the campaign

Friday, 27 May 2011




"Okay, that's it. You see every detail about her and we are so willing to stop her"
Derrick menutup layar presentasinya tentang Charlie, public enemy di kampus saya. Derrick benar-benar jenius, mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Saya pikir ini cuma tugas akhir semester, tentang 'handling crisis' dan seperti biasa, Derrick muncul dengan ide jeniusnya: personal crisis.
"I got it. She's annoying, arrogant, selfish and... impolite. What's your idea to stop her?" Saya penasaran dengan ide penyelesaiannya.
"We'd ban her from social life. Kidnapping, internet propaganda, magazine, word-of-mouth"
"Wow. What? Those all only gonna make her even more famous" saya terbelalak mendengar idenya yg 'cetek'
"Are you siding on her? Do you know that we have to do something about this?"
"I am not a close friend to her, I don't think I'll be able to be so. But looking at what you're planning...man, this is....bullying. And that's not cool. It against.. I mean...we could be sued by any law." Saya mengingatkannya lagi pada buku panduan mahasiswa dan peraturan kenegaraan di lingkup kampus kami.
"What's your idea then?"
"Look, we're studying at the most popular politics, communication and business school. We have these lecturers, theories and strategies to solve many cases and crisis. Don't you think we should accommodate our hates into something more efficient and satisfying?" saya coba bicara dengan hati-hati.

"Straightly, what are you trying to say?" Saya yakin ia hanya ingin diyakinkan mengenai keyakinan saya.
"We have computer geniuses, brilliant writers, fantastic math-geeks and you! You are the top problem solver in many clubs. We do need a tactical move about this person. Do it smoothly"
"Smooth? To this kind of bitch?"
"Come on, I know you've been trying to tell her. But if you really wanna punch her, do it in a smart and effective way. We gotta win, not being stamped in campus wall for a cheap bullying action"
"What's your plan?"
"That's what we're up to. I'm thinking about making a campaign to change her attitude, but first, we gotta find out 3 things" saya mengangkat ketiga jari kiri saya sambil menatap matanya.
"They are?" Bagus, Derrick mulai tertarik.
"First, the motives. Second, the supporting media. Third, the timeline and schedule of the execution"
"I'll help you out about the second one: we have everything you need for IT support, meaning internet, publication, even a DNA test could be done by us here."
"I'm thinking of the third one: next semester, meaning 3 more months, will be the open days for freshmen. That is the moment we could allocate her and her intelligence as our promotion to prospective student. We have 3 months to change her." Kami diam sebentar karena cukup puas 2 dari 3 pertanyaan kami terjawab. 

Saya hanya diam menunggu Derrick menyadari satu hal lagi dan bertanya pada saya, "What about the first one? I don't have any idea. She has no best friend, she has never been opened to anyone about her psychological background"
"That is our job. We gotta find a way to get closer to her so we can dig up." Saya menjentikkan jari dan menunjuk layar laptopnya yang masih terbuka.

"You're gonna send someone to do it?" Saya mengambil pensil, secarik kertas dan mulai akan menulis draft pertanyaan dan investigasi. "Yep, it is between you.....or...." Derrick diam menunggu hingga saya membuka mulut dan berkata "me"
"You are nuts! What if your plan doesn't work?" Derrick tersentak dan tertawa miris.
"What if it works?" Saya mengulur waktu untuk pertanyaan skeptis, pesismis namun realistisnya.
"No, think of my question first, what if it doesn't work?"
"We'll figure it out later, we gotta think and prevent that, actually. Because at least, we don't get caught for such criminal action you told me in the very first place" saya mengedipkan mata dan mulai menggambar skema kerja saya.

intermezzo

Monday, 23 May 2011

Saya lagi banyak-banyak merenungi nasib. Issue paling baru dalam hidup saya adalah berangkat ke UK atau stay di tanah air. Saya sendiri agak miris, hobby nulis saya sejak saya SMP terlihat disignifikansinya melalui sebuah tes selama 3jam tentang kompetensi dan kualifikasi saya dalam bahasa Inggris. IELTS itu seperti buah simalakama, nggak enak dikerjain, tp nggak bisa dilupain. Writing saya menurut ukuran IELTS nggak kompeten, saya heran, katanya frekuensi nulis bisa mempengaruhi kualitas tulisan. Apa karena sourcing saya sampah ya, jadi ya tulisannya sampah juga. Saya jadi kangen guru-guru saya di EF dan Oxford, lebih kangen sama murid-murid saya di BBC dan St. Theresia. Mereka gimana ya kabarnya?



