what people might see, not understand (part two)

Sunday, 14 October 2012

If there's anyone in this world in my life that asked me to re-start doing things that I've been quitting, it must be my girlfriend. She's indescribable, she's just always there. She tells good jokes about my ancient history and she cooks well.


After the accident, I've been reading my journals and in-distance report regarding my research. I found some error on the way I've been working, and the result too. I barely know that even radiation level could raise up that high and I still thankful at least I'm not in Hokkaido anymore."


Couple of weeks ago, I think Julia asked about our relationship. I wish I could tell her how much I've always wanted her around. The distance between us doesn't stop her from being attractive and helpful. I miss her now, although she'd be home in no time tonight. With the dinner.


"Kimiga koishii desyoo!" Her voice. Always her voice that I missed these very late days during my recovery months. And I don't know where did she get all that energy to company me after all this time.
"Atashino atamaga ii Jule-chan" then she babysit me, with the dinner, medicines, paper and my blankets. I stopped her from going to the kitchen, asked if she's still interested talking about the relationship thingy. She nodded and smile wisely.


I thanked her for being kind and patient to me, especially after the accident. I told her briefly about what's been going on in my research just because I know she'd love to hear more if I exposed, which is not the focus in this talk. I expressed how I don't want to miss the chance to be with her by saying that I wish I wore my safety helmet and hold the gear near that site. I told her I wanna be with her if only she could hold on to me a little bit longer.


She nodded. Still with that wise smike that tore my heart apart for being cold so far. I'm glad she could read my mind, or at least that's what has been reflected by our relationship. And now, I tell you what? If I decide to re-write my research journal again, it must have been Julia who supported me behind my back, beside me, and pull me forward beyond my insensitivity.

Nothing Really Is Sparkling, We're Just Too Old To Fancy Formality.

Saturday, 13 October 2012

"aku nggak tau ma, kayaknya semua Putra yang siapin. Aku udah liat sih design undangannya dan aku udah approve yang aku suka." Gita mengapit telepon wireless di antara telinga kanannya dengan pundak sementara tangannya sibuk dengan sabun cuci piring dan gelas kotor, "oke, once aku ke Surabaya aku pasti kabarin mama nanti. Bye"


Minggu lalu mereka tunangan; secara teknis memang orang tua Putra yang datang ke rumah Gita di Surabaya untuk menyampaikan maksud mereka dan melamar Gita yang sedang dinas di Papua. Kedua pasang orang tua terlihat akrab meskipun kedua mempelai Putra dan Gita sama-sama tidak di tempat. Putra menyerahkan rencana dan kelengkapan lamaran kepada orang tuanya dan meminta mereka melamarkan Gita untuknya. Sebenarnya orang tua Gita baru bertemu Putra dua kali, di pesta pembukaan gedung kantor baru Putra dan acara penghargaan Doktor Gita taun lalu, tapi rasanya Putra sudah sangat memberikan kesan terhadap mereka.


"Ya Mam?" Putra membuka tirai kamar hotelnya di Aceh dan menemukan pesepeda mulai riuh menuju tempat mereka mengais rejeki.
"Putra udah kasih tau Gita sih kalo kami akan ke Surabaya bareng minggu depan, tapi ketemuan di Jakarta dulu ya Mam." Putra menghela nafas panjang melihat agenda kerjanya hari ini. Ia tak sabar kembali ke Surabaya bersama tunangannya. Segera dimatikan teleponnya dan ia menuju kamar mandi.


Suasana ruang meeting begitu membosankan, Putra memutar-mutar cincin di jari manis kirinya. Ia sesekali melirik ponselnya yang berkedip-kedip kuning menandai email masuk. Kemudian kedipannua menjadi warna merah; ia dengan sigap meraih ponselnya dan membaca pesan singkt dari Gita, "aku dapet tiket murah banget papua-jakarta, love. Can't barely wait to see you!"


Udara papua masih sangat panas, Gita mengaitkan kedua ujung tali bra-nya. Memasangkan kemeja dan celana kerjanya. Lalu memasang cicin tunangannya setelah ia beres dengan make up dan bergegas ke kantor.

Speed Typing Might Have Brought Me Somewhere Speed Dating Would Not.

