friends since a long time ago! I felt really close to her one second before I went home! Now I want to update the progress of her story and mine too!! I miss her however!




Will there be any third part? Umm, we'll see.

What happened in Leeds, probably move along.

Thursday, 20 December 2012

Silvia Caroline, is always, the only first name that I'd like to recall. A flatmate, housemate, cooking mate, and she's funny. Kalo ada yang bilang bahwa berteman itu ada jodoh ya, then gue percaya bahwa Tuhan menggariskan pertemanan kami dengan sangat indah -di Leeds padahal di S1 kami sekampus, tapi enggak pernah kenal dan ketemu. She's the one I'm gonna miss the most.


Andina Rahmaniyah Syafruddin (gosh I hope I spell her last name correctly) was the only female that I'd like to marry if I live another life as a male. She cooks and persistence in what she's doing. It's like she's into anything fun and she means it. Kangen kue kue dan coto andin! Kangen begosiip sama Andin!


Lintang Indah Juwita. She's the galau-est and the strongest lover I've ever met. Tau gitu dari dulu gue temenan sama dia waktu kami satu SMA, sayang dulu kakak kelas gue sih dia. She takes care of her friends very well and I like talking to her, abiut anyhing, any girl things. I miss her drunk text and call, it was silly but that's what makes who she is.



Davin Aldrich Odang is the purest wildest kindest nicest humN in Leeds! Dia doang yang bilang gue fair, kayak jakarta. Dan quotes ter-fair dia tentang gue adalah "novel itu, suara, muka sama bahasa inggrisnya bagus..tapi sayang nggak punya pacar" kampret! I rarely see him sad, but I think when he is, it must be his lowest point in his life. He's got a good life now, I miss eatin his food.


Gonggomtua Eskanto Sitanggang. I think he is jinius for real, yeah "jinius" as my mom said. We spent quite much time (and money) durin our year in Leeds. Some even thought we were dating, but we were not, we will never. He's just one good listener and the most rational and logical man I've known. He survived his crazy MSTT UGM path I guess, semoga lah ya Bang!




Reyhan Yuanza Pohan. I used to had a crush on him, until one day I know how dumb (but naive) he is! Hahahah, now I cannot describe anything about him, I just wanna say "nyet! Move on, get up! Execute your fucking contingency plans! Hahaha!"




Marcelo Blumenfeld Mendoca. Naah, he's not gonna find this post out, never will; he's too busy doing impressive and significant things. I love him, a lot! He's the best, crankiest, moodiest, nicest and caring housemate ever!!! He's got the best and prettiest mom of all, I really really hope he will come to Jakarta so I could drive him around Jakarta and its craziness. Hahahaha. I'm glad he loves my batik.




Xun Lin aka Liz is another best housemate. She's the one and only person that I'm gonna meet when I come to China. She always bothered to ask what to bring home from her work as she was working in Chinese resto. I miss her! She's brilliant and I can be very silly in front of her.





Ah, there will be a second part.. Not now, but I will.

Reds keep marching on.

Saturday, 15 December 2012

I couldn't believe I watched the match again! This time together with Dad and boyfriend. I nearly couldn't feel the cold as the heat of the audiences was so warm.

Manchester United has always been my favourite since I was in the 6th grade, and now I'm so blessed to have the chance to watch them play, LIVE, IN OLD TRAFFORD. Other reds might be so jealous of me now.


It was just perfect that my Dad, who's been a little bit bored, got entertained and felt the England experience after London. PLUS, boyfriend was so kind and gentle with us. United won and the trip was so smooth until we got home. I totally look forward to another live match, soon.



Later!



Desember, lagi.

Wednesday, 5 December 2012

I am so gonna write so much this month. Udah akhir tahun lagi, anoter Catatan Akhir Tahun pasti jadi most waited dan most wanted yaa sama reader dan stalker gue. Hehehe.




Nope, not today, gue bia beberes barang dulu ya buat wisuda ke UK. What an achievement, beberapa minggu belakangan gue sibuk banget dan otak kayak drained serta hati kayak exhausted. Hahaha.


Anyway, I'll be flying Qatar Airways to Doha then to Manchester buat wisuda. Bonus miles gue kali ini far more special than any maskapai can even give; abel!


Kalo kami dulu sempet jadian, mungkin ini LDR terlama gue tanpa adegan diputusin lewat text message karena.... Yeah, one if those things, not event worth writing here.



Sabar yaa catatan akhir tahunnya, insya Allah sebelum taun baru lah ya gue publish! Have an amazing race!!

Mereka dan mimpi saya.

Thursday, 29 November 2012

Tentang Afi.
Sekitar taun 2009 awal, gue tiga kali mimpiin Afi. Ketiganya adalah kami solat berjamaah sekeluarga Afi dan keluarga gue di rumah gue. Selesai solat, keluarga kami sejenis ada tausiyah. Disitu gue liat ibunya Afi duduk di sebelah gue, nunduk serius dengerin tausiyah dari Afi.


Gue nggak pernah sempet cerita soal mimpi ini ke Afi; either gue terlanjur jadian sama Adimas, or terlanjur Afi jadian sama cewek lain. Not to mention bahwa gue pernah deket sama Afi, atau ibunya pernah ngobrol sesuatu yang bikin gue berasumsi lain, tapi kali ini Afi tervonis sakit jantung koroner, dan cuma Allah yang tau akan gimana jalan hidupnya. Kisah hidup afi belakangan ini lagi nengharukan, bikin kesel tapi gue rasa Afi lagi ambil the best step of recovery; mendekatkan diri sama penciptanya.


Gue pernah bilang sama Afi kalo gue mau mas kawin gue nanti adalah suami yang hafal surat ar-rahman dan melafalkannya di akad nikah gue. Gue cuma mau bilang, sebelum gue lupa sama hal ini, "Puy, gue utang cerita waktu gue ngobrol sama ibu di harapan kita waktu gue jenguk elo kemarin. Kapan-kapan gue cerita ya! Makanya elo cepet sehat!"




Tentang Reyhan.
Selama di Leeds, taun 2011, gue tiga kali berturut-turut mimpiin Reyhan. To be honest, gue nggak inget jelas keseluruhan mimpinya, tapi yang gue inget, kami makan sandwich berdua di bangku taman, trus diem aja berdua sambil makan. Gue liat Reyhan nangis, tapi gue gak nanya kenapa, dan Reyhan gak cerita kenapa. Kami beneran cuma makan tanpa ngobrol.


Selang beberapa bulan kemudian, gue baru tau kisruh percintaan di hati dan hidup Reyhan. Gue nggak tau persis detailnya, tapi dari cerita Reyhan, I wish I told him my dreams earlier. Gue juga nggak tau apa korelasi mimpi-mimpi gue sama kisah Reyhan, yang jelas gue sensing something wrong going on with him, and I guess there was.


Gue cuma mau bilang "man, some people may take longer to recover than the others. Literally, to move on is a choice, not a force, neither a given situation. And as I told earlier in my tumblr; it does not matter if something that you believed in is proven wrong, at least you get used to hold on to it, faithfully. I wish you the very sweet luck with all your endeavour, with anyone, with anything."




Tentang Abel.
This man has been invading my life, my dreams, and my feelings. If it's not because of my God, I would have probably died for him. Alhamdulillah gue masih waras dan masih dikasih hidayah sama Allah biar nggak terlalu fall for this guy too much, he's unbelievably amazing for f**k's sake! Trust me, gue keras banget mencoba untuk nggak jatuh cinta berlebihan sama satu makhluk paling spesial yang pernah gue temuin ini beserta fitur-fitur tambahannya, gue belum berhasil, dan kalo akhirnya gue gagal, gue tetep akan bersyukur.



How long has he been in my dreams? 59 nights. Di dalem setiap mimpi gue, berdasarkan apa yang pernah gue alami sama kedua sahabat gue di atas, gue berharap mimpi gue tentang Abel adalah hal yang feasible, real, menantang untuk dibuktikan, dan menjadi sarana buat gue semakin percaya kalo gue bisa dan boleh bermimpi. Se-vain apapun itu; lari barefoot di pantai, arguing on the rooftop, playing quadruple sports, deciding what to eat and life philosophy, anything, pokoknya setiap mimpi itu, terekam jelas kalo enggak di sel-sel otak gue, ada di alam bawah sadar gue.





Unlike most people who forget their dream the second they're awake, my dreams get me shattered, shivered, wondering, even crying for things that I can't never explain.

Dan sebaik-baiknya penolong adalah Allah, yang kuasanya menjaga segala yang ada di dalam hati. Allah, yang kebesarannya mengetahui semua yang tersimpan dalam perasaan, tercekat ditenggorokan dan terucap di lisan. Dia, yang senantiasa terjaga dan menjaga.






Later that night.

Tuesday, 20 November 2012

God, who the fuck is this man that you've sent me? He's amazing, so adorable that I almost believed you'd send me to hell after this fading nirvana.


I almost failed to believe that you're real, that's why people say "reality bites". But hey, look at this! The only reality that bites is that one day I'm sure of letting the beauty go and survive with what's left.



God, who the fuck is this man you've sent me? I'm powerless towards your mercy and I never made any point upon myself of what good deeds that I did in the past could grant me this bless.



If this is another test, I gotta be honest God, this is terribly hard. I'm awaken in a very strange emotions that no dictionaries can describe, no fortune teller can guess, no language can translate, and no nerves can respond. This is strange, beautifully strange.

Something is wrong with my mind map.

Wednesday, 14 November 2012

This post will probably be a joking material for psychology students and researchers. Hell yeah! It is another parenting post. About how a couple act as parents and affect their children's behaviour in treating them. Let me draw 3 main aspects to be analysed here; respect, interactiveness and ... Let's skip number three until i finish a few more paragraphs.


1. Respect
I firstly wondered what if my parents bred me in a serious and strict way. They have been very fun, loving and in-educative to me and my siblings. They reflect their friendliness yet authoritarian style of parenting that made me (i can't have a say for my brothers) feel like they are my bossy friends. Yes, friends but bossy.

Not to mention how grateful I am raised by them, but I think their background affects the way they treat kids; they were fighters and they would always do anything to make their living better. Considering as our economy aspect grew quite stable, my littlest brother, compared to me, came up quite more relaxed in terms of financial situation, hence or parents didn't make a big deal out of how much we spend to live this life. Again, this answers why me and my littlest brother have different perspective in seeing and using an asking for money.

