the slight difference between a journalist and a housewife

Wednesday, 30 June 2010

bahkan di sela kepenatan saya mengerjakan media monitoring dan media log untuk tugas master saya, blog ini menggugah jari untuk melatih beberapa sendi dan mengeluarkan beberapa liter pikiran dalam otak setengah jadi.
saya sedang tertarik dengan buku ini...











The Unexplained Psychic Powers.
kadang beda beberapa logika dengan ilmu tidur dan bermimpi, karena belakangan ini saya sering membuka buku tanpa membacanya, termasuk membuka file tugas tanpa mengerjakannya. selalu ada diversion atau pengalih yang menarik mata dan perhatian saya.

manusiawi memang, atau sering saya anggap demikian, karena manusia memiliki kemampuan multitasking yang luar biasa hebat, hanya terkadang, beberapa dari kita enggan menggunakan, mengakui bahkan kita enggan menyadarinya. Menurut saya (super subjective phrase), kekuatan multi tasking seseorang mudah saja terdeteksi oleh bagaimana kita memikirkan dua hal sekaligus lalu pada akhirnya memutuskan untuk melakukan dua hal yang tadinya tidak ada di daftar pemikiran kita. Saya misalnya, sering merencanakan makan eskrim sepulang sekolah, lalu ajakan lain untuk mengerjakan PR bersama temang juga datang pada saat pulang sekolah.

setelah menimbang-nimbang (please ignore how hard I considered it), saya memutuskan untuk bermain sepeda dan mengejar layang-layang dengan anak laki-laki yang sering nongkrong di perempatan jalan. See? betapa multitasking (dan inkonsistensi dalam kasus ini) banyak mengubah langkah dalam hidup kita (atau saya?).

Lalu saya telaah lagi apa yang saat itu saya putuskan. Apakah mudharat (kerugian) dan manfaatnya lebih besar atau bagaimana? menakjubkan sekali karena saya menarik kesimpulan bahwa dengan mengambil keputusan untuk bermain layang-layang, saya menghemat uang membeli eskrim dan menghemat otak untuk mengerjakan rumus phytagoras. Instead of that, saya malah menemukan strategi untuk membagi tim dalam mengejar layang-layang, terutama yang tersangkut di kebun rumah orang atay pohon yang cukup tinggi.

Selalu begitu, apa yang saya putuskan dan saya lakukan suka berbeda, karena keputusan saya sifatnya tidak mutlak, slalu flux dan changing interests. Saya labil dan suka berkreasi dengan bongkar pasang dan kecocokan. Hanya saja, kalau sudah terluka akibat bermain tanpa sendal, saya masih sering kena omel mama.

Dalam hati sih "anak sakit bukannya diobatin eh, malah dimarahin" tapi mulut saya hanya bisa terisak-isak dan tangan saya mengusap air mata. sungguh hati ini terasa lebih kuat dari apa yang terlihat dipermukaannya.

do you remember

Tuesday, 22 June 2010

i was the one who gave you those blankets,
you now pile them away in your dorm's shelf.
i was the one who dropped you the lunch box,
now you leave it unwashed in the dishwasher.
i was the one who sent you the map to the park,
now you tear it heartlessly.
i was the one who put out the trashes in your kitchen,
now you seemed don't care about them.
i was the one who stopped the cab for you when you got home late,
now you prefer walking around the block.
i was the one who stood above your empty desk to put away that spider,
now you use long stick to march them out.
i was the one who turned off your lamp every morning,
now you never even turn them on.
i was the one who drove you home after every party,
now you never go home directly after party.
i was the one who picked up the laundry for you,
now you don't wear any laundry items even when you're going to the office.

what's changed?
why so sudden?
when will you be back?
who's another me?
where was your sight of me?
how could you possibly changed?

a plot

Thursday, 17 June 2010


Sebuah perbincangan ringan, di kedai kopi di tengah kota, pukul dua siang.
Seorang wanita, 25 tahun, dan seorang pria, 26 tahun. Berkawan lama dan berpisah sejak keduanya lulus kuliah. Masing-masing melanjutkan pendidikan dan karir di dunia yang sangat berbeda.