Anyway, saya lagi mengerutkan kening menatap layar netbook saya. Rasanya bakat 'merusak' saya semakin meningkat levelnya; selain perasaan orang, saya juga sering merusak peralatan di sekitar saya. Beware: pastel the destroyer. "Memory too low" katanya, saya jadi bingung, wong mbuka netbook-nya aja sebulan sekali (ssstt, saya tau persis dosen saya nggak akan baca blog ini dan maki-maki saya karena nggak rajin baca e-books) masa udah memory low? Untu!



Beralih ke dokumen dan file yg harus saya hapus. Bengong lagi, kenapa folder foto mantan pacar masih ada? Jangan-jangan dia menyelinap ke kamar saya untuk masukin foto-foto kami *tampar diri sendiri* saya kayaknya butuh sedikit morfin untuk otak saya, mulai sakit. Hapus file and folder.




By the way, tadi sore saya habis meeting dengan seorang Singapur, rekanan kerja papa yang menyarankan saya kerja di Marina Bay, karena mereka baru buka. Saya mikir keras: "apa gua sudah cukup seksi untuk jadi hostess di casino?" Lalu pikiran saya buyar waktu dia klarifikasi "they are having fast-moving human resources, therefore people for promotion and public relations are constantly needed" alhamdulillah, saya kira dia nggak bisa baca pikiran saya.



Saya mau nulis cerita lagi, lanjutan dari kisah Bram dan Langgar. Seru juga ya bercerita tentang tokoh-tokoh sama dgn orang yg berbeda-beda. Yang kepo sih lumayan juga, tapi yang salah paham nggak kalah banyak. Saya juga udah mengurangi kejang otot dan otak karena argumentasi dengan pacar saya mengenai publishing my blog. Bukan, bukan karena akhirnya saya ngalah dan memilih publish blog saya, tp karena kami nggak ada waktu lagi utk ribut soal itu (tenang, saya tau dia nggak baca blog saya, jadi nggak perlu repot siap-siap terima kritik dari dia yg suka protes 'diskusi' kami yg saya sebut 'debat') *LOL*


Nanti ya, saya tulis cerita lagi. I don't write what I can talk, I don't talk what I can write. So me.

di antaranya

Tuesday, 10 May 2011

"i need to move, if you can't then let's just call it quit" Langgar membereskan kertas-kertas ujian di meja kecil di kostan-nya. Delia menatap kosong pada layar laptop Langgar di lantai. Angin pelan dari kipas angin di pojok ruangan meniup-niup rambu bagian depannya yang berantakan. Ini permintaan yang cukup berat, sudah setengah tahun lebih mereka berbagi barang haram, lalu sekarang Langgar mengajaknya berhenti dengan ancaman putus. Delia merasa bimbang dan ragu pada dirinya sendiri, antara akan kehilangan seorang Langgar yang selalu menemaninya dan membantu dalam berbagai hal, atau kehilangan kebiasaan buruknya memakai narkoba dan ketakutannya akan rasa sakit yang tak tertahankan. Rasa takutnya menjadi berlebih lebih saat Langgar bilang akan berjuang mati-matian berhenti menjadi pemadat.


"aku juga mau coba, tapi aku nggak mau lagi pacaran sama kamu kalo gitu"
"nggak masalah, selamat berjuang, you are free now" logat jawa Langgar tidak membuat Delia tergelitik sedikitpun. Ia melihat dari sudut matanya Langgar hampir selesai dengan kertas-kertas dan sebentar lagi akan mematikan laptopnya lalu menuju kampus. Iapun membereskan dirinya, memungut batang rokok yang masih utuh yang berserakan di dekat sofa lalu pergi mendahului Langgar. Sama sekali tidak ada rasa heran dalam dirinya tentang sikap Langgar yang begitu dingin dan angkuh, tidak seperti Bram, adik Langgar yang baru dikenalnya sebulan lalu.


SEBULAN LALU
"aku nggak percaya Mas Langgar punya pacar kayak kamu, pasti kamu cuma asisten dia di kampus toh?"
"Serius, kami memang baru pacaran sebentar, tapi udah kenal lama. dan aku nggak tau Langgar punya adik kayak kamu" Delia membalas bau alkohol dari mulut Bram dengan kepulan asap rokok dari bibirnya yang merekah. Mereka larut dalam pesta kampus itu dan Bram mulai tertarik dengan Delia. Menurut Delia, Bram hangat dan ramah, tidak seperti Langgar yang dingin dan kaku.


