me and Billy

Sunday, 28 November 2010

all right, I’ll have this in the pharmacy store, thank you.” Tepat setelah mengucapkan ‘bye’ aku berbalik dan BUK!! Aku menumbuk setumpuk buku tipis dan sebuah tubuh besar menjulang di belakangku. Ia langsung bangkit mengangkat tanganku dan meminta maaf sambil mendengarku juga mengucapkan maaf berkali-kali. “I swear I didn’t know that you were about to turn your body around and crashed everything.” Dia panik dan aku melanjutkannya dengan berkata “I hope I didn’t break anything or rip any books of yours” sambil membantunya merapikan buku-buku yang berserakan.

Selesai berberes, ia mengatakan “sorry” sekali lagi lalu beranjak pergi. Aku tidak melihatnya menatapku saat berkata “bye” dan akupun tidak mau ambil pusing atas sikapnya yang tanpa berbasa-basi. Aku tidak pernah tau bahwa bule benar-benar tidak bisa basa-basi. Sepertinya banyak hal baru yang harus kuterima di sini. Dan sebagai warga negara baru, memang seharusnya aku tidak perlu banyak aksi. Aku meremas perut sebelah kananku yang tadi menghantam buku-buku dan melangkah keluar dari gedung utama menuju gedung farmasi.

Aku sedang membeli obat untuk suamiku, kemarin demamnya hingga 40 derajat celcius dan kemungkinan penyebabnya adalah udara negara ini yang kurang bersahabat ditambah jadwal latihan band-nya yang kurang manusiawi (baca: hingga jam 3 pagi). Mereka sedang mengerjakan suatu proyek besar untuk pembukaan acara musik raksasa di negara itu. Aku memang bangga suami aku bisa main dalam acara besar namun saya kesal juga kalau akhirnya ia harus mengorbankan kesehatannya. Seperti sekarang misalnya, teman-teman band-nya datang ke rumah untuk mengerjakan editing musik meskipun Billy sedang benar-benar payah menunggu obat yang akan aku tebus ini.

Jadi sepulang konseling, aku terbiasa bertemu untuk makan malam dengan suamiku sebelum dia mulai latihan band. Lagi-lagi, sebagai warga negara baru, kami senang mencoba rumah makan yang berbeda setiap malamnya. Kemarin malam kami masuk ke warung sea food yang luar biasa lezat sampai aku nekat makan udang dan akhirnya suamiku terpaksa mengantar aku pulang dulu karena khawatir gatal akibat udang itu membuat aku lupa jalan pulang. Ya, kebetulan dia memang sesayang itu padaku. Dia juga yang mencarikan aku kerja di kota ini, tempat dimana dia dapat tawaran menjadi music arranger salah satu band lokal kenamaan.

Billy dan The Window adalah pasangan hidupku selama tiga bulan ini. Mereka asik bekerja sambil terus peduli dan memeriksa apakah aku baik-baik saja dengan pekerjaan baruku sebagai konsultan pendidikan. Bukan apa-apa, Billy merasa bertanggung jawab sudah menikahiku dan ternyata aplikasinya untuk bekerja di negeri orang diterima. Spontan ia malah sibuk setengah mati mencarikan aku kerja dibanding menyiapkan dokumen-dokumen untuk visanya. Sore itu Billy bilang “thank God I married a genius female who would easily get a job with me in everywhere” sambil mengangkat acceptance letter dari universitas swasta di kota yang sama dengan tempatnya bekerja. It was a blessed to work in campus, as a consultant, dan tetap tinggal serumah dengan suamiku.

Anyway, we were facing such hard times together karena dua minggu pertama kami selalu ribut tentang jadwal kerja dan aturan-aturan di rumah baru kami –it was a flat by the way. Billy baru mulai bekerja siang hingga malam hari sementara dia bersikukuh untuk mengantarku ke kampus setiap pagi. Dia bilang “orang sini masih pada rasis, aku nggak mau kamu jadi bahan bulan-bulanan mereka” dan setiap pagi adalah percakapan yang sama antara itu dan “kamu nggak usah anter aku kalo sepanjang jalan hanya akan tidur dan ngedumel soal cuaca dan antrian bus, Billy”. Sampai akhirnya Billy mulai terbiasa dengan capucinno instan buatanku dan gumpalan jaket yang membalut tubuh kurusnya. Billy juga mulai terbiasa memeluk pinggangku saat tumpukan orang sudah memenuhi bus ke arah kampusku. Sepulang mengantarku, tentu saja Billy tidur lagi sampai siang menjelang.