*karena males ngasih nama, saya kasih F untuk female dan M untuk male aja ya*

M: "hey, sorry nunggu lama, tadi cari parkir susah banget"
F: "no problemo, aku juga baru sampe.. so tell me, where have you been?"
M: "well, kamu taulah, setelah band-ku masuk label, aku cabut, jadi tukang jualan aja"
F: "hahaha, jualan sih jualan, tapi, jadi marketingnya Philips itu bukan hal sepele, bung"
M: "I quit smoking, has just been dumped by my fiancee dan sekarang bener-bener ngejar promosi buat ke New Zealand"
F: "Cool, aku nggak nyangka kamu bakal pake kemeja dan full suit kayak sekarang. Aku taunya dulu kamu super berantakan dan gondrong, suka bolos..hmm.."
M: "What? It was like seven or eight years ago. Kan aku bilang kamu mungkin aja ke Inggris duluan, tapi tetep apartemen idamanmu itu kebeli sm aku duluan ya"
F: "hahahah, I am still yearning for the flat, by the way.. kamu tinggal disana sekarang?"
M: "Ya, sama adikku, Irvan, he's good now. Mungkin taun depan dia lulus kuliah trus langsung pursue beasiswa ke Inggris. Tau kan dia suka banget sama kamu?"
F: "hahahha, you always come up with that, meanwhile aku tau, kakaknya yang suka sama aku..hahhaha"
M: "no no.. aku suka kamu lain sama dia suka kamu. Irvan selalu adore kamu, kagum, pengen kenal dan deket, lain sama aku.."
F: "Stop there, don't start, we're not flashing back to eight years ago at the same chairs and thought, you're a grown-up and surely a changed man"
M: "aku tau, tenanglah.. now tell me about you.. Master of Law"
F: "nggak banyak, sejak kita putus, aku nggak jadian sama siapa-siapa.."
M: "tapi flirting tetep ya?"
F: "Come on...well, quite a lot professors yang serius sama aku, but yet, I'm still this high with being single. Plus kamu tau betapa anti-komitmennya aku"
M: "So that hasn't changed."
F: "What? anti-commitment? NEVER!! hahahaha.. well, trus aku balik ke Indo, ketemu temen-temen dan yaa.. bisnis bisnis sampingan selain sama papa di Jogja"
M: "Papa sehat? Kakakmu udah nikah? Wah, long time no hear from her"
F: "Sehat, suaminya sehat, papa sehat, mama sehat.. hmm.. aku nih nggak sehat, mulai banyak pergaulan sama bule dan tender-tender tuh makin menggoda iman ya"
M: "Kenapa akhirnya nggak punya pacar?"
F: "Akhirnya? retorik banget kamu. hahaha.. the thing is: nggak ada yang mau sama aku"
M: "kali ini omongan kamu aku interpretasikan dengan siapa-yang-berani-macarin-master-hukum-lulusan-Oxford-dengan-penghasilan-setengah-triliun-rupiah-pertahun dan bukan lagi argument basi tentang drummer band yang mutusin kamu delapan tahun lalu ya.."
F: "now that is really funny.hahahaha.. aku kangen liat kamu main drum lagi, are you still on the band or really quit dan menjadi true-marketer?"
M: "Band aku namanya Alpin, band-nya Irvan sih, tapi aku sering bantuin gitarnya kalo mereka gigs. Minggu depan aku main, di SOHO. Dare to come and adore me with my ampli?"
F: "Uhm, that sounds good. tapi aku harus pastiin tanggalku ke Brunei dulu yah. kadang bangsa Arab yang itu suka overload deh sama kemampuan aku.. huffhh"
M: "Minyak siapa lagi tumpah?hahahaha"
F: "Ah, masih Petronas, masih itu itu aja sih.. Asia Tenggara dari sepuluh tahun lalu nggak banyak berubah dari segi struktur laut, mau tsunami dua kali juga nggak nurunin harga minyak toh?"
M: "Kamu masih balet?"
F: "No, I broke my leg, last year, recovery sih dan memang nggak parah..tapi aku decided to quit, for these years at least.. udah peringatan banget buatku supaya bisa fokus kerja"
M: "Fokus? sejak kapan kamu jadi orang fokus?hahahah.. so you've changed a lot except the non-commitment thing, huh?"
F: "Yes, I changed a lot, I reduce stage performance, I reduce over-sports and surely stop drinking alcohol.. the last one is hard, very very hard. but I did it. haha.. Inggris nggak pernah bagus dalam hal rehab alkohol"
M: "Kamu masuk rehab?"
F: "Pulang ke Indonesia ya sudah merupakan rehab buat aku. Simply beautiful to be home"
M: "Yeah, yeah.. agree.. I missed throwing in the stones with you to the lake. Kampus kita masih rindang gak ya dengan danau mini itu?"
F: "hahahha, yes yes, the farthest the winner aight? hmm,nggak tau sih aku, yang aku tau, kalo kamu aja bisa berubah gini, mungkin kampus kita juga udah banyak berubah"
M: "Sure it is..hmm, anyway, aku harus balik kantor lagi, harus ketemu klien dan kalo ada waktu, we'll set up another sip of coffee yah?"
F: "yes, sure, aku juga harus take-off ke jogja lagi nanti sore, mama ngajak premier di jogja..hehe"
M: "hmm, mama girl deh kamu. boots udah setinggi menara eiffel tapi hati ttep ABG yaa"
F: "Don't try to fall in love with me, again, just in case this is our last meeting"
M: "and you, don't try to fall in love with me again, mentang-mentang kita AKAN KETEMU LAGI"
F: "Let me know when you're free, Mr. Marketer"
M: "You always know my freedom, Ms. Lawyer"