"kalo memang Mas Langgar pacarmu, kutunggu kalian putus supaya aku bisa deketin kamu" Bram membukakan pintu mobil untuk Delia. Senyuman penuh arti Delia mengakhiri pertemuan mereka dan Bram segera kembali ke klub untuk mengembalikan  mobil pinjaman itu dan lekas pulang untuk ketemu Langgar di kost-an. "aku kasian sama dia, sepertinya butuh banyak dukungan akademis di kampus" Langgar mengklarifikasi kedekatannya dengan Delia. "dia ngganggep kamu pacarnya lho mas, nggak lebih kasian kalo dia jadi nggak bisa pacaran betulan karo sopo wae sing bener-bener seneng?" Bram berkata ke arah punggung Langgar yang saat itu sedang menyetrika baju dan dirinya sedang membereskan tumpukan DVD di kamar sempit mereka. "bukan salahku, tho, aku nggak pernah ngejak pacaran" Bram hanya menggeleng menyerah atas sikap kakaknya.

secarik catatan dari kubikal saya

Wednesday, 4 May 2011

tulisan menepati janji ini saya buat tengah malam saat tiba-tiba terdengar suara khas dari kantor saya yang baru saya tinggalkan. memang mimpi yang aneh. however, sebenernya saya mau mengabjad semua rekan kerja saya, tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, jadi saya highlight aja ya. i just want to share my unforgettable moments and people arounf me. let's start over.


1. Meylanie Suhandini, Reino Praptama dan Hanatazha Chatrien. Saya nggak tau cara misahin 3 nama ini dari urutan pertama di list saya. Mereka orang-orang yg pertama kali ada di dekat saya (physically and mentally) waktu saya di DHL. Learnt a lot from these mates. Up until now, I still caress them as much as I did when we were together there.


2. Devi Novianty. The bestest supervisor yg pernah saya temui. Nggak galak meskipun saya punya sejuta kesalahan, keluhan dan kekurangajaran. Selalu sabar dan terbuka dalam banyak pelajaran. Smart dan selalu mau membantu dan membimbing. She's a good mother indeed, and I love her, very much.


3. Muhammad Chairun Nur Rezki. Senior yang bener-bener jutek diluar dan lembut di dalam (macam biskuit ya). Termasuk orang yg nggak bosen ngingetin saya atau skedar ngasih tau mon petit mistake! Super skali ya taruhan-taruhan kita dan ke-kepo-an tentang banyak hal. This person is consistently annoying yet amazing. I wish I could play some more games with him, about life and how we joke around about it. ;)


4. Lusianingsih. Wonderful table-mate ever selama bulan-bulan terakhir di DHL. Dia selalu sharing tentang byk hal, yg sedih, yg lucu, yg menegangkan dan yg bikin merinding. Saya selalu iri liat harmonisme dia dan suaminya, wish her the very good life with his hubby. Terima kasih saya yg paling besar ada pada pendengaran dan perhatiannya terhadap apapun yg sedang saya hadapi. I missed her so bad.


5. Heri Maulana. Kalau ada orang yg bersyukur karena komputer rusak, ya itu saya. Karena kalo nggak gitu, Mas Heri nggak akan jadi jagoan neon yg install CC cleaner, bersihin file lama, benerin global dan hapus smua virus. Tentu saja saya nggak peduli kalo ada yang komentar "kok lo bisa buka youtube sih? PC gue enggak! Gara-gara ndeketin orang IT nih yaa.." then I just smile and think "maybe you weren't warm enough to heat the IP address", selamat pagi 8488 :)


6. Syahrul Mulyana, Achmad Moesadad Shatrie, dan Erera Dwi Hapsari. They are goddamn smart. Beneran nggak tau lg mau describe apa tentang mereka. S.M.A.R.T. They impress me in many ways, they are professional, legitimate and charming. I think no matter where they go and stay, they're totally going to make a 'life' and that's it.


7. Ahmad Irfan Ashari dan Widhyasari. Tag team yang ini menyenangkan sekali, humble namun berwibawa. Friendly dan bener-bener nggak memberikan garis tegas yg menjelaskan "gua supervisor ya, ati-ati loh" yang bikin saya bener-bener enjoy kerja dengan mereka. Saya bebas sharing apapun sama mereka, dan attention yg mereka berikan nggak kalah dgn yg bisa diberikan seorang 'teman dekat'. Awesome!!