Anyway, in summary, respect was built from the way parents present and represent themselves in front of their children. Once you're a friendly person, they will 'buddy' you and you gotta balance this in by drawing a clear line whether one second you guys are friends, and another second you are their older ancestor whom respect should be paid. Not funny, huh, poked by your son while you're preaching about how doors should always be locked by the last person who comes home? Respect your spouse, too, hence your kids know how to respect their other parent. Don't fight in front of your kids, stay mature and loving, at least show them that you are. Make them see what you want them to see from you. Be always aware of it.





2. Interactiveness
This is closely related to respect, however, i was meaning to focus on how kids treat their parents and vice versa.


It is very very wise for parents to set up a mind of their kids to be "constructively criticising" regarding human error possibility. No matter how old a person can be, mistakes are inevitable and human always needs each other to remind and correct them. This social Garfunkel circumstance creates the mind of sportive, competitive and open minded of kids. Let them build, take and give criticism in a wise way, including to parents.

Sometimes parents feel like they are just too "mature" to even listen to what pointed out wrong to them. Parents make mistakes and mostly using those as an excuse to be a "see, don't make mistakes like i did, son?" therapy instead of teaching kids how to prevent them.

Moreover, they are mostly reluctant to just ask "son, what do you think i can do to overcome this matter?". Normal, I would say this is normal. They're parents, and they are naturally more expert in living a tough life. They just sometimes cannot see how open and constructive interactiveness are also for their own good as parents and for kids psychological development. Kids take out and learn social and psychological patterns from their parents; some in a destructive way, some in a positive way. Being an open parents does not make you look bad or weak or dumb. A good approach will make you even look wiser, fun, and not-scray-but-respectful parents.




3. Openness
(Finally figured out what to write here.)
Most parents want their kids to not just being honest towards questions, but also being opened about ANYTHING. Be ridiculous, but once someone becomes true parents, this desire just exists. They definitely want the best for their kids, hence they want every tiny truth and details regarding their kids' life. Unfortunately, this is so hard.


People have their own individual right and preferences to tell what to who on when. And just because a woman gave birth to a kid, does not mean this kid must tell everything to this mom. Neither does the mom, no need to actually tell every single thing to a kid. Closeness and psychological proximity do not make someone a half of someone else's. Being opened is an individual's choice.


Parents cannot force their kids to be very opened. BUT they can plant the image of wellness and beauty in telling secrets or things. Just like a supply and demand theory; you must provide sufficient space in your heart to every cent story your kids would tell you on your (both direct and indirect demand). Show them what you are capable of in terms of hearing and offering comments and solutions, and let them choose what and how much they can tell you. Freedom gives kids nothing but comfort, and there is nothing more desired than talking to a comfortable person in a comfort situation and ambience, with a comforting outcome. The domino effect.


Tell them your secret, so they learn two things; it is okay to tell secrets to the person you trust, and once you're told a secret, keep it. Double impact without hurting their right and preferences to tell what to parents.

Never ever implying a secret will be told back when you've given up your secret to them. Be pure and show them that you tell your secret because you trust them, not because you want something in return. Be pure and generous in trusting kids.





So, after all this rumbling thought, i have no guarantee at all to be a good parent one day. I just learn, like all humans do in life.

i feel like banging my head on the wall.

Monday, 12 November 2012

firstly, screw this keyboard on a huge laptop. I'm always use to with small laptop screen at home, and since I'm away-but-cannot-help-to write so I'm gonna struggle anyway.

This post came after a serious but unimportant discussion with, you know, I don't feel like defining him right now, someone. There was an ad, catching my attention about why using the word "popular" in an ad whereas it's implying the product is mainstream and so commonly used by people. Assuming an individual does want anything to be as personalised and distinctive as possible, this term "popular" never makes sense. Anyway, it came to our conclusion that; some products are meant to be targeted for many people, hence it must be presented as a good quality product so people would convinced that this particular product worth the price and the popularity. Another thing is, some other products are made to be as special as possible, such as fashion and other luxurious products, so the promotion will never mention about how "popular" this brand is. It also came to my thought that the word "popular" will not come unless the sales report and projection have proved so. Then the reciprocal relationship must go in sales to ad, not ad first before sales; meaning this product has shown its greatness first before promoted as "popular".


Next discussion was about how relationship should be. Too bad I don't have the time to talk about this now, I've got to run for a bloody morning flight home. So, I'll write up later!

By the way, I recall the curse to this huge keyboard, because it has BRITISH TYPING MODE!! I love it!

these things i'll never say...

Thursday, 1 November 2012

GOOD LORD IT'S NOVEMBER!

This month is gonna me a massive mobile me. I'm travelling to many places for work, social and friendship. Let's just begin a business trip to site office out of town. I'd be dead if I don't have a great great company to fill me in here. Dude, the workload was so confusing and I wish I could really pick up on someone just to throw all the shit in my head. I love being busy.

And then a visit to a capital city of Eastern part of the island. This one, a bestfriend of mine kind of want me around, catching up stories, which most likely gonna be spent by her listening to all my life-bullshit and self confusion of which way to take and which turn to make. She's adorable, I call her my best friend.


Next week, I'm hitting my head on a short holiday to a neighbour country. A friend's wedding and a quick escape with brother. We're gonna have so much fun, I can tell. We need this holiday anyway.


At the end of the month, guess it's another shit load with work and the business plan that I am currently into. I should stop forgetting my car in office, forgetting fuelling it, forgetting that I haven't got any lunch, and forgetting where I am standing at. It sucks sometimes when you've got so many things to do but so little time. Tell me I'm a human, as I'm making mistakes for the most of my life. I rarely learn, I just often run. Because sweating is equal to throwing the pain and ache away.

what people might see, not understand (part two)

Sunday, 14 October 2012

If there's anyone in this world in my life that asked me to re-start doing things that I've been quitting, it must be my girlfriend. She's indescribable, she's just always there. She tells good jokes about my ancient history and she cooks well.


After the accident, I've been reading my journals and in-distance report regarding my research. I found some error on the way I've been working, and the result too. I barely know that even radiation level could raise up that high and I still thankful at least I'm not in Hokkaido anymore."


Couple of weeks ago, I think Julia asked about our relationship. I wish I could tell her how much I've always wanted her around. The distance between us doesn't stop her from being attractive and helpful. I miss her now, although she'd be home in no time tonight. With the dinner.


"Kimiga koishii desyoo!" Her voice. Always her voice that I missed these very late days during my recovery months. And I don't know where did she get all that energy to company me after all this time.
"Atashino atamaga ii Jule-chan" then she babysit me, with the dinner, medicines, paper and my blankets. I stopped her from going to the kitchen, asked if she's still interested talking about the relationship thingy. She nodded and smile wisely.


I thanked her for being kind and patient to me, especially after the accident. I told her briefly about what's been going on in my research just because I know she'd love to hear more if I exposed, which is not the focus in this talk. I expressed how I don't want to miss the chance to be with her by saying that I wish I wore my safety helmet and hold the gear near that site. I told her I wanna be with her if only she could hold on to me a little bit longer.


She nodded. Still with that wise smike that tore my heart apart for being cold so far. I'm glad she could read my mind, or at least that's what has been reflected by our relationship. And now, I tell you what? If I decide to re-write my research journal again, it must have been Julia who supported me behind my back, beside me, and pull me forward beyond my insensitivity.

Nothing Really Is Sparkling, We're Just Too Old To Fancy Formality.

Saturday, 13 October 2012

"aku nggak tau ma, kayaknya semua Putra yang siapin. Aku udah liat sih design undangannya dan aku udah approve yang aku suka." Gita mengapit telepon wireless di antara telinga kanannya dengan pundak sementara tangannya sibuk dengan sabun cuci piring dan gelas kotor, "oke, once aku ke Surabaya aku pasti kabarin mama nanti. Bye"


Minggu lalu mereka tunangan; secara teknis memang orang tua Putra yang datang ke rumah Gita di Surabaya untuk menyampaikan maksud mereka dan melamar Gita yang sedang dinas di Papua. Kedua pasang orang tua terlihat akrab meskipun kedua mempelai Putra dan Gita sama-sama tidak di tempat. Putra menyerahkan rencana dan kelengkapan lamaran kepada orang tuanya dan meminta mereka melamarkan Gita untuknya. Sebenarnya orang tua Gita baru bertemu Putra dua kali, di pesta pembukaan gedung kantor baru Putra dan acara penghargaan Doktor Gita taun lalu, tapi rasanya Putra sudah sangat memberikan kesan terhadap mereka.


"Ya Mam?" Putra membuka tirai kamar hotelnya di Aceh dan menemukan pesepeda mulai riuh menuju tempat mereka mengais rejeki.
"Putra udah kasih tau Gita sih kalo kami akan ke Surabaya bareng minggu depan, tapi ketemuan di Jakarta dulu ya Mam." Putra menghela nafas panjang melihat agenda kerjanya hari ini. Ia tak sabar kembali ke Surabaya bersama tunangannya. Segera dimatikan teleponnya dan ia menuju kamar mandi.


Suasana ruang meeting begitu membosankan, Putra memutar-mutar cincin di jari manis kirinya. Ia sesekali melirik ponselnya yang berkedip-kedip kuning menandai email masuk. Kemudian kedipannua menjadi warna merah; ia dengan sigap meraih ponselnya dan membaca pesan singkt dari Gita, "aku dapet tiket murah banget papua-jakarta, love. Can't barely wait to see you!"


Udara papua masih sangat panas, Gita mengaitkan kedua ujung tali bra-nya. Memasangkan kemeja dan celana kerjanya. Lalu memasang cicin tunangannya setelah ia beres dengan make up dan bergegas ke kantor.

Speed Typing Might Have Brought Me Somewhere Speed Dating Would Not.

Friday, 12 October 2012

Week 1
"Eh sorry, itu sendal gue. Kenapa ya difoto?" Abel gusar melihat sandal KW miliknya difoto oleh stranger di depan masjid seusai solat Jum'at.
"Oh punyalo, sorry. Gue lagi bikin thesis tentang branding dan typografi, trus gue liat ini lucu aja, "connverse" pake 2 N. Tau kan kalo di tajwid namanya idgham bighunnah? Hehehe" agak kikuk Ausi menjelaskan tingkah absurdnya ke Abel
"Typografi?"