surat retorika rumah tangga dari istri saya

Friday, 11 June 2010

"then what makes you different than your dad? years. only took you 20 years to be just like him. unfaithful and selfish. I require what you need to acquire, you require me all things with all my unavailability. I often wonder how would you make this thing up to me? I should have not believe you when you proposed me that day. You told me about a whole complete family, a total romantic and faithful, now you're just being so inconsistent and so not consequent. I don't hate, I don't have the spare for such feeling. I just want to reassure that we might see things the upside down, back and forth without seeing what I feel."


saya coba sentuh tangannya untuk menenangkan.


"don't touch me, I am calm and cool. I always chill and comfortable with this thing. Our marriage, is always like this, flat and glamorous. Like you always told me that we were glamorously flat. Do you really mean it when you say that? Or the things that you always teach Kania to be nice and critical to things? were they pure nurtures or just a father-role moment?"


saya menunduk meminta maaf.


"You don't need to apologise, you just need to hear what I say that I might do the same thing like you did. I just don't feel like doing it. No, not that I love you or I am so afraid of you, I was just appreciating what a marriage should be, or how it should looked, at least"


sebelumnya ia tidak pernah bicara sepanjang ini, hanya tetesan air mata atau tatapan heran pada saya yang baru pulang setelah tiga hari pergi tak berkesan.


"What do you expect me to say right now? I have been so silence since our wedding day. I have been holding the grudge and any angers, I have been observing to improve what I am supposed to do. I took all responsibilities, not as burden, just as piles of things that I need to take care of. Seems like those all defined by your family and friends as a role of a wife. Meanwhile you don't really show me what my role is, you don't tell me how to, you don't expect me either, do you? "

kalau saya jawab, saya akan tetap salah. saya memilih diam namun menatap mata sayunya. nada bicaranya datar.