Aku memberikan resep obat ke apoteker dan dengan sabar duduk menunggu di pojok ruangan dekat mesin penghangat yang jadi idolaku setelah lukisan abstrak Billy yang kugantung di pojok kamar tidur kami. Aku sendiri masih belum percaya kami bisa tinggal jauh dari orang tua di Indonesia, dan rasanya perjuangan hidup benar-benar dimulai di sini. Meskipun aku adalah perantau dari Bali ke Jakarta, aku tetap merasa harus berjuang lebih keras untuk tinggal di luar Indonesia, sebagai seorang istri, sebagai seorang konsultan. Satu hal yang selalu kusyukuri adalah memiliki Billy sebagai pendampingku di negeri asing ini. Sekarang membayangkan ia terkapar bersama laptop dan kopi di rumah tanpaku benar-benar menyiksa.

“are you worrying about something, young lady?” seorang nenek berumur menghampiriku dan aku langsung bangkit mempersilahkannya duduk. Ia mengambil posisi di tempatku dan aku bergeser ke depannya. Setelah duduk berhadapan dengannya, aku baru menjawab “I am thinking about my husband, he is sick” ia tersenyum dan menyodorkan secangkir teh hangat untukku, aku menyambutnya dan meminum sedikit teh itu. “You are a good wife, just be patient, nothing in this world last forever, including your husband’s illness”. Aku tersenyum mendengarnya dan kami terperangkap dalam obrolan cukup dalam sejenak sampai aku mengucapkan “are you here for a prescription or the drug, ma’am?” dia menggeleng, meminum tehnya sedikit dan menjawab “my grand daughter works here, I want to pick her up and take her to the city for a movie” Aku mengangkat alisku dan melihat berkeliling sambil memeriksa apakah resepku sudah selesai.

Betul, seiring mataku mengikuti arah jari si nenek ke meja kasir, aku dengar nama suamiku dipanggil dan ternyata petugas kasir itulah cucunya. Aku membayar obat dan pamitan pada sang nenek “it was a good time to talk to you, thank you very much for the tea”
Dia mengangguk dan mempersilahkanku keluar. Aku pulang sambil tersenyum dan senyum itu hilang saat aku melihat papan “The Window, you see everything” yang tergantung di depan pintu apartemenku tergolek miring. Setelah membetulkannya dan menyeruak masuk, aku menemuka Billy sendiri sedang meminum jahe hangat kiriman mama di Indonesia sambil menatap ke arah jalanan. “udah bangun yang? Temenmu mana? Bubaran?”

Billy tidak menyahut dan aku menghampirinya setelah memposisikan obat di meja kecil dekat kasur kami. “No hurry, acaranya di undur sampe bulan depan. I got more time to remix and remake everything. Anyway, how was the drug, my lovely drug?” Billy menghabiskan jahe hangat dan memelukku dari samping, “did anyone bug you?” Ia menciumi keningku dari samping. Aku terdiam dan merasa aneh dengan sikapnya. “Fine, ayo makan terus minum obat sebelum kamu kerja lagi” Aku menariknya ke meja makan depan TV dan mulai meracikkan bubur oat untuknya. Billy menghidupkan TV dan memilih siaran berita sambil menungguku menyiapkan makanan.

“Aku nggak suka oat, makanya aku nggak suka sakit” Billy menggumam saat aku menyuapinya bubur tanpa rasa itu, ia masih terlihat pucat dan mencoba membuatku sedikit lebih nyaman. “Kenapa mereka banting pintu, Billy? Did you guys fight?” Billy mengernyit dan mengeraskan volume TV supaya aku diam dan tidak membahas kenapa papan nama band di pintu tadi miring. “Honey, there aren’t things we are hiding from each other.”