Week 2
"Ini udah jaman digital gitu, kenapa sih masih nulis tangan?" Ausi masih membolak balik halaman sketch book Abel di perpustakaan kota, ia salut sekaligus bingung atas kelangkaan makhluk yang baru ditemuinya seminggu lalu.
"Ini udah jaman cherrybelle gitu, kenapa elo masih dengerin Ludwig?" Abel mendorong maju sedikit meja di hadapannya dan mengangkat pensil HB ke tangan kiri Ausi yang sedang berdiri di sebelah kanannya.
"I don't know, seni?"



Week 3
"Rotiboy tuh baunya enak banget, rasanya biasa aja sebenernya" sepasang Abel Ausi menghiraukan bising di terminal 2 bandara siang itu. Keduanya asik menyantap roti sebagai makan siang mereka karena harus menjemput orang tua Ausi dari Saudi Arabia.
"Setuju! Kebanyakan anak jaman sekarang senengnya nongkrong di kafe gaul gitu, makan makanan mainstream yang baunya biasa aja, tampilannya exaggerated, harganya ngga masuk akal, trus rasanya juga biasa aja."
"Apa sih lo Bel, anak jaman sekarang, emang lo anak jaman kapan?"
"Nih ya, kalo kita bisa rewind atau fast forward waktu, gue akan ke masa depan...."
"Oh bener ni mau bahas time travel?" Lalu perbincangan mereka tak usai sampai pengumuman landing diperdengarkan.



Week 4
"Nih, lo dengerin Matchbox Twenty terbaru! Mereka bakal dateng kesini akhir taun ini!" Ausi menyeruak dari balik bilik audiophille di toko buku kesukaan mereka. Abel meliriknya sedikit, lalu beralih pandangan ke CD yang disebutkan Ausi.
"Ah taik banget recording label ini! Haha! Macthbox Twenty masa dia nulisnya?" Abel membalik cover album itu dan bangga menemukan salah ketik di dalamnya.
"Hahaha! Tapi mungkin gak sih kalo emang Macthbox in other language means something else yang dimaksud sama si penulis cover ini?
"Ah mulai deh ahli typografi dan semiotik berkontemplasi! Buat gue mah tetep aja moron!" Abel tersenyum puas atas kemenangan di otaknya sendiri. Ausi ikutan tersenyum, sepertinya bulan ini adalah bulan apresiasi bagi mereka berdua.



Week 5
"Happy birthday Abel!" Rekaman suara singkat itu menyambut Abel yang baru saja bangun. Matahari persis menyinari wajahnya di musim panas bulan Juni. Ia ada janji makan siang dengan Ausi lalu premiere di bioskop untuk menyaksikan serial kesukaan Abel versi movie.
"Hey, thanks ya! It was like the shortest simplest and sweetest birthday greetin ever!" Suara paginya diusahakan tidak terlalu berat saat Ausi menjawab telponnya.
"Hey birthday boy! I won't be able to make our lunch today, tapi kita tetep wajib harus mesti nonton filmnya! I got us two VIP seats as I know the owner of the theatre!"
"Too bad! Gue mau cobain chukaidako di sushi resto baru samalo." Abel agak kecewa dan suaranya kembali berat
"I know, terribly sorry! I'll make it up to you, kita bisa dinner later!" Tak lama kemudian Ausi terburu buru mematikan teleponnya, kembali ke meeting dengan dosen untuk persiapan sidangnya.



Week 6
"This might sound awful, but my girlfriend says we can't be no longer close friends" dengan rasa ragu Abel mengetik pesan singkat ke Ausi sore itu.
"Hey, we're not close friends. We're just strangers getting along so well because of that accidentally but legendary Connverse sandals. We're gonna be okay!" Akhirnya Ausi menelpon Abel, menyelesaikan yang belum dimulai setelah sekian menit terlewati bersama.

Dear Stalkers,

Tuesday, 9 October 2012

I have been told that I have no brain, no heart and insensitive.
I wonder what makes you keep on checking out my posts.
Is it the stupidity? is it the curiosity? Is it the intention to mock?
Is it that I'm interesting?
Thank you.

malu bertanya, sesat di jalan.

udah bertampang serius ala nerd mark zuckerberg pas mau posting kali ini, eh abis nengok halaman web sebelah langsung urung dan buyar otak gue memikirkan konten fiksi bagus. begini emang kalo lagi risau dan kisruh di hati, apa yang ada di otak jadi nggak tersalurkan secara efektif dan eksplisit di sikap.



Jadi ceritanya pagi ini adalah salah satu pagi terhectic saya pasca kepulangan saya ke tanah air. Jam 8 pagi saya sudah duduk manis di meja kantor, kembali menjalankan dinas saya sebagai karyawan spesial tingkatan babu di ruangan cantik, temen-temen saya bilang "asisten pribadi boss". Tugas pagi ini adalah menyiapkan dokumen-dokumen kelengkapan untuk membuat visa ke negeri Belanda, alias visa Schengen. Setelah merapikan meja dan komputer yang berantakannya beda tipis sama muka saya, saya mulai dari website kedutaan negara tujuan. di halaman website sebelah ada kedipan yang minta ditengok -ternyata sapaan dari instant messaging.

"hoi! apa kabar lo?"
"eh, baik gue, lagi ngurus visa buat bos besar mau travelling"
"ada reuni SMA lo tau nggak? udah terima undangan belum?"

saya mencoba mengingat undangan mana yang dia maksud. teman SMA ini pernah naksir saya dulu, cuma karena saya nggak nafsu pacara, saya tolak tawaran dia untuk jadi pacar. sekarang tiba-tiba dia muncul setelah sekian bulan nggak kedengeran kabarnya; dan kabar terakhir yang saya dengar dia mau nikah. sekilas pikiran saya berkontemplasi bahwa 'reunian' ini adalah acara pernikahaannya.

"hehe, enggak deng, undangan nikah gue maksudnya. tapi sekalian reunian"

nah kan benar!

"belom! undang gue dong! tega lo sama temen! ada di facebook?"
"enggak, nanti gue pos ya, apa alamat kantorlo?"

seusai mengetik alamat kantor, saya mematikan instant messaging di halaman sebelah dan kembali fokus pada layar aplikasi online visa. Setelah telepon sana sini, dokumen yang saya perlukan siap dalam waktu tiga jam. Mungkin ini nikmatnya kerja untuk orang pintar, meskipun agak bossy kadang kadang, tapi boss saya memang boss. Jadi wajar dia bossy.


Seusai makan siang, appointment sudah siap dan besoknya saya arrange supaya boss besar bisa datang untuk biometrik di kedutaan. Seketika datang lagi pesan instan di halaman web sebelah, teman sewaktu saya merantau dulu.

"lo udah di Indonesia?"
"hoi! udah! gimana kabar?"
"alhamdulillah persiapan wedding udah beres, gue kirim undangan ke elo via fb gak apa kan ya?"

saya berhenti mengetik. menghapusnya lalu menunggu pesan selanjutnya dari dia.
"gue putus! trus sekarang balik lagi untuk langsung nikah"
"congrats yes! gue usahain dateng!
"wajib!"



Jam tiga sore telepon di meja saya tidak berhenti berdering, dari konfirmasi janji, reminder meeting sampai tawaran asuransi. Semuanya saya layani sambil terus mengurutkan itinerary perjalanan boss yang akandipakai untuk apply visa besok. Seketika Pak Anwar, mailman datang ke meja saya, memberikan kode "matiin telponnya gue mau ngomong" lalu saya menyudahi negosiasi jam meeting dengan klien kami."
"kapan balik? udah sibuk aja nih!"
"Alhamdulillah Bapak! Gimana kantor pos kita?"
"ini surat-surat selama non pergi. Ini yang tadi pagi. Assalamualaikum"
"Wa alaikum salam Bapak! Terims!"


Tumpukan surat setebal kurang lebih 8cm itu isinya kebanyakan subkripsi majalah, katalog belanja dan tagihan kartu kredit sampai materi promosi design arsitektur, seta tentu saja, undangan pernikahan. Yang paling bawah, buku tahunan dari kampus saya. Lima halaman pertama buku itu menampilkan teman-teman seperjuangan saya yang sekarang sudah punya anak. Lima halaman berikutnya berisikan sekumpulan cewek dan cowok yang kebetulan sudah lebih dari setengahnya menikah. Lima halaman berikutnya berisikan orang-orang yang sudah send out invitation pernikahan baik via email, facebook, maupun pos.


Belum berakhir disitu, deringan panjang dari telepon selular saya membuyarkan senyum rindu saat membuka-buka halaman buku tahunan itu. Ternyata Juwita, temen SMA saya juga.
"Kenapa lo pulang nggak ngabariiiinnn!!! kangen nih! ketemuan dong!!"
"Hai, sorry jeung, gue udah masuk kantor lagi ini, biasa membabu! hehhee, hayuklah ktemuan!"
"Sip! nanti sore bisa nggak? gue di deket kantorlo nih hari ini, skalian gue bawa seragam buatlo jait; jadi among tamu gue yaa minggu depan!"


Saya hampir lupa Juwita akan nikah minggu depan. Seusai mematikan panggilan darinya, saya merapikan meja kerja, menuntaskan kertas-kertas yang tidak pernah bisa tuntas, serta menumpuk folder folder seukuran raksasa di kaki saya. Menutup hari kerja, saya mengirim pesan pendek lewat sms ke pacar saya "hon, i've got 2 weddings next week, one wedding the week after, and five weddings next month. Let me know when you're up to shopping! xx" lalu memasukkan ponsel ke dalam tas supaya saya bisa bergegas pergi.



Ternyata hari belum berakhir, di lift, pertanyaan simple muncul dari kantor sebelah yang bersarang di atas lantai kantor saya.
"Hey, udah balik? Gimana kabar?"
"Baik" saya nggak tau mau jawab apa, dan hanya senyum sepanjang tiga lantai.
"Pacar masih?"
"Masih kok" sambil mengingat ngingat siapa orang ini, saya memperhatikan angka penunjuk lantai yang ternyata menyisakan 18 lantai untuk saya turuni dengan lift itu.
"Kapan nikah?"
seketika pintu lift terbuka di lantai berikutnya dan segerombolan orang masuk, sekitar 8 orang masuk ke lift besar itu dan saya sengaja menyingkir jauh dari orang yang menanyakan kapan saya nikah tadi. Syukur gerombolan itu tinggi-tinggi dan berisik sehingga saya tidak perlu menjawab pertanyaan tadi.
selang lima lantai, segerombolan orang itu keluar; SEMUANYA. Kembalilah kami berdua dengan si penanya yang saya bahkan lupa namanya siapa.
"Jadi, kapan nikah?"




that couldn't be possible.