"You know things that made me fall in love with you, were those two things you don't even have anymore. They were your gentle touch and your sincerity. Feel like you have it? You left me your sensibility of spotting something bad and your consistency of being careless. As a man in the family, I do understand fully your greed as a man, the strong one, the strongest amongst me and Kania. Even the strongest among all man that I judge as your close friend. Yet, you don't hurt me physically, you just being more hurting heartily and psychologically to me. Is it the nature of being a man? I am still trying to learn about it."


Tiba-tiba Kania menyeruak ke kamar kami, ia lari ke pangkuan ibunya dan bermalas-malsan di pelukan ibunya. Kania mengerjapkan matanya menatap saya, saya hanya bisa membalasnya dengan senyuman.


"Mom, Dad, are we going to divorce?"


Gadis lima tahun itu melontarkan sebuah pertanyaan yang sama dalamnya dengan sang ibu. Dari mana ia tahu tentang kata 'divorce' tidak lagi mempengaruhi pikiran saya. Saya menggeleng memeluknya dari pangkuan ibunya.


"Baby, did you have a bad dream again? Let's wipe it off and I tell you again the story about Prince Frog and Princess Belle, let's baby.."


Ibunya merebut kembali putri kecil dari pelukan saya dan saya melepaskannya.


"No, mommy, unless you promise me you are not going to kill the witch in the story so that the Princess could marry her"


Ibunya melangkah keluar membimbing Kania ke kamarnya. Kania mengangguk dan melompat kecil saat melintasi pintu kamar kami. Tak lama saya tertidur di kasur tersebut, bermimpi tentang pernikahan kami yang telah bertahan selama tujuh tahun. Dalam mimpi itu saya melihat istri saya mengenakan gaun terindah yang saya pesankan pada teman kami, seorang perancang busana. Cncin kawin kami warnanya perak dan saya ingat betul sepatu yang saya kenakan adalah hadiah dari istri saya. Ukurannya pas dan sungguh, itu adalah sepatu paling nyaman yang pernah sayakenakan seumur hidup saya.


"I have prepared your breakfast, I asked all maids to be ready for your upcoming cocktail party and I have cooked calamary for your take away lunch"

Mata saya menangkap sesosok istri saya yang membangunkan saya dari mimpi panjang yang mengenang. Saya mengumpulkan tenaga untuk bangun dan merasakan sendi-sendi saya saling bertautan untuk menjawab pernyataannya.


"Kenapa Kania bilang soal kita bercerai?"


Istri saya diam menatap saya datar, pandangan matanya masih sama seperti semalam, anggun dan datar. Saya mencoba menemukan jawabannya di mata tersebut sambil berusaha duduk.


"She said 'we' not you and me. I don't think I have the answer for your question. Have you tried to ask her yourself? I am doubtful she would have a good answer for me. Maybe sho could answer her Dad. Go ask her if you want to know. I would be tahnkful if you could answer her question, not asking about what it means."

Saya menarik tangannya sebelum dia keluar kamar. Untuk pertama kalinya saya menarik tubuhnya secara kasar sehingga posisi tubuhnya menempel di tubuh saya. Saya menatapnya tajam namun pandangan matanya tidak berubah. Ia menatap saya balik dan seolah menantang, ia justru berkata "You feel that I love you?"


Saya tidak menjawab.


"I don't. I'm just faithful."


Saya memeluknya erat dan ia tidak mengelak. Tidak juga membalas namun tubuhnya terasa sangat jatuh dipelukan saya. Saya merasakannya memeluk balik tubuh saya. Kami berpelukan cukup lama.


"Aku memang nggak setia, tapi aku cinta kamu."

saya dan kebiasaan minum susu saya

Wednesday, 9 June 2010

pagi tadi saya bangun dengan dering alarm yang memekakkan telinga.
kepala saya berat dan di sekitar tempat tidur saya berserakan beberapa kaleng bir dan tubuh teman-teman saya yang tidak tergugah dengan suara alarm tersebut. kami habis pesta bujang semalam. masalahnya, Ardi akan segera menikah, sekitar seminggu lagi Dania akan menjadi istrinya dan merebut keleluasaannya mengajak kami ke klub telanjang (sumpah mau nulis strip-club aja rasanya gatel kalo di-Indonesia-in) dan mabuk sampai pagi di akhir pekan.