Billy menghabiskan sendiri oatnya dan meminum pil lalu menarik selimut dan meletakkan kepalanya di pahaku. Wajahnya menghadap ke TV dan sofa empuk itu menopang kepalaku dari belakang. Kami terdiam sepanjang sore sambil menatap hampa pada layar TV kami. “I think I should find another job. The Window terlalu arogan” Billy akhirnya bersuara. Aku yang setengah sadar mencoba mencerna kata-katanya dan justru membalasnya dengan mengelus rambut lebatnya yang berwarna hitam. “We’ll be good with or without them, dear. You just have to go thru these half year and we’ll find you a better place. Sekarang kamu sembuh dulu ya”

Mereka berkelahi hebat saat aku pergi. Masalahnya selalu sama, idealisme para musisi yang berbeda alirannya. Billy selalu bersikukuh tentang musik yang menyenangkan dan dilakukan dalam keadaan tenang, sementara The Window adalah band komersil yang terobsesi untuk selalu dicintai penggemarnya. Aku sebenarnya kurang paham dengan hal yang sifatnya kejiwaan musik, yang aku tau, Billy melakukan semuanya dengan cara yang baik menurutnya dan selalu totalitas dalam bekerja. Mungkin ada hal-hal diluar ilmuku yang tidak harus aku pahami selain Billy. Aku cukup tau bahwa sulit bagi The Window untuk bertahan tanpa arranger sehebat Billy, dan Billy pun tidak akan sanggup mencicil apartemen kami tanpa The Window. Billy selalu bilang “hal yang dilakukan setengah hati hanya bikin kita capek dan sakit pada akhirnya

Billy cerita tentang kelakuan para temannya yang sering pesta dan selalu banyak menuntut pada penyelenggara acara. Mereka yang tidak tau aturan dan selalu terlambat latihan. Aku sendiri sering mencoba untuk bertanya kenapa Billy masih melakukan hal-hal yang membuatnya merasa lelah dan kesal sendiri. Sayangnya suamiku itu selalu tegas menjawab “kalo udah panggilan jiwa, seberat apapun pasti aku jalanin. Sudah terbukti, menikahi kamu misalnya, berapa orang yang harus aku kalahkan untuk bisa nikahin kamu? Dan sekarang, setelah kita bisa settle di tempat kita sendiri, aku nggak akan mau nyerah cuma gara-gara para ABG yang nggak tau caranya bermusik”

Aku mengingatnya mengerjakan thesis dalam waktu setengah tahun sambil terus meyakinkan ayahku bahwa kami akan baik-baik saja meskipun pekerjaan paling tetap yang dimiliki Billy adalah instruktur musik di ibu kota. Ayahku bilang, pengrajin Bali banyak yang lebih baik dan lebih serius daripada Billy, tapi Billy berhasil membawa predikat Master ke kampungku dan memboyong putri terakhir dari I Wayan Suta dari Bali ke Jakarta untuk dinikahi secara terhormat. Buatku dan Billy, itu adalah prestasi tertinggi KAMI sebagai sepasang suami istri. Hingga sekarang, aku melihat Billy mengaplikasikan prinsip sama pada cara berjuang kami di negeri orang. Negeri dimana matahari adalah barang langka dan biaya hidup adalah bentuk kecil dari neraka.

“Why don’t we catch a movie tonight? Ini malem minggu lho, sayang” Billy mengangkat kupluknya dan merapikan rambut hitamnya sambil bangkit dari pangkuanku. Aku menghela nafas meraba keningnya yang memang sudah tidak demam lagi. Aku masih berpikir dia harus istirahat sampai besok siang paling tidak. “Aku janji nggak malem-malem dan kita langsung tidur ya abis nonton?” Ia bersikeras mengajakku keluar di malam hari di bulan November untuk menonton film. Aku mengangguk setelah memberikannya beberapa syarat seperti jadwal makan dan cara bicara di depan umum. Maklum, Billy adalah pria spontan yang sering tidak berpikir dalam berkata-kata. Kami akhirnya menghabiskan lima jam di luar dan pulang dengan wajah merah dan kepala pusing karena udara dingin yang menusuk.