Monday, 1 October 2012

"No! There is no way you're taking her to meet your Mom on the fourth date!"
"What? Why? I like her and she likes me back!"
"Man! I tell you what? She's the kind of girl your Mom would love, I'm gonna bet you both my ears if she wouldn't! And by that, you're getting yourself in a trouble!"
"What's the matter with you? Why can't you be supportive? I don't hesitate to take her home, and I just want my Mom to meet her, and that's it!"
"Once your Mom's in love with her, you're gonna be dead, as she WILL leave you! She totally will!"
"This doesn't make any sense to me, she likes me, I know it!"
"She loves you for a while, for this speeches you've made and all the surprise you threw for her, and that's it. Three months max, she's gonna dump you, trust me!"
"Why? Have dated her before me?"
"I did date her! That's why! My mom's dying now wanting me to get back with her, but I can't. I mean, I don't want to!"
"What? Why did you tell me this?"
"I care for you man! Cut off the idea bringing her to your mom!"

we do things we don't actually want.

Saturday, 22 September 2012

"sayang, nikah yuk!" seketika mata Airin membelalak menatap Kia terkejut. Ia terjebak dalam tiga menit tayangan ulang di otaknya ke masa tiga minggu lalu. Dimana ia membahas masalah pernikahan dengan Ibunya, dan itu bukan hal mudah untuk Airin karena ia harus meyakinkan Ibunya bahwa dalam jangka dua tahun, Airin akan berusaha sudah menjadi istri seseorang; either Kia atau siapapun yang serius dengannya.


***
"Memang Kia nggak serius sama kamu, nak?" Adonan banana bread di tangan Ibu mulai membaik dan hampir siap di panggang
"Serius sih kayaknya, Bu. Airin aja yang belum yakin sama diri sendiri" Airin sibuk menyiapkan loyang-loyang yang akan menjadi alas cetakan banana bread Ibunya.
"Kok kamu?"
"Airin nggak yakin bisa membahagiakan suami Airin nanti, belum tuntutan jadi Ibu rumah tangga, seandainya bener sama Kia. Kayaknya Kia mau punya istri rumahan gitu, Bu. Sedangkan kerjaan Airin kan Ibu tau sendiri, harus sering keluar rumah dan bikin laporan mingguan"
"Ibu ngerti perasaan kamu, tapi cobalah bilang sama Kia, atau siapapun itu calonmu. Kasih pengertian bahwa kamu belum bisa atau belum mau..."
"Belum mau!" Airin memotong ucapan Ibunya
"Belum mau meninggalkan karir yang lagi kamu nikmatin, nak"
"Iya Bu"
"Ibu nggak maksa kamu harus nikah di umur sekian, cuma kepengen make sure aja kalo kamu tau apa yang kamu lakukan dan kamu tau apa yang jadi target hidupmu sendiri, nak"
"Iya Bu" Airin masih lanjut menuang adonan yang sudah jadi ke loyang yang sudah ia persiapkan. Sementara Ibunya mencuci tangan.....

***
"Lo yakin Airin udah mau settle samalo, Bang? Kok menurut gue dia masih tipe orang yang pengen bebas gitu ya?" Suara mungil Adis membuat Kia kikuk dan menjatuhkan cicin warna putih di genggaman tangan kanannya.
"Ketok dulu kenapa sih Dis kalo masuk kamar gue" Kia memungut kembali cincin itu dan memasukkannya ke kotak mini berwarna hitam.
"Ya dari tadi gue udah manggil-manggil tapi lo nggak jawab. Ya gue samperin, eh, taunya lagi menggalau disini. Gimana? Kapan mau propose?"
"Nggak tau, doakanlah Abanglo ini bisa segera memastikan kejelasan hubungan sama Airin. Meskipun baru sebentar pacaran, tapi gue dapet banget chemistry-nya bahwa she's the one"
"Udah, sikat aja.. Tapi Bang.. lo siap nggak seandainya dia belum siap?"
"Bakal awkward nggak sih, kalo gue propose, trus sebenernya dia belum siap tapi karena nggak enak dan kasian sama gue terus dia jadi terpaksa bilang mau? Kebayang nggak lo?"
"Ya makanyaaa Bang, lo gak usah sok romantis setting up suasana dan acara yang nggak-nggak deh, prepare for the worse!!!hahaha" gelak tawa Adis membuat Kia tersipu malu. Kia memang bukan tipe cowok romantis, but once he does it, he prepares the best.


***
Tiga menit berlalu begitu cepat. Suara bambu tertiup angin terdengar seperti gemericik air sungai yang jernih dan mengalir stabil. Sekitar Airin dan Kia seketika sunyi sebelum akhirnya Kia memetikkan jarinya di depan wajah Airin dan berseru "bercanda kali yang!!! Aku mau punya rumah dulu sebelum ngelamar kamu! Tapi pasti aku akan lamar kamu, in no time!" Lalu ia membuang wajahnya dari tatapan Airin, menatap lurus sambil menggenggam tangan Airin di sebelahnya. Mereka berdiri bersampingan di teras restoran di atas bukit sejuk. Sambil menggenggam tangan kanan Airin, tangan kanan Kia merogoh saku celananya, memastikan kotak cincin masih di sana, lalu ditenggelamkan lebih dalam lagi di saku itu.


"Belum saatnya" batin keduanya serempak membisikkan kata itu ke otak mereka.

being too busy to see the obvious.

Sunday, 16 September 2012

pagi tadi saya ran into an old British veteran, he was bloody nice dan orangnya masih semangat banget di umur 70an. Dia cerita services dia di masa King dan Queen 60 tahun yang lalu, dan dengan bangga menunjukkan badges dan medal dia di baju yang terbungkus coat tebal. Tongkatnya kokoh dan baretnya terpasang rapi menutupi kepala yang rambutnya memutih.

Saya berkali kali bilang "that is fantastic", "how beautiful" dan "awesome!" setiap dia cerita setiap medal yang dia dapat. Lalu kepikiran pejuang-pejuang veteran Indonesia yang namanya nggak tercantum di buku sejarah.


Saya yakin segelintir makhluk tua renta itu dulunya gagah dan berwibawa, jasanya membawa saya secara nggak langsung ke benua seberang untuk menuntut ilmu, namun terkadang saya terlalu silau dengan modernisasi jaman sehingga saya nggak notice sejarah. The only thing that I could remember about heroism is veteran house near Manggarai. Nggak pernah keliatan aktivitas siapapun di rumah itu, dan setiap upacara 17 Agustus atau 10 November, pikiran saya melayang ke rumah-rumah veteran lainnya di negeri Indonesia; apakah benar para pejuang itu dirawat dan diayomi oleh negara. Sepertinya ini akan jadi bahan ulikan terbaru buat jiwa kepo saya; pejuang veteran di Indonesia.

Saya ingat beberapa waktu lalu televisi swasta menayangkan kehidupan para pejuang kemerdekaan. Sayangnya cuma sekitar 3 episode, regardless betapa cueknya saya sama televisi selama lima tahun terakhir ini. Lalu barusan saya googling dan baca-baca tentang para veteran di Indonesia, dan menarik, ternyata pemerintah Indonesia punya website untuk mereka. Tingkat kepo saya melunjak kepada aplikasi dan implementasi apa yang disebutkan dan diidealkan oleh keputusan presiden atau pemerintahan. Seru banget juga bahwa ada subscription majalah veteran Indonesia yang terbitnya triwulan; THE LATEST ISSUE OF INDONESIAN VETERAN MAGAZINE.





Sekelibat baca pencitraan perlakuan buruk tentang perlakuan pemerintah dan negara kepada veteran, tapi liat-liat lagi website-nya dan cross check pemberitaan... saya jadi tertarik beneran tentang keadaan mereka sebenernya. Mau ah, sepulang ke ibu kota nanti menggali lebih dalam tentang keadaan para veteran, dan beneran deh, menurut saya mendengarkan kisah perjuangan bangsa sendiri dari para pahlawan Indonesia pasti akan lebih "wow fantastic" daripada veteran Inggris. Selain menghargai dan mengingat sejarah, kita jadi bisa self-reflection seberapa banyak kontribusi yang sudah kita berikan pada negeri yang (katanya) sudah merdeka dari penjajahan ini. MERDEKA!

ask yourself before you blame others.

Thursday, 13 September 2012

saya kasih disclaimer di awal dulu ya: saya nggak sempurna dan jelas judul postingan ini juga berlaku untuk saya.

Terinspirasi dari jutaan keluhan warga Jakarta, dan terakhir, rekan saya Haikal yang ngetwit:
"@haikalmaksum69: Mati gw. Di Thamrin, macet ga bergerak, dan 16 menit lagi mulai 3in1..."



Specifically, 3in1 menurut saya adalah salah satu strategi pengurangan kemacetan lho. Secara konsep saya suka adanya ide peraturan 3in1. The problem is; how feasible this concept is untuk diterapakan di kawasan protokol ibu kota. Mengacu pada website POLDA Metro tentang kawasan yang ditetapkan sebagai jalur 3in1, signifikansinya adalah menjadikan daerah-daerah pusat aktivitas kota jadi lebih efisien dengan less cars on the street and more people using public transport if not possible to be in one car with strangers. Iyalah diliat dari wilayah-wilayah ini, sebagian besar memang gedung kantoran, pusat perbelanjaan, terminal dan bahkan sekolah... (whoops, not talking about cityscape dan planologi tata kota this time, please shut me!)