8. Ahmad Masykuri. The most silent person yet the most helpful one. Kalo bisa dipersentasekan, komunikasi saya paling banyak adalah dgn beliau, tentu saja saya yg ngerepotin dgn berbagai pinta dan tanya. He's very kind and so independent (karena duduk di pojok sendirian)


9. Farid Gusman. Nih salah satu temen yg super duperr kind dan entertaining. Bayangin aja, customer pun diprospek sama dia deh! Antara baik dan super baik itu distinctionnya ada di Farid. Saya berharap kisah cintanya nggak tragis terus-menerus, dan saya doakan lekas melangkah ke jenjang yg lebih serius (dgn siapapun itu). Inisiatif dan keterbukaan Farid ngajarin saya kalo "being kind is always good, being over-kind makes you look pathetic" :p


10. Aslim Syah, Muhammad Ruslan dan Achmad Rafi Harlin. Di antara tiga orang ini, cuma Ruslan yang pernah saya temuin, itupun sekali. Intinya diantara ke'nggak-ketemu'an kami, saya merasakan real network relationship berjalan dgn canggih sama mereka bertiga. Very supportive dan mereka beneran profesional dlm bekerja. Sesekali, eh, SERING kali saya ngerepotin mereka, tp tetep mereka kasih saya big grin lewat email atau telepon. And it feels great to work with such people.


11. Daniel Mark Jatnika, Diba Fhania Muharani Nasution dan Farah Karina. They are my total partners in crimes!! Gosip dan dukungan datangnya dr tiga orang luar biasa ini. Obrolan sampe curahan hati yg gak penting sudah saya bagi sama mereka dan rasanya menyenangkan sekali punya temen 'senasip' (pake P bukan pake B). Yuk foto-foto lagi cyiin.


12. Monica Lombardini, Nadhirah Indocalita dan Amirah Ali Dato Madilao. Nih tiga serangkai idrequest yang menurut saya task-nya unik dan spesial. Saya kadang iri dgn kerjaan mereka yang require international communication skill dan extra knowledge about our products. Very inspirational to work with such mature, wise and brilliant people like idrequest team.


13. Eka Dharmanus. Saya diem berapa lama setelah nulis nama ini, nggak tau mau describe apa, karena emang nggak ada apa-apa. Cukup yah 4bulan jadi bulan-bulanan temen sekantor ttg office romance yang bikin saya terbahak-bahak. Semoga pacar kami masing-masing cukup tau kalo kami ini hanya korban candaan kantor saja. But yeah, talked very berry merry much perspective about many things with such person like him. I wish you all the very successful effort and results ya, dear. DHL.


14. Ian Lauda dan Irhamna Robby. Yang satu mengajari saya makna menjadi the real stalker, yang satu lagi mengajari makna menjadi eksplisit dalam berbagai hal. Selamat berjuang di middle shift ya para Bapak dari anak-anak yg hebat. Lanjutkan perjuangan malam dengan kasus dan webpage untuk dibaca. I really look forward to hear more things from you, guys :D


15. Dini Savitri, Bharata Yudha, Eben Ezer Ericsson Rovic. Para senior yang senantiasa feedback saya dengan hati dan jiwa yg terbuka. Mereka nggak ragu ngomelin saya dgn kasih sayang dan berbagi rahasia ttg beberapa hal. I wish Dini finally could find that 'chance', I wish Eben the biggest heart with all his dedication, and I wish Yudha keep on supplying me Nickvan Holyproject tracks :)


I really wish I could work with you guys, again, someday. Xoxo.

maintaining the relevant subordinate

Sunday, 1 May 2011

"Remember to shut down the main switchboard and take a really good look at the weakest beep, understood?"
Aku memastikan Louis memahami sirkulasi pergerakan paralel waktu yang akan kami mainkan. Aku akan kembali lagi untuk ketiga kalinya. Eksperimen berbahaya ini benar-benar menantang dan aku harus menyelesaikannya.
"Every life cycle in this paralleled time machine could risk the main person's life himself. Professor Dwight is a kind of risky person in this particular experiment" aku mendengar Albert menjabarkan sistem kerja kami dari luar laboratorium isolasi. Aku mendengar juga salah satu mahasiswanya menanyakan umurku dan Albert dengan lantang meralat perkenalannya tentang namaku, "sorry, forgot to introduce you properly, the youngest Professor of Sylar Laboratory, Irwin Dwight" aku bisa merasakan mahasiswa-mahasiswi itu ber-whoo ria mendengar namaku disebutkan dan prestasiku dijabarkan. Namun aku memilih fokus pada return ketigaku. Kali ini targetku adalah 3x lipat dari sebelumnya.