Setelah meminum obatnya, Billy menepati janji untuk langsung tidur setelah mengecupku di kening. Sebelum menutup matanya, Billy bilang "thank you for staying and taking care of the stubborn me, being there for me, and caring my single bite of food, love". Aku menarik selimut sampai dadanya dan meredupkan lampu dekat kasur. aku lanjut mengerjakan laporan pekerjaan untuk hari senin, sambil menulis kisah ini. Dan mengakhiri kepenatanku dengan satu kalimat yang kutuliskan di pintu kulkas untuk Billy “as I promised you, dear, to stick together, for better or worse. Love”

dunia ini milik saya

Friday, 26 November 2010

Halo, namaku Asdiri.
Aku lahir 17tahun yang lalu, entah dari siapa dan kenapa. Sekelilingku saat ini sedang membicarakan aborsi, yang menurutku adalah ide cemerlang untuk para ibu tak bersuami ataupun remaja tak tahu diri. Melihat keadaanku, tentu saja mereka memilih aborsi, setiap anak yang lahir ke dunia akan berbentuk seperti aku.

Bentukku? Tidak berbeda jauh seperti kalian. Bedanya, aku bersayap dan kelopak mataku lebih lebar. Kalian biasanya berjari tangan 10, sementara aku hanya 8. Aku tidak punya orang tua dan saudara. Sejak lahir, aku sendiri. Pamanku bilang aku mencekik ibu saat beliau melahirkanku. Kalau ayahku......katanya ia bukan manusia.

Aku bersyukur tidak punya teman. Menurut film yang sering diputar tetangga depan rumahku, "there will be no one that you can hurt when you're alone". Anjing tetanggaku itu bilang bahwa arti dari kalimat itu adalah "berteman dengan diri sendiri adalah cara terbaik untuk tidak menyakiti orang lain". Jujur, aku sedang mempelajari apa yang disebut dengan 'sakit' dan aku masih mencari-cari bentuknya.

Kendati demikian, aku merasa bukan teman yang baik untuk diriku sendiri. Sayapku sering melukai punggungku, dan jemariku tak pernah sanggup menggenggam makanan. Sesekali ada yang berbaik hati menyuapiku, tapi selalu kutampik kelembutan tangan mereka dengan tatapan sinis dari kelopak mata lebarku. Lagi-lagi, aku memang bukan teman yang baik.

Rumahhku?
Besar, cukup besar untuk tubuh mungilku. Malaikat yang sering lewat selalu menyapaku dan memuji keadaan rumahku yang bersih. Tidak berisi apapun, tak juga sebutir debu halus masuk rumahku. Aku merawatnya dengan kesendirianku, aku rasa bahkan angin dan udara akan enggan memasuki rumahku. Tidak peduli, aku bukan hidup karena mereka.

Pada suatu sore, seorang pedagang buah menawariku jualannya. Jeruk. Buatku, warnanya aneh, rasanya tidak enak dan harganya mahal. Pedagang culas itu meminta sebelah sayapku untuk ditukar dengan jeruknya, aku lalu mengusirnya dengan kelopak mataku. Sedangkan jemariku yang berjumlah 8 selalu kugunakan untuk menutupi sisa wajahku yang berbentuk abstrak. Tentu saja jemariku tidak sanggup menutupi seluruh permukaan wajahku, terutama mataku.

Aku rasa aku butuh hal lain yang bisa membuatku semakin sama dengan kalian. 2 jari tambahan misalnya? Atau sepasang tanduk dan sebutir ego untuk memakan salah satu dari kalian? Kira-kira, kalian bisa kumakan dengan cara yang bagaimana? Kalau aku sudah punya 10 jari, aku akan semakin mirip dengan kalian.