Menurut Wahyu Tamtomo Adi, M.Sc. Eng, ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakefektifan 3in1, dan intinya, doi menyimpulkan bahwa "kebijakannya gagal nangkep behaviour orang indo. orang-orang sih udah jelas bakal memaksimalkan utility demi manfaat yang paling banyak". Dari pendapat Bang Tama (red: panggilan sayang, hahaha), saya sih ngerti maksudnya bahwa pemerintah dan pembuat kebijakan harus paham dulu sama objek yang dituju sebelum membuat dan menerapkan kebijakan tersebut; apakah sesuai, apakah akan diterima, apakah bisa dijalankan. Dari segi collateral damage, Bang Tama juga mencontohkan behaviour orang Jakarta, yang notabene menengah ke atas dan berkendara, adalah orang-orang yang nggak ragu untuk pake joki demi menghindari 3in1. Nah, contoh behaviour ini yang justru pengen saya bahas; kenapa orang-orang Jakarta ini memilih langkah membayar strangers masuk ke kendaraan mereka demi nggak kena tilang Pak Polisi yang bertugas sweeping 3in1? Apakah ada satu kantor yang gengsi mendaftar karyawannya tinggal dimana untuk lalu diatur 'pulang bareng' dengan karyawan lain yang searah? Atau boss nggak mungkin pulang sama bawahan dong? Ataukah belum banyak shuttle bus/mobil kantor yang bertugas mengantar 5-20 orang karyawan secara bersamaan setiap harinya?


Instead of how ineffective the regulation is, I'd rather seeing the extent to people's role to actually be aware and enforce themselves into more useful effort and attempts to reduce traffic-craziness. Menurut saya, kesadaran warga Jakarta juga harus dibenahi, selain policy yang bisa diimproved. They should engage to not only how good is a rule, but also how good they are in obeying that rule. Survey singkat bin amatir lewat BBM dan social media menunjukkan bahwa beberapa orang Jakarta yang bermobilitas tinggi menginginkan adanya fasilitas memadai, which pada tahun 2005 diwujudkan oleh Transjakarta yang jaringannya menjangkau sebagian besar wilayah 3in1. Kemudian hasil report dan pemberitaan juga menunjukkan kriminalitas skala sedang (tapi kadang beresiko maut) di fasilitas tersebut; pelanggaran jalur busway oleh sepeda motor misalnya, atau pencurian besi-besi di halte busway, hingga ke skala agak menyebalkan tingkat karyawan swasta seperti pencopetan, pelecehan seksual dan tindakan tidak menyenangkan di dalam fasilitas Transjakarta. Oh, why this loop keep making us uncomfortable? What's wrong?


Lagi, saya melihat (dan mengapresiasi) adanya upaya dari penyedia jasa Transjakarta seperti peninggian jalur busway beserta pembatasnya (regardless how waste of resource dan merusak alam serta pohon that is) agar kendaraan pribadi apalagi motor masuk ke jalur tersebut (which tetap dilanggar oleh para motor, sebagian besar). Kemudian pembatasan antrian penumpang laki-laki dan perempuan di halte bus (I know this is sexist, but what can THEY do?). See? Saya yang terlalu naive melihat upaya baik Transjakarta, atau memang warga Jakarta yang skeptisme-nya masih tinggi terhadap potensi kemajuan ibu kota dan sistem transportasinya? Saya jadi ikutan mikir "kitanya yang nggak bisa jaga fasilitas yang udah ada dan patuh sama peraturannya, atau merekanya yang nggak ngerti sudut pandang kita yang ingin kedamaian di jalan raya?" Lalu pikiran saya jadi "siapa 'kita' dan siapa 'mereka' ya?"


Kepengen sekali-sekali nggak ngeluh, either sama traffic-nya tau angkot yang nggak nyaman pengendaraannya. Well, berhubung saya lama nggak bertransport di Jakarta, tulisan ini belum valid ya tanpa testimonial saya. Insya Allah bulan depan saya live report pengalaman bertraffic di Jakarta.
Selamat berkendara, and keep smiling no matter how Jakarta has been totally annoying.

:)

towards the other world.

Sunday, 9 September 2012

I was sitting on my couch, a laptop on my lap and a cuppa on the table next to the couch. Typical winter evening, waiting for my husband to come home. Suddenly my phone beeped and there are two incoming messages; "happy anniversary" and "looking forward to your surprised face when I come home later". I smiled. I kept typing my annual report which deadline was the week after.


A knock on my door startled me because no one's supposed to be home by this early, especially not my husband. It turned out my mom having a surprise visit on my birthday. I put down my laptop and clear up my coffee table, she hated my coffee habit. "My baby girl now turned 30, and I am so proud of your independence and beauty", she hugged me as if I was a 7-year-old girl. I frowned at her surprise. "Mom, stop treating me like this! My husband's gonna be home in no time and I want you to leave, now!" I hissed at her and could tell her painful face hearing me saying it. I didn't think she's mad, she knew I was the one who's mad.


I picked up the ringing phone on my kitchen wall, "is everything okay? Mom's on her way there to company you tonight" it was my brother with his soft but eager voice, "happy birthday!" I smiled finally, he arranged mom's visit to my house tonight. I knew he was always thoughtful and caring, such a big brother I love the most. Mom baked me very fast birthday cake with my favourite vanilla icing. I suddenly fell in love with her again.


"This year, you're gonna get more presents than the last year! You're being such a nice girl" Mom sliced me a tiny bit of the birthday cake and let me finish it by one spoon. We talked all night long and I suddenly missed my husband very much. Where is he?



"Your brother said 'hi' to you" Mom has just got off from her phone call when I washed the dishes. I threw the spoons that I've just washed to the sink. "He already told me that! He called me earlier this evening! Why would he said that again to you?" I was a bit nervous and yelled a bit. Mom was shocked but I didn't care. I left the dishes and ran into my bedroom. I was relieved my laptop was there and my coffee was still drinkable. I continued my annual report. This thing was annoying. I was still waiting for my husband to come home and give me surprise, out anniversary surprise.



I heard a knock from the living room. I ran really fast as if a dog was trying to bite me. It must be him! It must be my husband. I ran down the slippery staircase near my bedroom and softly bang the door from inside. Peeking at the peep hole on the door, no one's outside. It was just a hallucination I suppose. I heedlessly stepped into the kitchen. Mom's cleared out all the mess, the dishes and even the left-over cakes. She left, I thought. She must be pretty upset about what I did earlier today.


It was midnight, I heard another knock on the main door. This time I wasn't running, was not that enthusiastic any longer. But this time I was sure my husband's home. I opened the door, and no one was there. I was really exhausted of waiting, so I went up my bed again, this time I opened my day dress and changed into a pyjamas. I was shocked by a beep on my drawer, my husband's drawer. It was his phone. A reminder was blinking on the screen "anniversary surprise now!". I was astonished.


He's been away for a week, and today he's supposed to be home to celebrate my birthday and our anniversary. But he left his phone here in the drawer. Oh, I found a notebook, small notebook below the cell phone. It's my birthday wish-list, which I already had; a beauty case and ball shoes. I've had them. Why would he keep my last year's birthday wish list here? Why did he left his phone? I'm confused.


I heard the door was knocked, for the third times today and this time I was a bit annoyed. I waited until the second knock, and it did happen. So I went down to open it up, not bothered to just shout who's there. Just a minute I was about to open the door, I heard another knock. I opened up, and no one was there. This is really strange. I totally heard someone knocked the door just a few seconds before I opened it.


I headed to the kitchen again, poured myself a warm white milk. Suddenly I remembered; nothing happened today. It was my birthday, and our anniversary. Neither my husband, nor my Mom came to visit me. There was never a birthday cake. And there, I saw my husband's photograph hanging by the wall, with a note below it "Rest in Peace.............." I fainted.




September Tahun Ini.

Friday, 7 September 2012

Masih nggak percaya bahwa ternyata Tuhan kasih saya kesempatan untuk tidak menyukai bulan September. Selama ini bulan musim gugur ini jadi kesukaan saya dan selalu yang dinanti tiap tahunnya. Tahun ini, 2012, sungguh September adalah bulan renyuh buat saya.

Studi master saya resmi selesai saat tanggal 3 saya submit disertasi saya, kontrak rumah habis juga bulan September dan saya harus pindah ke rumah baru; which means packing in and out and in lagi sama barang-barang. Temen-temen terbaik saya di Inggris satu satu dan pelan pelan semua terbang pergi, Eropa dan Indonesia mostly, dan buat saya painful banget harus melepas Lewis, Nikhita, Wei, Silvi, Reyhan dan Gonggom di consecutive weeks selama September. Sepi.


Sebenernya kalo dipikir-pikir, saya tetep bisa naksir sama bulan ini. Selain umur saya yang akan segera bertambah jadi dua lusin, saya juga siap menyongsong gelar baru di kehidupan baru dimana tantangan hidup akan semakin liar dan menarik. Bucket list saya masih beberapa menggantung, seperti khatam al-qur'an lagi dan doing extreme sports. Yeah, masih ada beberapa bulan lagi, atau seharusnya saya tulis "damn, tinggal beberapa bulan lagi" supaya semakin termotivasi?


Dear Autumn, please blow me that blissful wind again, as if there is nothing lost from me.
Dear God, please show me that graciousness again, so I could feel even more alive.

Renyuh

Sunday, 2 September 2012

"Renanda, aku nggak tau gimana harus membereskan luka hatimu setelah kamu selesai membaca email ini. Aku rasa kita harus putus, orang tuaku serius dengan perjodohanku dengan Citra dan aku pikir nggak ada gunanya kita teruskan hubungan kita. Aku tau kamu orang yang kuat, dan setelah percakapan kita kemarin, kayaknya aku tau kamu cukup ngerti dan paham keadaanku. Aku pengen kita tetep temenan dan meet up some time in the future. Please stay cool as you are." Bondan cuma menuliskan beberapa kata di surat elektronik itu. Aku hampir berlari menuju warnet ini dari rumah singgahku yang tidak memiliki jaringan internet untuk membaca ini. Ponselku mati sejak minggu lalu dan aku nggak tau bahwa Bondan akhirnya memilih Citra dibanding aku. Hubungan kami baik-baik saja sejak orang tua Bondan pulang dari dinas mereka di Rusia dan mengenalkan Citra kepada Bondan sebagai calon menantu idaman mereka. Aku renyuh.