Friday, 12 October 2012

Week 1
"Eh sorry, itu sendal gue. Kenapa ya difoto?" Abel gusar melihat sandal KW miliknya difoto oleh stranger di depan masjid seusai solat Jum'at.
"Oh punyalo, sorry. Gue lagi bikin thesis tentang branding dan typografi, trus gue liat ini lucu aja, "connverse" pake 2 N. Tau kan kalo di tajwid namanya idgham bighunnah? Hehehe" agak kikuk Ausi menjelaskan tingkah absurdnya ke Abel
"Typografi?"



Week 2
"Ini udah jaman digital gitu, kenapa sih masih nulis tangan?" Ausi masih membolak balik halaman sketch book Abel di perpustakaan kota, ia salut sekaligus bingung atas kelangkaan makhluk yang baru ditemuinya seminggu lalu.
"Ini udah jaman cherrybelle gitu, kenapa elo masih dengerin Ludwig?" Abel mendorong maju sedikit meja di hadapannya dan mengangkat pensil HB ke tangan kiri Ausi yang sedang berdiri di sebelah kanannya.
"I don't know, seni?"



Week 3
"Rotiboy tuh baunya enak banget, rasanya biasa aja sebenernya" sepasang Abel Ausi menghiraukan bising di terminal 2 bandara siang itu. Keduanya asik menyantap roti sebagai makan siang mereka karena harus menjemput orang tua Ausi dari Saudi Arabia.
"Setuju! Kebanyakan anak jaman sekarang senengnya nongkrong di kafe gaul gitu, makan makanan mainstream yang baunya biasa aja, tampilannya exaggerated, harganya ngga masuk akal, trus rasanya juga biasa aja."
"Apa sih lo Bel, anak jaman sekarang, emang lo anak jaman kapan?"
"Nih ya, kalo kita bisa rewind atau fast forward waktu, gue akan ke masa depan...."
"Oh bener ni mau bahas time travel?" Lalu perbincangan mereka tak usai sampai pengumuman landing diperdengarkan.



Week 4
"Nih, lo dengerin Matchbox Twenty terbaru! Mereka bakal dateng kesini akhir taun ini!" Ausi menyeruak dari balik bilik audiophille di toko buku kesukaan mereka. Abel meliriknya sedikit, lalu beralih pandangan ke CD yang disebutkan Ausi.
"Ah taik banget recording label ini! Haha! Macthbox Twenty masa dia nulisnya?" Abel membalik cover album itu dan bangga menemukan salah ketik di dalamnya.
"Hahaha! Tapi mungkin gak sih kalo emang Macthbox in other language means something else yang dimaksud sama si penulis cover ini?
"Ah mulai deh ahli typografi dan semiotik berkontemplasi! Buat gue mah tetep aja moron!" Abel tersenyum puas atas kemenangan di otaknya sendiri. Ausi ikutan tersenyum, sepertinya bulan ini adalah bulan apresiasi bagi mereka berdua.



Week 5
"Happy birthday Abel!" Rekaman suara singkat itu menyambut Abel yang baru saja bangun. Matahari persis menyinari wajahnya di musim panas bulan Juni. Ia ada janji makan siang dengan Ausi lalu premiere di bioskop untuk menyaksikan serial kesukaan Abel versi movie.
"Hey, thanks ya! It was like the shortest simplest and sweetest birthday greetin ever!" Suara paginya diusahakan tidak terlalu berat saat Ausi menjawab telponnya.
"Hey birthday boy! I won't be able to make our lunch today, tapi kita tetep wajib harus mesti nonton filmnya! I got us two VIP seats as I know the owner of the theatre!"
"Too bad! Gue mau cobain chukaidako di sushi resto baru samalo." Abel agak kecewa dan suaranya kembali berat
"I know, terribly sorry! I'll make it up to you, kita bisa dinner later!" Tak lama kemudian Ausi terburu buru mematikan teleponnya, kembali ke meeting dengan dosen untuk persiapan sidangnya.