Oh, tentu saja kalian tidak akan punya sayap seperti aku. Jadi bersyukurlah, kalian tidak akan mendapati punggung berdarah karena sayatan sayap kalian. Bersyukurlah seperti aku bersyukur atas ketidakadaanku dalam kesamaan dengan kalian. Seperti aku bersyukur bahwa kelopak mataku besar dan wajahku berbentuk abstrak. Dan orang-orang tetap menghitung jari-jariku sambil tertawa dan berkata "ASDIRI, sebaiknya kamu mati saja"

to like the dislike-ness

Monday, 22 November 2010

I don't like it when you don't hold my hand in crowd.
I don't like it when you yell at me at midnight
I don't like it when you throw up at my sight.
I don't like it when you ignore my pride.
I don't like it when you leave me with no light.
I don't like it when you act like everything is alright.
I don't like it when you say that our bed-lamp is too bright.
I don't like it when you define our talk as a fight.
I don't like it when you can't see what I keep inside.
I don't like it when you walk at the same time you slide.
I don't like it when you call me stubborn as a knight.
I don't like it when you drive me to noisy at night.
I don't like it when you say that my coffee is dried.
I don't like it when you predict what's a sure and what's a might.
I don't like it when you stand away from my side.

I once had a time to say these all things,
I was staring at your eyes and holding your both arms just to make sure you're listening.
I was trying to say a word, but when you stared me back, your eyes told me one thing that kept me shut my mouth, hold my anger back, closed my insincerity, encouraged me to sanity.

One thing you tell me each time I open my eyes to a wide world.
One thing that remains the same, no matter how wounded we are.
One thing that demolish what people called "dislikes"
One thing I would never understand, nevertheless, I always feel.

One thing....






I LOVE YOU.

two great things started with "P"

Wednesday, 17 November 2010

This cemetery smells good. Yes, the after-rain soil relieves me.
Hey, my name is Problem. I live in...everyone's life. I ruin lives and my fate is to be fixed. I play important role in everyone's life, again, I ruin things.
I never get satisfied with one breakdown. I usually come after bad things in bad moment with bad temperature.


Until one day, I met this girl named Patience. She's lovely, soft and always heals.
I was with one guy and would like to company him to a murdering serial, Patience reached my hand and spoke softly "why don't we sit down and have some coffee?"


I was shocked, how could she possibly came to a burning flame and asked a fire for a sip of coffee. But instead of burning her, I put the knife and grab her hand back. We stared at each other and she made me a wonderful white milk instead of a cup of coffee.


She smiled and listened to my story carefully. I whined and groaned all the evening and she was just to tough to let go.
We ended up splitting, and decided to come back there same time at the day after. Again, another flame was burning me. Patience was not there, so I grabbed the knife and started to lose my mind.


I ruined people's life and triggered the question "you damn liar! What's your Problem?" I love hearing my name recalled by people. Until another evening, a glass of white milk with my girl, Patience. She kept on smiling to me, this flatten me up. That evening I hugged her for the first time, felt so warm and comforting.


She told me one good thing that made me cry "we are two lovers in different directions. One day, one of us will kill one of us"



I killed her, the woman that I loved the most. The one who utterly forbid me to sustain my role, yet the one who was faithful and consistently listen to my stories. We end up here, in this cemetery.


Somehow I believe, that this good after-rain soil smell, is just another her in another different moment.

typical Sunday sore

Sunday, 14 November 2010

tengah bulan biasanya jadi moment yang sangat saya tidak suka. Karena selain kantong yang semakin kosong, juga karena ternyata mama belum pulang ke Jakarta sampai tepat tanggal 15 besok.
yang menyenangkan dari tengah bulan adalah tentu saja hari minggu yang selalu bisa saya alokasikan untuk melakukan hal yang insomnic tidak pernah bisa lakukan ----tidur----



untuk pertama kalinya saya mengupdate blog dari komputer pacar saya di rumahnya. selain keyboardnya yang enak, sekarang dia sedang tidak berisik dengan "kamu ngerjain tugas s2 atau ngetik blog". Yes, sementara dia lagi asik dengan Blackberry-nya dan update yang lucu-lucu di twitternya. Sayang, aku tidak pernah cemburu pada siapapun di hidupmu, kecuali aidil dan gitar itu. hahahaha..



setiap berhasrat ngerjain tugas s2, saya selalu mengalihkan pikiran pada hal lain secara tidak sengaja agar otak saya tidak benar-benar terdoktrin untuk menjadi seorang Master komunikasi dalam waktu dua tahun.-- yes, ini alasan busuk saat saya tidak bisa fokus menganalisa strategi pemasaran Garuda Indonesia.