***



"Bondan, aku nggak perlu kenal kamu lama untuk tau bahwa kamu baik dan pintar. It's just me who's being oblivious about us in the future. I don't see myself enjoying your kind company and that is totally not your fault, it's me. Orang tuaku udah aku brief soal rencanaku mengambil S3 di Czech, dan mereka setuju. Kita nggak akan nikah dalam waktu dekat, dan aku nggak janji akan bisa fulfil their will to unite us. Aku denger kamu punya pacar, if she's good enough, I completely suggest you to just stick with her. She deserves a guy like you I think. Maaf ya Bondan, hope everything goes well with your future endeavour and our good friendship." Citra akhirnya selesai merangkai email singkat tentang pembatalan pertunangannya dengan Bondan. Jelas Citra menolak tawaran nikah muda, selain karena ia baru selesai S2, juga karena menurutnya Bondan bukan pria yang tepat untuk berbagi kepenatan dunia politik dengan Citra. Lalu Bondan renyuh.

***


"Hi Firman, sorry baru bales! Susah banget sinyal disini you know, dan host family aku nggak punya internet. Of course we even struggle to live without electricity. Anyway, aku sehat, dan minggu depan aku balik ke ibu kota! Please give me two days of that week to spend with you, bebas mau kemana aja. I'm having a week off afterwards. Bestest regards, Renanda." Aku malas berbasa-basi panjang di email kepada Firman, terutama pada saat renyuhku masih meraja di hati dan ruas otakku. Firman bukan cowok yang luar biasa, tapi ia juga bukan tipe cowok biasa. Firman menyenangkan. Mungkin dua hari dengannya bisa menguatkan lagi aku dan perasaanku yang renyuh.

***

jam tiga pagi dan....

Friday, 24 August 2012

saya belum bisa tidur, setelah percakapan singkat dengan dokter pribadi saya, Randhy F, ternyata blogging adalah alternatif penyaluran stress bagi Masters student yang jobless seperti saya. Bukan nggak baca jurnal akademik ya untuk mengisi waktu kosong, cuma harga travelling yang menyaingi harga sepatu idaman ini seperti meraung-raung meneror dompet saya. Maklum, perempuan kan, banyak mau.


Mari kita bahas yang berbau mainstream (yeah, been talking about this a lot latetly). Ada tiga hal mainstream yang saya lakukan: listening to good music, liking gorgeous guys and looking fabulous.


Menurut sebagian orang, sebagian jenis musik adalah sampah. Menurut sebagian lainnya, sebagian jenis musik adalah terbaik. Buat saya, musik sampah itu adalah Nicki Minaj. Seriously, I have NEVER hated any kind of music EVER; jazz pop rnb emo punk metal dangdut bollywood folks country, name it. I never hate anything until Nicki Minaj. I don't know her personally, of course, it's just something on her pembawaan yang bikin gua risih. Nope! Not gonna bring up Americanisation di postingan ini, tapi Nicki Minaj beneran produk industri musik yang gagal di mata saya. Lagunya ear-catching, to be honest, tapi pembawaannya di media itu lho, nggak enak! She might be a good person, as a person, but as musician presentation, man... sorry and terribly sorry, I don't like her.



Orang bilang Robert Pattinson itu hot, ada yang bilang Cristiano Ronaldo itu sexy dan beberapa lainnya bilang Leonardo Di Caprio itu cute. Lah buat saya masih James Franco, Jim Parsons dan Mesut Ozil deh yang menang.












Ya kan, kalo ngomongin selera bisa nggak sih disambungin sama mainstream? Saya juga nggak bilang mainstream itu jelek kok, cuma mainstream aja. Kapan deh ya saya bilang kalo 'seragam' itu baik, tapi.... seragam aja. You know what I mean.




Karakter fashion saya fluktuatif, ada kalanya saya super fashionable (dude, you gotta admit this without me showing off the research) dan ada kalanya saya super douche bag! Mungkin kalo ada orang setres yang jalan ke mall paling mewah di Jakarta pake sendal jepit, itu cuma saya. Perkara pede sih ya, kadang terlihat keren itu kan dari mata memandang juga, bukan badan merasa. In this sense, however, looking fabulous is the sense of presenting myself in front of everyone including the mirror. Semua orang kepengen TERLIHAT keren, tapi... apa semua orang ingin MELIHAT yang keren?




Oh crap! I really need to stop consuming coffee before a morning trip. I gotta go to Newcastle in less than 3 hours and I haven't got a decent sleep since last night! I screw myself.

PS: Lega banget abis skype sama mama. She's home!



this day last year

Monday, 20 August 2012

nope! not because it's tanggal 20 or something about Lebaran hari ke-dua. It's about being away for almost a year. I might sound berlebihan, but this feeling is terrible, the feeling of comfort being on my own, as well as the feeling of missing home, brothers and parents a lot. I'm imagining going back to Jakarta, smelling the humid air and the rudest traffic in the world, it could be better though compared to the loneliness of dawn when there was no adzan, or the expense of eating simple food. Inasmuch, I don't feel like meeting again with hypocrite people, and the dizziness of Indonesia's atmosphere. Rasanya this day last year saya masih puasa, menghitung-hitung hari menuju Inggris dan menjemput visa yang udah issued. It was really exciting, and up until now I am still grateful of being away, independent and challenged. It is fun exploring some of the best cities in the world, earning one of the best education place in Europe, experiencing the hype of meeting new people in new environment.

oh this day last year. I don't feel like ending things, but I have been missing the best moments back home too.

I haven't got any minutes to sleep...

Monday, 13 August 2012

So this breakthrough celebrity has gotten me amazed by how my editor wants her so bad. I managed to interview particular people in her life and got them saying for her.



Mertua (tipikal ibu modern yang tinggal di kota metropolitan)
Oh, menantu metal itu. Saya seneng ngobrol sama dia, seru dan dia pengetahuannya luas, juga sopan sama orang tua meskipun lama-lama saya bisa anggap dia temen kalo lagi belanja.


Asisten Rumah Tangga (perempuan setengah baya yang sabar dan setia)
Si Non itu senengnya makan yang nggak sehat, Bibi sampe sayang sama sayuran setiap hari sisa karena Non nggak makan sayuran seperti anggota keluarga lain.


Mantan Pacar (pengacara sukses di kalangannya dan di level seumuran dirinya)
Gua kenapa ya dulu putus sama dia? Yah, pokoknya anaknya bawel sih, posesif ya menurut gua, mungkin antara terlalu sayang apa takut kehilangan.


Manager (bossy, perfectionist and well-planned person)
She is absolutely multitalented, she's a triple thread to everyone in her field; she sings, she dances, she acts. What else?


Sister (beautiful, and I think she is more beautiful than her sister)
She is my frienemy, paling seneng sharing cerita sama dia, tapi saya benci banget sharing gebetan sama dia, every guy would turn to her rather than to me.


Teacher (wise man who studies the character of everyone that he taught)
Anak itu pekerja keras, senang mengerjakan tugas yang saya kasih dari jauh-jauh hari karena memang sebenarnya dia nggak pede kalau harus ngerjain SKS seperti temen-temennya.


Ibu Kantin (tipikal penjual mie ayam dan teh botol di kantin kampus)
Dia mah yang paling sering gegantian menu makanan. Oh, urangna seneng bayar utang tepat waktu; seminggu sekali. Yang lain malah sampai bulanan nteu bayar-bayar. Cena bukan karna kaya, tapi cena memang urangna tenggang rasa.


Stage partner (another triple thread, but man)
She is amazing! I wish I were straight so I could date her. Pikirannya kadang nggak ketebak, tapi kadang jadi orang yang naive banget sama hal-hal sepele. I totally adore her, though.


Teman SD (young mother, one kid and successful husband)
Apa ya? Udah jarang ketemu sih sekarang. Dulu dia nakal banget, dan hobinya bolos sekolah. Tapi sedenger aku sih ketika mulai masuk SMA waktu Ayahnya meninggal ya dia membaik, dan buktinya keterima kuliah di Performing Arts kan sampe sekarang jadi artis.


Adik ipar (tipikal anak SMA yang baru lulus sekolah dan belum kuliah)
Hmm... baik orangnya, bisa diajak gila bareng meskipun beda umur udah tujuh taunan. Kadang bawel sih kayak Mama, tapi baik orangnya, dan seru.




"I wonder what kind of person this girl is. This is so random opinion from people around her." My desk was messy and I was still enthusiast to talk to Charlie about my day






"I am actually more curious why would our boss wants her. She is not interesting at all, just like another celebrity, they are glamorous and look fun" He was upset about missing out the live report from a huge accident that day. We were those reporters who lose our sense of sympathy when it comes to accident, it's like what we eat everyday and we're making the best drama out of it. I know this is wrong, but covering accident is far better than interviewing people in a celebrity's life. Sounds utopia to me.

I might have written this...

Wednesday, 8 August 2012

Tertampar oleh twit salah satu rekan asik saya, Astrid, saya jadi kepengen curhat tentang apa yang (seharusnya) saya perjuangkan di disertasi Master saya. Tentang MTV.

"@astridnaya: Pada masanya, bangun pagi jam 9 itu waktunya nonton MTV Land."


Yeah, menurut saya bukan salah siapa-siapa. Lagi-lagi zaman yang sepertinya sudah shifting people through dan menerapkan evolusi dan seleksi alam pada umat manusia. Jaman dimana MTV adalah channel musik 24 jam yang memutarkan lagu-lagu dari masa keemasan nenek saya, hingga apa yang jadi tradisi lokal di Indonesia seperti Dangdut.

Buat saya Amerika cukup lihai dalam menerapkan kapitalisme di negara dunia ketiga seperti Indonesia. Lokalisasi itu sendiri bagian dari effort mereka untuk menjangkau orang-orang seperti si mbak di rumah yang nggak doyan dengerin Westlife atau di kala itu terlalu sulit memahami arti lagu "Ooops I did it again" milik Britney Spears (meskipun nggak lama kemudian salon amatiran ramai dengan para pelanggan yang mau rebonding rambut a la Britney di video klip itu). Dangdut, lewat Dangdut mereka menembus pangsa pasar kelas menengah ke bawah Indonesia. Menjadikan beberapa penjaga warteg dan mandor di pangkalan ojek setia memasang channel MTV di tempat mereka beraktivitas sehari-hari.

Yeah, tentu sajaaa argumen Schiller (1992) di-rebuttal habis-habisan oleh Tomlinson (sial lupa tahunnya) dan teori globalisasi Appadurai. Tapi lubuk hati saya yang paling dalam (cuma perlu pembuktian empiris dan argumen super pede aja) tetap berpikiran kapitalisme dan imperialisme di industri media Indonesia bisa dicontohkan oleh MTV.