Week 6
"This might sound awful, but my girlfriend says we can't be no longer close friends" dengan rasa ragu Abel mengetik pesan singkat ke Ausi sore itu.
"Hey, we're not close friends. We're just strangers getting along so well because of that accidentally but legendary Connverse sandals. We're gonna be okay!" Akhirnya Ausi menelpon Abel, menyelesaikan yang belum dimulai setelah sekian menit terlewati bersama.

Dear Stalkers,

Tuesday, 9 October 2012

I have been told that I have no brain, no heart and insensitive.
I wonder what makes you keep on checking out my posts.
Is it the stupidity? is it the curiosity? Is it the intention to mock?
Is it that I'm interesting?
Thank you.

malu bertanya, sesat di jalan.

udah bertampang serius ala nerd mark zuckerberg pas mau posting kali ini, eh abis nengok halaman web sebelah langsung urung dan buyar otak gue memikirkan konten fiksi bagus. begini emang kalo lagi risau dan kisruh di hati, apa yang ada di otak jadi nggak tersalurkan secara efektif dan eksplisit di sikap.



Jadi ceritanya pagi ini adalah salah satu pagi terhectic saya pasca kepulangan saya ke tanah air. Jam 8 pagi saya sudah duduk manis di meja kantor, kembali menjalankan dinas saya sebagai karyawan spesial tingkatan babu di ruangan cantik, temen-temen saya bilang "asisten pribadi boss". Tugas pagi ini adalah menyiapkan dokumen-dokumen kelengkapan untuk membuat visa ke negeri Belanda, alias visa Schengen. Setelah merapikan meja dan komputer yang berantakannya beda tipis sama muka saya, saya mulai dari website kedutaan negara tujuan. di halaman website sebelah ada kedipan yang minta ditengok -ternyata sapaan dari instant messaging.

"hoi! apa kabar lo?"
"eh, baik gue, lagi ngurus visa buat bos besar mau travelling"
"ada reuni SMA lo tau nggak? udah terima undangan belum?"

saya mencoba mengingat undangan mana yang dia maksud. teman SMA ini pernah naksir saya dulu, cuma karena saya nggak nafsu pacara, saya tolak tawaran dia untuk jadi pacar. sekarang tiba-tiba dia muncul setelah sekian bulan nggak kedengeran kabarnya; dan kabar terakhir yang saya dengar dia mau nikah. sekilas pikiran saya berkontemplasi bahwa 'reunian' ini adalah acara pernikahaannya.

"hehe, enggak deng, undangan nikah gue maksudnya. tapi sekalian reunian"

nah kan benar!

"belom! undang gue dong! tega lo sama temen! ada di facebook?"
"enggak, nanti gue pos ya, apa alamat kantorlo?"

seusai mengetik alamat kantor, saya mematikan instant messaging di halaman sebelah dan kembali fokus pada layar aplikasi online visa. Setelah telepon sana sini, dokumen yang saya perlukan siap dalam waktu tiga jam. Mungkin ini nikmatnya kerja untuk orang pintar, meskipun agak bossy kadang kadang, tapi boss saya memang boss. Jadi wajar dia bossy.


Seusai makan siang, appointment sudah siap dan besoknya saya arrange supaya boss besar bisa datang untuk biometrik di kedutaan. Seketika datang lagi pesan instan di halaman web sebelah, teman sewaktu saya merantau dulu.

"lo udah di Indonesia?"
"hoi! udah! gimana kabar?"
"alhamdulillah persiapan wedding udah beres, gue kirim undangan ke elo via fb gak apa kan ya?"

saya berhenti mengetik. menghapusnya lalu menunggu pesan selanjutnya dari dia.
"gue putus! trus sekarang balik lagi untuk langsung nikah"
"congrats yes! gue usahain dateng!
"wajib!"



Jam tiga sore telepon di meja saya tidak berhenti berdering, dari konfirmasi janji, reminder meeting sampai tawaran asuransi. Semuanya saya layani sambil terus mengurutkan itinerary perjalanan boss yang akandipakai untuk apply visa besok. Seketika Pak Anwar, mailman datang ke meja saya, memberikan kode "matiin telponnya gue mau ngomong" lalu saya menyudahi negosiasi jam meeting dengan klien kami."
"kapan balik? udah sibuk aja nih!"
"Alhamdulillah Bapak! Gimana kantor pos kita?"
"ini surat-surat selama non pergi. Ini yang tadi pagi. Assalamualaikum"
"Wa alaikum salam Bapak! Terims!"