Terpikir oleh saya untuk menjadi frequent flyer di Garuda Indonesia. Selain previlige yang luar biasa heboh, saya selalu naksir pada pramugari yang membawakan makanan 4 sehat 5 sempurna. (Oh, sungguh, seumur hidup saya, barus sekali naik Garuda Indonesia, dan itu luar biasa mengesankan) Ngomong-ngomong soal frequent flyer, saya berpikir untuk merencanakan liburan lagi, tahun depan mungkin, saat selesai kontrak dengan perusahaan Jerman itu. mungkin.



Sudah ya, saya mau nonton video iklan Garuda Indonesia. Saya sendiri sebenarnya bingung kenapa saya dapat tugas ini, padahal di kelas saya selalu menggembar-gemborkan AQUA dan DANONE sebagai objek analisa saya. sial, saya baru ingat, Aqua bukan lagi milik kita (Indonesia).



Dan pacar saya sudah mengigau hebat di belakang saya "katanya mau ngerjain tugas s2".

sore yang menyenangkan (part 2)

Friday, 12 November 2010

Ya, saya bertemu lagi dengan LEO, kali ini di rumah sakit bersalin. Istrinya sedang pregnancy check up. Saya agak kesal melihat LEO sore itu, karena alat penyadapnya tidak bekerja efektif. Dan LEO instan menjelaskan "sorry, jek, gua resign dr TELEFUNKEN. Sekarang baru mulai permanen di Shiron." Ternyata data-data kemarin tercekal di kantor lamanya. LEO menjual forbidden application kepada saya. Brengsek! Saya tidak tau kalo cintanya pada istrinya yang sedang hamil tua itu bisa memantik niat jahatnya menjual aset kantor.


LEO cerita 10 ip address yang berhasil masuk tersadap. Beberapa belum sempat ia lacak, namun tiga di antaranya dapat terbaca jelas: komputer adik saya, Blackberry 9000 beserta imei yang (tentu saja) saya tidak kenal. Satu lagi, ip address ganjil yang saya curigai berada di Bandung. Gendys!!! Sure she is. LEO bilang sisanya tidak bisa lagi di-retrieve. Saya tidak terlalu tertarik, seperti biasa, saya masih harus sibuk mengurus pekerjaan yang semakin menumpuk dan beberapa tugas dosen yang selalu membuat suntuk.


Sore yang menyenangkan ini ternyata diakhiri dengan kisah lain LEO tentang penemuannya di Shiron, kantor barunya. Leo bilang, ada sebuah bagian di kantornya tersebut, dimana sudutnya selalu terpasang foto Presiden pertama RI --Soekarno. Menurut LEO, ini adalah suatu indikasi adanya idealisme tertentu yang diterapkan sebagai seorang webmaster dan data processor. Klien Shiron adalah perusahaan multi nasional yang meluangkan puluhan juta rupiah tiap bulan untuk software dan keamanan data mereka. Keren, LEO memang berbakat di bidang tersebut.


Yang menjadi penutup dari pertemuan saya dengan LEO adalah: "gua bisa cariin 7 ip addresses lagi untuklo. Tapi gua minta bantuin persalinan istri gua dong bulan depan" saya menggeleng heran dan menepuk-nepuk pundak LEO agak keras. Kali ini saya benar harus menolak tawarannya dan membiarkan LEO terus mencari cara agar saya mau membeli programnya. Saya merasa tidak butuh. Kenapa saya harus menyisihkan setetes keringat dan sedetik waktu untuk hal yang tidak saya perlukan?

lagi-lagi masalah es dua

Wednesday, 10 November 2010

Ma'am, itu beneran deadline proposal thesis tanggal 20?
Itu hari sabtu lho ma'am, kita nggak ada kelas.



"Memang, kan submit via email"


---saya menengok kalender lalu ternganga---
Itu dua minggu lagi ma'am...