"This time, Professor Dwight will go back to his 3 hours ago time and improve some kind of situation there, which in this particular, is the number of Starbucks visitor in his visit. He has to live the paralleled scheme of time, and live those time frame effectively and continuously"
"So Professor, basically, this is like cloning of individual in different world, I mean, different time frame in his life" salah satu mahasiswa Asia mengacungkan tangannya menanyakan validitas konklusinya.
"Exactly, the risk that we have to take is, because it's a parallel time frame, the 'player' there, we call them so, has to be monitored very carefully through that huge coordinate board. My friend Louis, has to shut down every time frame that has the biggest possibility to crash another time frame"
"Professor, what will happen if those frames crashed?" pertanyaan mengerikan itu akhirnya keluar juga.
"The main character will lost in time translation. He will be confused of which frame he really belongs to, this could affect the motor nerve and of course, nothing and no one can settle which time frame he'll be in, virtually. In other words, this can cause him to death." Semuanya diam, bertepatan dengan gerak telunjuk Louis pada tombol "send" di papan ketiknya.

Aku masuk lagi, cuaca yang sama, orang-orang yang sama, toko yang sama. Aku melihat 2 orang masuk ke dalam toko kopi terbesar di dunia tersebut. Mataku mengarah pada personil toko yang terpeleset dan pasangan yang sedang bertengkar di pojok ruangan. Aku melangkah masuk, melakukan tugasku, dan menggagalkan kecelakaan pada barista malang tersebut. Ia melengang keluar toko dan mendekati pasangan yang tengah rumit bertengkar. Aku melanjutkan misiku, dalam 30 menit, akan ada aku dari bingkai waktu sebelumnya. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan bicara dalam hati berharap Louis mendengarnya. Aku berharap ia mengerti koordinat mana yang pertama dan yang kedua untuk dimatikan.


10 menit berlalu, aku merasakan hawa di toko kopi semakin tidak segar. Bau kopinya menyengat, dan untuk pertama kalinya aku tidak menyukai bau kopi. 20 menit lagi Louis harus mematikan koordinat sebelumku, dan aku menyesal tidak menciptakan terlebih dahulu alat komunikasi antar bingkai waktu paralel. Aku hanya bisa duduk diam menunggu di kursi dekat jendela. Sambil memperrhatikan progress misiku, aku merasakan detik jarum jam di pergelangan kiriku bergerak mendesak. Tiba-tiba semua gelap.



"What just happened was, Louis sent back Professor Dwight to our time frame, the real one. He will write report based on Professor Dwight experience and analyse what could be improved."
"Are you gonna send him back again?"
"Basically, until our client satisfied with our report. Practically, until we profound relevant result for our research" Albert menjelaskan kalimat terahkir dengan ragu-ragu. Aku mengusap kepalaku bagian belakang dan meminum segelas air putih yang disodorkan Louis padaku. Aku merunut sandi pengembalian dan membiarkan Louis mempersiapkan peralatan laporannya.

"To what extent Professor, you guys are insisting to resend the player over and over again?"Aku ingin berteriak menjawab pertanyaan itu. Sayangnya, Albert sudah menjawabnya secara ilmiah, "scientifically, we don't tolerate any failures of invention in form of statement. We stand upon consistency and we work to possible the impossible"


"Bullshit" aku berbisik pelan mendengarnya. Louis hanya menggeleng sambil tersenyum melihat ekspresiku. Ia tau persis betapa aku sebenarnya tidak suka program ini. Maksudku, ayolah, kau meresikokan hidup seseorang untuk mengetahui strategi bisnis. Mereka tidak lagi percaya pada riset dan statistik, mereka menginginkan eksperimen mempermainkan waktu dan memaralel waktu hidup manusia. "I really will find the anti-matter to this theory and implementation, Louis." Aku mengubah posisi duduk dan tersenyum pada gemrombolan mahasiswa Albert yang mulai beranjak dari muka laboratorium eksperimen kami. Aku minta waktu 15 menit sebelum mengajak Louis memanipulasi laporanku. "These guys should really realise that we play the machine, unlike the other way around" lalu aku dan Louis tertawa bersama-sama.