Tumpukan surat setebal kurang lebih 8cm itu isinya kebanyakan subkripsi majalah, katalog belanja dan tagihan kartu kredit sampai materi promosi design arsitektur, seta tentu saja, undangan pernikahan. Yang paling bawah, buku tahunan dari kampus saya. Lima halaman pertama buku itu menampilkan teman-teman seperjuangan saya yang sekarang sudah punya anak. Lima halaman berikutnya berisikan sekumpulan cewek dan cowok yang kebetulan sudah lebih dari setengahnya menikah. Lima halaman berikutnya berisikan orang-orang yang sudah send out invitation pernikahan baik via email, facebook, maupun pos.


Belum berakhir disitu, deringan panjang dari telepon selular saya membuyarkan senyum rindu saat membuka-buka halaman buku tahunan itu. Ternyata Juwita, temen SMA saya juga.
"Kenapa lo pulang nggak ngabariiiinnn!!! kangen nih! ketemuan dong!!"
"Hai, sorry jeung, gue udah masuk kantor lagi ini, biasa membabu! hehhee, hayuklah ktemuan!"
"Sip! nanti sore bisa nggak? gue di deket kantorlo nih hari ini, skalian gue bawa seragam buatlo jait; jadi among tamu gue yaa minggu depan!"


Saya hampir lupa Juwita akan nikah minggu depan. Seusai mematikan panggilan darinya, saya merapikan meja kerja, menuntaskan kertas-kertas yang tidak pernah bisa tuntas, serta menumpuk folder folder seukuran raksasa di kaki saya. Menutup hari kerja, saya mengirim pesan pendek lewat sms ke pacar saya "hon, i've got 2 weddings next week, one wedding the week after, and five weddings next month. Let me know when you're up to shopping! xx" lalu memasukkan ponsel ke dalam tas supaya saya bisa bergegas pergi.



Ternyata hari belum berakhir, di lift, pertanyaan simple muncul dari kantor sebelah yang bersarang di atas lantai kantor saya.
"Hey, udah balik? Gimana kabar?"
"Baik" saya nggak tau mau jawab apa, dan hanya senyum sepanjang tiga lantai.
"Pacar masih?"
"Masih kok" sambil mengingat ngingat siapa orang ini, saya memperhatikan angka penunjuk lantai yang ternyata menyisakan 18 lantai untuk saya turuni dengan lift itu.
"Kapan nikah?"
seketika pintu lift terbuka di lantai berikutnya dan segerombolan orang masuk, sekitar 8 orang masuk ke lift besar itu dan saya sengaja menyingkir jauh dari orang yang menanyakan kapan saya nikah tadi. Syukur gerombolan itu tinggi-tinggi dan berisik sehingga saya tidak perlu menjawab pertanyaan tadi.
selang lima lantai, segerombolan orang itu keluar; SEMUANYA. Kembalilah kami berdua dengan si penanya yang saya bahkan lupa namanya siapa.
"Jadi, kapan nikah?"




that couldn't be possible.

Monday, 1 October 2012

"No! There is no way you're taking her to meet your Mom on the fourth date!"
"What? Why? I like her and she likes me back!"
"Man! I tell you what? She's the kind of girl your Mom would love, I'm gonna bet you both my ears if she wouldn't! And by that, you're getting yourself in a trouble!"
"What's the matter with you? Why can't you be supportive? I don't hesitate to take her home, and I just want my Mom to meet her, and that's it!"
"Once your Mom's in love with her, you're gonna be dead, as she WILL leave you! She totally will!"
"This doesn't make any sense to me, she likes me, I know it!"
"She loves you for a while, for this speeches you've made and all the surprise you threw for her, and that's it. Three months max, she's gonna dump you, trust me!"
"Why? Have dated her before me?"
"I did date her! That's why! My mom's dying now wanting me to get back with her, but I can't. I mean, I don't want to!"
"What? Why did you tell me this?"
"I care for you man! Cut off the idea bringing her to your mom!"