"Iya, masih dua minggu, baca saja jurnal dan artikel dari saya"



---membenamkan kepala ke kemeja lusuh dan menguraikan rambut seberantakan mungkin, untuk melambangkan tingkat depresi tingkat bawah---
Baik ma'am, akan saya usahakan.

sore yang menyenangkan

Wednesday, 3 November 2010

halo. apa kabar?
saya mau cerita tentang sore yang menyenangkan. baru saja saya bertemu dengan seorang teman lama, Leo namanya. ia bekerja di perusahaan telekomunikasi dan penyedia alat teknologi berbasis Jerman. saya bicara banyak tentang karirnya dan LEO mengakhiri pertemuan kami dengan sebuah tawaran menarik "kalo elo punya lima ratus ribu rupiah, gua akan pasang penyadap versi trial punya perusahaan gua yang baru akan dirilis tahun depan. ini memang trial, tapi gua bisa email ke elo ip address sekaligus lokasi satelit  penerima setiap mouse yang mengklik blog lo. lo tertarik nggak?"

awalnya saya hanya mengernyitkan dahi tidak percaya, ya, kebetulan saya bukan tipe orang yang mau tau sebanyak itu, apalagi tentang tulisan hampa. saya lalu bertanya penyadap tersebut bisa dipakai untuk website lain atau hanya blog saja. dan LEO menjelaskan bahwa ini adalah push software yang di pasang melalui ketikan html di setting blogspot, wordpress atau situs blogging lainnya. fungsinya adalah untuk mengetahui siapa saja yang mengakses atau melihat halaman web tersebut. saya tertarik, namun saya tidak mengiyakan, nampakanya lima ratus ribu rupiah bukan jumlah uang yang tepat untuk sekarang.

LEO menawarkan harga lebih murah, hanya saja, dia bilang penyadap ini akan masuk ke email dia, bukan ke email saya, jadi retrieval informasi akan tersaring oleh account dia terlebih dahulu sebelum diteruskan ke email saya. hal ini, kata LEO, mengakibatkan terlacaknya sistem terdeteksi milik siapapun yang juga mengintai account LEO. sekilas saya teringat film action hollywood tentang CIA dan FBI. saya memilih untuk tidak percaya. ayolah, saya tau yang membuka blog saya hanya Tyo, Babang, Dimas dan Gendys. jadi apa gunanya memasang penyadap tersebut.

pada akhirnya, saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke arah lain; program master di luar negeri. ah, ayolah LEO, jangan ajak saya bicara masalah ini, saya baru saja diterima di sebuah perusahaan shipping dan cargo nomer satu di Indonesia, jadi rasanya LEO salah timing untuk kedua kalinya. pembicaraan kami beralih lagi pada pekerjaan LEO.

LEO menceritakan usaha sampingannya berupa produksi kerupuk lokal rasa coklat. sementara saya mengingat-ngingat apa istilah kerupuk coklat ini, mari kita uji kehebatan IP DETECTOR LEO. :)

dear jamie

Tuesday, 2 November 2010

Jadi kenapa kata gurumu kamu tidak boleh masuk sekolah?
Benar karena seragam lusuh bertuliskan huruf kaligrafi dalam bahasa arab?

Bukan, beliau bilang karena sepatuku sobek di bagian alasnya, dan itu membuat bau kakiku tercium hingga kelas sebelah.

Aku pikir kakimu tidak bau, kau tidak membantah tuduhan itu?

Aku pikir kakiku tidak bau, yang bau adalah hatiku.
Aku tidak suka setiap guru menggoreskan kapur putih di papan tulis kelas, tulisannya jelek dan cara bicaranya mengesalkan.

Jadi kau merobek alas sepatumu agar bau kakimu tercium?

Aku sudah bilang, kakiku tidak bau, hatiku yang bau.

Iya, bau hatimu mengontaminasi kakimu. Kau tau pori-pori kakimu bahkan bisa meluapkan cairan dari otakmu?