Regional programme seperti MTV Most Wanted, MTV Land dan MTV Asian Hitlist juga jadi favorit saya dulu, nggak tau saya doang yang norak dan mainstream di kala itu, atau memang mereka memprogram sedemikian menarik acara sehinga bukan hanya VJ Utt dan VJ Gregg yang ganteng dan jago bahasa Inggrisnya, tapi juga lagu-lagu yang mereka putarkan seperti "atas permintaan kalian, anak nongkrong MTV". Hell yeah! My research told me that MTV has 'married' to global recording company to sell music (Banks, Kaplan, et al). Gimana caranya mereka harus bisa jual artis se-asing George Benson, Holly Valance dan AQUA bisa dicintai oleh orang-orang yang bahkan nggak ngerti bahasa Inggris seperti mantan supir pribadi saya. Tentu saja kemasannya!

Makhluk super kocak (IMHO) seperti VJ Arie dan VJ Sarah adalah bagian dari kemasan kece untuk menggiring budaya barat agar acceptable di Indonesia. Tayangan wajah indo-blasteran seperti VJ Cathy dan VJ Rianti juga merupakan sensasi tersendiri buat para remaja yang lagi falling in love di MTV Getar Cinta. Lalu seiring modernisasi dan shifting taste and people dencency, kemasan MTV lalu mengkreasikan kehebohan dan kejenakaan duo Desta-Vincent di acara MTV Bujang dan selanjutnya berevolusi jadi MTV Insomnia, Begadang, dan lain lain yang merefleksikan fenomena dan trend remaja pada masanya.


Semakin kesini, seperti terkikis, merger sana sini antara channel TV, stasiun komersial dan Nickelodeon mengakibatkan hilangnya kreativitas-kreativitas kapitalisme yang mendidik sekaligus merusak remaja bangsa Indonesia (a bit thanks to KPI regardless all the scandalous attitude in between). Jujur, dibalik kritisisme saya terhadap Amerika dan kapitalisme-nya, saya rindu masa dimana para VJ asik bercuap dalam bahasa Inggris dan kelihaian mereka mewawancarai artis luar negeri yang sedang bertandang ke Southeast Asia. Mostly, saya rindu bagian positif dari kapitalisme itu, atau boleh saya ameliorasi jadi 'globalisasi'.




VJ Jamie interviewing Westlife




PS: Disertasi saya memuat bahwa MTV Indonesia bukanlah produk kapitalisme karena dari segi konten, beberapa program representatif memiliki style yang sangat Indonesia tanpa bold influence dari Western culture. Too bad this might as well be proven as the other way.




Degredasi Bangsa?

Saturday, 4 August 2012

Dua puluh tahun lalu, saya hidup di lingkungan menyenangkan. Belum kenal nintendo, playstation dan internet. Sekeliling saya masih ramai anak-anak dengan layang-layang, sepeda onthel, patok lele, dan permainan benteng. Kala itu kemewahan gadget bukan hal yang biasa, justru kami (saya dan anak-anak seumuran saya) asik bermain di lapangan, entah dengan kelereng, karet gelang yang dirangkai jadi tambang elastis, atau layang-layang. Berlarian di gang-gang, makan es krim di dekat sekolah, hingga berkelahi memperebutkan layang-layang nyasar yang putus di udara. Seru, sportif dan sehat.



Kami sering dimarahi orang tua masing-masing karena ketidakdisiplinan kami; belum ganti baju sekolah sudah lari ke lapangan dekat rumah, belum kerjain PR sudah jajan dekat pasar.




Sepuluh tahun dari masa itu, adik bungsu saya bermain gamewatch, playstation dan rentang sepuluh tahun berikutnya mereka rajin main game online. Semua gadget yang tidak sanggup dibeli Papa Mama tergantikan oleh rental PS dan warnet sekitar rumah yang menjamur.


Bambu-bambu melapuk begitu cepat, pohon yang kami jadikan benteng ditebang, kelereng kami jadi hiasan, dan karet gelang kembali melingkar di dapur bersama kertas pembungkus nasi. Bola bekel saya tidak lagi membal, biji congklak jadi isi pijakan taman. Saya seperti kehilangan.



Di tengah majunya internet, di jenjang kuliah strata satu dan dua dalam bidang komunikasi dan budaya, saya lalu belajar teori dan aplikasi modernisasi. Bukan (lagi-lagi) menyalahkan Amerika dan antek-anteknya, tapi teknologi dan invensi modernisasi telah menyeret halus kebiasaan sportif dan natural anak-anak menjadi lebih canggih.



Sekarang timbul Twitter, Path, dan Ragnarok. Anak-anak seumuran saya 20 tahun lalu tidak lagi bersua di lapangan dan taman sekolah. Mereka memilih pulang, mendekam seharian di kamar saat akhir pekan dan menjalin persahabatan dengan lingkaran teman yang lebih luas di luar jangkauan. Mereka bertukar ucapan "shit!" dan "mana ammo gua?" dalam Counter Strike. Bilahan bambu tergantikan oleh kasarnya gesekan mouse di tangan kanan mereka. Hembusan angin sore tergantikan dentuman musik dari Spotify di headset dr. Dre mereka. Topeng monyet dan komedi putar tergantikan oleh playlist Youtube dan ga9s jokes.



Saya nggak mau terlalau naif menyalahkan CERN dan Sir Lee yang telah menemukan internet dan www, terlepas dari cyber crime yang terjadi setelahnya (dengan berbagai faktor). Saya juga nggak berhenti salut sama pendiri kaskus apalagi almarhum Steve Jobs yang menurut saya adalah seorang jenius. Saya juga enggan menyalahkan trendsetter dan pencetus istilah 'alay', yang kemudian lebih disanterkan oleh media.



Ya, media, yang katanya 'channel' atau perantara dari komunikator kepada komunikan. Media, yang katanya, informan atau jendela dunia terhadap kejadian di luar sana. Media, yang katanya netral dan bersifat mendidik, sekaligus menghibur. Media, yang katanya ajang kreativitas manusia. Media, yang katanya memberi makan orang banyak.



Pada perspektif saya, justru sejauh ini media yang memberikan gambaran bagaimana seharusnya society ber social, terlepas dampak negatif atau positif. Hanya menurut saya, mayoritas mereka memberi batasan mana yang 'modern' seperti bahasa Inggris, musik aliran trance, reality show dan fashion Amerika, dan sebagian lainnya yang membantu popularitas istilah 'alay' bagi siapa saja yang masih bermain layang-layang di lapangan, masih menggunakan handphone monophonic buatan Finlandia, masih mendengarkan musik dangdut dan masih menyukai jajanan pasar tradisional.




Saya harus jujur, beberapa media juga berusaha membingkai tradisionlisme menjadi suatu hal yang heritage dan tidak kalah seru; wisata kuliner, backpack bersama selebriti, hingga permainan tradisional yang dimainkan oleh artis dan keluarganya. Menarik, suatu usaha pelestarian yang menarik.



Sementara, pikiran saya masih terus mengulik fenomena sosial ini. Sementara hati saya rindu pada 20 tahun lalu, dimana saya berlari bebas, berteman dengan sebaya saya tanpa tau apa itu smack down dan tanpa takut jatuh dari sepeda. Saya rindu masa dimana iPod dan charger bukanlah barang wajib di dalam tas saya, melainkan buku atau novel yang menemani perjalanan saya. Saya rindu dimana televisi tidak hadir di antara pertemuan keluarga sehingga kami leluasa mendalami karakter setiap anggota. Saya rindu masa di saat follow-memfollow Twitter bukan kewajiban pertemanan dan simbol popularitas semata. Ya, masa dimana pertemanan terjadi di taman permainan, dan perkelahian selesai di depan mata, bukan di dunia maya.



Ah, saya yang sudah terlalu tua.

What Lasts on Summer (part 2)

Friday, 3 August 2012

Sore itu kami berjumpa di taman dekat tempat saya kerja. Andreas terlihat banyak PR dengan beberapa rangkaian kasar dan design rangkaian bunga di tangannya. Saya sendiri memangku tas kerja saya berisikan laporan-laporan yang harus saya analisis malam ini di rumah. Sekian detik pertama kami bertukar kabar tentang pekerjaan kami belakangan ini. Tidak jauh dengan nasib saya, Andreas sedang menerima banyak pesanan untuk acara Natal akhir tahun nanti. Saya sendiri nggak sabar mengambil cuti dan berlibur sendiri ke Dili.



"Apa kita seharusnya nggak ketemu lagi? Atau justru menjalin hubungan seperti abang dan adik?" Andreas akhirnya melontarkan pertanyaan di akhir tukar-cerita kami tentang sosok orang tua kami masing-masing. Saya diam cukup lama, menimang apa yang sepantasnya jadi jawaban terhadap pertanyaan ini. Ah, seandainya pertanyaan itu seperti 'Kamu mau nggak jadi pacar aku?' maka saya tidak perlu waktu bahkan sedetik untuk menjawab 'iya', sayangnya Andreas adalah saudara tiri saya. Ayah pilot kami mewariskan sifat pemberani dan pantang menyerah, penuh rasa ingin tau dan selalu menuntut kebenaran. Rasanya justru sulit sekarang untuk tidak menyerah pada kenyataan bahwa Andreas adalah sedarah dengan saya, dan mengelak dari kenyataan bahwa kami tidak bisa bersama sebagai pasangan.

"Aku nggak tau apa kita bisa saudaraan. Aku pikir ini bakal beda ceritanya dari kenyataan sekarang" jujur detik itu saya ingin menangis deras merasakan batin saya yang naksir pada Andreas dan desir darah saya yang juga mengalir di tubuh dia. Andreas mengerti maksud saya, dan dia ikutan terdiam. Kami pulang tanpa sepatah kata, bahkan tanpa 'sampai jumpa'. Sore itu seperti gravitasi yang menarik kami ke rumah masing-masing tanpa harus memberikan tanda berupa kata.



Saya menemukan Ibu menyiapkan makan malam untuk kami, lalu saya luluh. Kami ngobrol lagi malam ini, masih dalam keadaan canggung sampai telepon genggam saya menampilkan cuplikan pesan singkat dari Andreas, "aku baikan sama Mama, dia kangen aku, dan dia bilang mau ketemu kamu." Layar telepon genggam saya terbaca jelas oleh Ibu. Ibu lalu tersenyum, saya sulit mendefinisikan arti senyuman kali ini; lega, senang atau.... miris. Saya mengabaikan pesan itu.



Delapan hari kemudian, saya menemukan Andreas duduk manis di lobby kantor saya, dengan setangkai bunga mawar. "Selamat ulang taun! Aku tadi ketemu sama Ibumu. Dia cantik ya, mirip kamu" Saya tersipu dan gagal melancarkan raut marah pada kejutan itu. Andreas memaksa makan malam dan mengantar saya pulang. Saya banyak diam, berpikir kenapa cuma saya yang belum bisa terima bahwa Andreas dan saya (mungkin) seharusnya hidup sebagai saudara. Saya juga mengasihani bagian dari diri saya yang masih marah dan tidak terima bahwa Ayah harus dibagi dua.


Akhir pekan di minggu ulang tahun saya, nisan Ayah menjadi saksi bisu luapan emosi saya. Saya bilang sama batu nisan Ayah kalau saya marah dan rindu sama Ayah. Berharap Ayah meninggalkan surat atau pesan lain yang menjelaskan kebingungan ini. Tapi pupus. Yang saya ingat cuma pesan Ayah bahwa ada hal-hal yang harus kita abaikan saja, karena relevansinya dengan hidup kita tidak akan sebanding dengan kerasnya usaha untuk mencari tau fakta-fakta di luar kepala dan tak kasat mata. Lalu saya pulang, memutuskan untuk berdamai dengan kenyataan dan berusaha keras untuk menjalankan persaudaraan. Saya pikir Andreas bisa jadi Abang yang baik untuk Adik yang manja seperti saya.

What Lasts on Summer (part 1)

Thursday, 2 August 2012

Selamat ulang tahun Ayah.
It's the third year I have lost my dad. Saya selalu heran beberapa bulan terakhir ini, menjelang ulang tahun papa tanggal 1 Agustus dimana saya sengaja ziarah ke makam beliau, saya selalu menemukan sepaket bunga mawar import di dekat nisannya. Jauh pikiran dari hal-hal berbau mistis atau apapun sejenisnya, karena saya yakin benar ini perbuatan manusia. Satu-satunya yang jadi clue bagi saya cuma nama florist yang tertera di tali dekat buket bunga tersebut, "Tania Florist". Tidak ada alamat, hanya nomer telepon, dan bukan jalan buntu tentu saja.


Setelah 15 menit bernegosiasi lewat telepon, Tania Florist baru saya ketahui berposisi tidak jauh dari lokasi saya kerja. Esoknya, ketika hari Minggu, saya mampir ke Tania Florist untuk mengambil pesanan saya. Sengaja berskenario ulang taun boss besar, bunga yang saya pesan memang agak rumit dan butuh 'ketemu' untuk ilustrasi. Sesampainya di sana, benar saja, saya disuguhi berbagai konsep rangkaian bunga dan dekorasinya untuk berbagai suasana dan acara.


Namanya Andreas, dan kesan pertama saya jujur berpikir bahwa dia gay. Perawakannya tinggi kurus, tangannya selalu memegang gunting daun kalau tidak semprotan air mini untuk tanaman. Ia mengembangkan sendiri bisnis florist ini semenjak duduk di kursi kuliah dan saya kagum, dari obrolan kami, bahwa almarhum Ayahnya ternyata adalah inspirasi baginya dan Ibunya untuk terus menjalankan bisnis ini. Berlanjut dari obrolan pesanan bunga dan bisnis, kami ngobrol lagi tentang ke-anak tunggal-an dan ke-yatim-an kami.



Merasa nyambung dan semakin dekat, saya lalu teringat lagi pada misi utama saya datanya ke Tania Florist; siapa si pengirim bunga untuk makam Ayah? Agak susah mencari tahu tentang ini, karena kebanyakan tamu dari florist Andreas tidak meninggalkan data diri mereka selain nama dan nomor telepon bagi pemesan bunga khusus. Paket bunga yang saya temukan di makam Ayah memang spesial, tapi ternyata bukan kategori pemesanan yang butuh detail customer. Hampir buntu.



"Kalo ada waktu, mungkin kamu bisa nemenin aku ikut ke makam Ayah biar kamu bisa liat bunga impor yang aku maksud?" Akhirnya aku meminta pada Andreas di suatu ajang makan siang dekat tempat kami bekerja.
"Nggak masalah, kapan kamu mau ziarah lagi?"
"Kebetulan aku penganut mitos dan adat berziarah sebelum Ramadan, gimana kalo minggu depan? Weekend?"
"Hmm, kayaknya sih bisa. Nanti aku liat pesenan dulu ya, kalo nggak rame aku ikut kamu." Setelah sepakat, kami kemudian semakin intens berhubungan dari sebelumnya. Saya punya banyak kesamaan dengan Andreas, dan menurut saya Andreas menarik, terlebih setelah saya tau bahwa dia tidak gay sama sekali. Ibunya dekat dengan dia, dan sebagai anak tunggal, tentu saja ia dimanja semasa kecilnya. Sama seperti saya, Ayah kami masing-masing mendidik kami untuk mandiri dan memiliki kemampuan tertentu. Kebetulan saya di bidang komputer, dan Andreas di bidang cocok tanam bunga.



"Aku nggak tau Bu, menurut aku Andreas baik. Sejauh ini kalo kami ketemuan atau jalan bareng, dia nggak nunjukin kalo dia punya pacar atau lagi deket sama cewek manapun" Ibu melirik saya penuh arti sambil senyum.
"Iya deh, Ibu tau kamu paling paham soal gelagat cowok yang single atau taken." Senyumnya bermakna buat saya. Sejak Ayah meninggal tiga tahun lalu, Ibu merangkap tugas Ayah jadi penasehat sekaligus pelindung buat saya. Menurut Ibu, kepergian Ayah bukan hal yang harus diratapi, tapi adalah tantangan untuk tetap hidup dan menjalani nilai-nilai yang diajarkan Ayah; kerja keras, berani dan tulus. Yes, Dad is that kind of person who'd kill for anything he believes, and I think that personality suits me and Mom. Selain jadi anak manja, saya berhasil menjabat posisi tertentu pada perusahaan telekomunikasi dimana saya dituntut untuk bertanggung jawab terhadap sebagian besar bawahan saya dan hasil kerja mereka.
"Mungkin sudah pertanda kamu harus segera nikah" ucapan Ibu membuyarkan senyuman saya. Akhirnya pernyataan itu keluar dari mulut Ibu. Baru berapa bulan saya kenal dengan Andreas, Ibu seperti sudah mencium aroma berbeda dari kedekatan kami. Saya hanya tersenyum mendengar lanjutan ucapan Ibu "Ibu doain, kalo memang Andreas jodohmu, kamu bahagia sama dia dan dia bisa mendampingi kamu sampe hayat memisahkan kalian." Begitu positif dan begitu tulus, Ibu sepertinya cinta mati sama Ayah. Dan menurut saya itu romantis.



"Ini makam papaku!" Seperti tertampar anggota angkatan bersenjata tanpa melecehkan negara, saya tersentak sejadi-jadinya mendengar ucapan Andreas di makam Ayah. Selama ini saya pikir kesamaan kami adalah kebetulan belaka, cerita tentang Ayah yang begitu serupa dan sampai saya tidak terpikir menanyakan siapa Ayahnya Andreas.



Ayah menikah dengan Ibu ketika Andreas berusia 2 tahun. Saya seperti berkeping-keping dan berharap Tuhan mengirimkan bah agar kepingan diri saya hanyut dan tidak merasakan apa-apa lagi. Kenyataan yang selama ini disembunyikan oleh Ibu dari saya. She didn't even bother to asked about Dad's another family, she chose not to know Andreas at all. Sungguh, saya tak bergeming mendengar cerita Ibu tentang pernikahannya dengan Ayah, rumah tangganya, pekerjaan Ayah sebagai pilot dan keseharian Ayah saat tidak di rumah. Air mata jelas tak terbendung dan Ibu ikutan menangis menahan sakit atas penolakan saya terhadap pelukannya. Berkali-kali Ibu minta maaf dan saya hanya diam sambil sesekali menolak raihan tangannya.




Tiga minggu tanpa berhubungan dengan Andreas, kami tidak sengaja papasan di kantin tempat biasa kami makan siang. Sungguh hari naas buat saya sampai bisa ketemu dia, padahal jam makan siang saya sudah berubah drastis agar tidak ada kesempatan bersamaan dengan makan siang dia. Rupanya siang itu dia sedang ketemu dengan supplier untuk buket bunganya. Saya menahan refleks senyum saya, meskipun ada sebersit rasa rindu dengan candaan dan cerita dia di dunia florist. Dia melihat saya dan menatap lama sampai saya kikuk sendiri. Setengah jam kemudian, seusai semua urusan dia dengan suppliernya dan saya dengan mangkok bakso saya, dia menghampiri meja tempat saya duduk. Saya sendiri enggan menghindar dan mencoba untuk berani menghadapi dia lagi, sebagai saudara tiri.



"Aku belum ngomong sama Mama sejak tiga minggu lalu" dia memulai cerita dengan satu kalimat langsung tanpa pembuka dan aba-aba. Mengambil posisi di hadapan saya, ia melanjutkan ceritanya tentang bagaimana Mamanya menjelaskan hubungan antara kami, Ayah kami dan kehidupan kami selama ini. Saya yang hanya menunduk diam melihat minuman saya dalam hati mengiyakan beberapa pernyataan perasaannya sebagai seorang anak; tertipu, rindu, bingung sekaligus kehilangan.
"Aku nggak ngerti kenapa harus nunggu selama 27 tahun dan setelah Papa meninggal untuk cerita siapa kita sebenarnya. Seandainya kita nggak ke makam hari itu, seandainya kamu nggak cari tau siapa pengirim buket bunga di makam Papa. Seandainya kamu nggak nekat nyamperin Tania Florist. Apa selamanya kita nggak tau tentang Papa?" Penggunaan kata 'kita' oleh Andreas memancing saya untuk merespon dengan emosi yang sama. Lalu tersengat oleh detikan jam di tangan kiri kami masing-masing, kami sepakat jalan-jalan sore seusai kerja hari itu.




*bersambung*