Tidak, kurasa hatiku punya sekat kuat agar baunya tidak keluar dari kakiku.

empty morning

Monday, 1 November 2010

"where on earth is that number?!" aku menyeruak dari selimut dan mengobrak-abrik laci lemari mungil di sebelah kasurku mencari selembar tissue sisa semalam. Sehabis pesta pembukaan gedung kantor baru saya, kami berkenalan, kalau tidak salah, namanya Mike. Kami mabuk berat dan saya benar-benar tertarik dengan yang satu ini. Dia adalah arsitek dan semalam ia menceritakan imajinasi gedung kampusnya di atas ranjang saat kami selesai bercinta.

Sekarang ia sudah pergi dan saya ingat benar ia menggambarkan logo perusahaannya berserta nomer ponsel di tissue itu. Saya panik dan takut kehilangan jejak, meskipun sebenarnya saya bisa saja melacak identitas Mike lewat daftar hadir tamu semalam. Tapi tidak lagi semudah itu karena bagian resepsionis adalah seorang cewek yang selalu melirik sinis terhadap boots baru saya dan selalu meniru gaya pemakaian scarf kantor saya. Namanya Lusi, dan dia adalah satu-satunya resepsionis yang tidak pernah saya sukai di antara rekannya yang lain. Tingkahnya aneh dan selalu kasar pada saya. Memang salah saya kalau ternyata dia putus dengan pacarnya yang ternyata seorang gay? Oke, memang pasangan gay-nya adalah adik saya. Tetap bukan salah saya! Saya sendiri bukan lesbian, dan saya tidak pernah mengintimidasi dia dengan status pekerjaan kami. Dia sendiri yang menjaraki kami dengan kesinisannya.

Saya memincingkan mata saya ke bawah lampu meja dan mengangkat tinggi-tinggi lampu itu. Yes! ini dia; "Maryland Design, Co" see? namanya Michael Thompson, "creativity is what you aim, not what you use" -Mike, 345 3221
Saya segera men-dial nomer tersebut tanpa berpikir dua kali.
"Mike, hey, it's me, Natasha from Berkeley, we met...."
"Hey Nat, could I call you back later, I'm with my mom at the moment..sorry" Mike menghapus senyum manis di wajah saya dan saya merasakan kening ini berkerut, "yeah, this is my cell, anytime.." saya tidak menunggu jawaban untuk menutup panggilan itu.

Setelah melempar diri kembali ke atas kasur, saya ingat namanya bukan Mike. Saya kembali bangkit dan mencari nomer lainnya di sekitar kasur. nihil. Saya menghela nafas dan bangkit menuju dapur, mungkin setangkup sandwich bisa menenangkan pikiran dan perut saya. Dan tebak apa yang saya temukan di bawah termos kopi? MIKE - 997 7665

This time can't be wrong! Saya duduk kembali ke kursi di bar setelah berhasil meraih telepon di sebelah mesin pencuci piring. Saya memutar otak mengingat Mike yang ini, dia tidak menuliskan nama perusahaannya, tidak juga menuliskan identitas lain kecuali nomer telepon ini. "Shit! I hate it when I'm too drunk to remember!"

Saya menjambak rambut bagian kanan kepala dan mengetuk-ngetuk pada cangkir kopi sambil terus mempersiapkan alibi untuk menelpon Mike yang ini. "Hello, Mr Hatshworth's office" sekretaris sial, kenapa dia yang angkat?
"Miss, excuse me, I thought this was Mike's cell..." saya mencoba menjelaskan dengan tenang dan dia memotong dengan "you were then being diverted to his office, how may I help you Miss?"
"Have you got any idea when he'll be back there?"
"Mr Hatsworth's here, Miss, he has a meeting. Would you like to leave a message?" suaranya terdengar profesional dan dingin
"Yes, tell him Nat called please, and give him my number 989 5665. thanks" saya lagi-lagi menutup telepon tanpa adab dan menghempaskan telepon itu ke sebelah termos kopi. "was it really Mike?" saya bergumam pada diri saya sendiri.

Cangkir kopi di hadapan saya seperti meledek saya dan saya mendentingkan tatakannya dengan lembut setelah menyeruput habis isinya. Sandwich saya masih utuh, dengan mentimun, selada segar, telur dadar dan ham hangat. Saya tidak nafsu makan.