Dania bukan perempuan cantik, ia cukup unik untuk Ardi dan kami semua. Sementara Ardi hobi sekali memukul Dania, kami justru akan memukul balik Ardi dan sering menghajarnya habis-habisan karena kata-kata kasarnya itu selalu menusuk hati Dania. Saya sendiri tidak simpati pada Dania, wataknya keras namun hatinya lembut. Dia baru menyelesaikan program Master di Jerman dan sekembalinya ke Jakarta, ia dipinang Ardi.

Dania sering masak untuk kami di rumah Ardi selepas mereka bercinta. Saya sendiri heran pada Ardi yang tidak pernah punya alasan tepat untuk memukuli Dania. Padahal Dania baik dan menerima setiap perselingkuhan Ardi dengan para perempuan habis semalam (one night stand juga susah ya di bahasa Indonesia-in) bersama kami. Kami sih jelas membela Dania, karena sejahat apapun perempuan, dia tidak pantas dipukul, berkali-kali, di depan teman-temannya. Wajar kalau akhirnya kami tidak hanya melerai namun jg menghajar habis Ardi.

Minggu depan tinggal hitungan hari, bahkan jam kalau menurut saya. Kepala berat ini mencoba berkeliling memandang ruang tamu saya dan menatap tubuh mereka yang terlihat payah, lalu saya tersenyum. Kalau diingat ingat, kami sudah bersama selama tujuh tahun, berbagi banyak hal dari uang saku, tips berenang, musik andalan, referensi film dan wanita pujaan. Setelah tujuh tahun ini, saya nggak menyangka Ardi yang akan menikah lebih dulu. Dengan alasan yang super aneh bahkan sama sekali tidak masuk akal "menjadi dewasa dan seorang pria bertanggung jawab" (a changed and mature man itu ini bukan bahasa Indonesia-nya?)

Orang tua Ardi keturunan Samarinda. mereka adalah keluarga pekerja keras dan penuh konflik. Saya sendiri sudah lama kenal dengan orang tua Ardi, jauh sebelum kami jadi sahabat dekat. Konon, orang tua saya dan orang tua Ardi sudah berkawan lama, dan Ardi yang beda dua tahun dengan saya itu sempat diasingkan ke pulau Jawa bersama Pamannya, sementara saya dan kedua orang tua Ardi menjalin hubungan Bapak-Ibu-Anak dengan sangat baik. Panjang ya menceritakan kisah saya dengan Ardi, karena dia yang paling rumit silsilah pertemanannya dengan saya.

Kembali ke pernikahan Ardi Dania yang sudah cukup matang. Ardi memesan dua tiket ke Lombok untuk bulan madu mereka dan pihak kantor Ardi memberikan cuti selama seminggu untuk hal itu. Saya sendiri banyal mereferensikan tempat dan tujuan bulan madu untuk mereka. Nampaknya Ardi punya kelainan jiwa dalam hal berlibur, ia selalu mempersiapkan segalanya lebih detail dan rumit daripada pecinta liburan sendiri (backpacker itu pecinta liburan bukan ya?)

Dania sendiri terlihat leboh fokus pada kehidupan pasca pernikahan sebagai istri Ardi. Beberapa kali kami meyakinkan dia bahwa kami akan selalu ada di dekatnya untuk melindunginya dari Ardi yang kadang kumat penyakit memukulnya. Kami juga menyarankan Dania untuk belajar bela diri dan adat jawa agar ia bisa membela diri sekaligus mengendalikan kekasaran omongannya pada Ardi. Entah setan Jerman apa yang membuatnya menjadi perempuan mungil yang keras dan cerdas.

Dania hanya mengangguk pelan lalu tersenyum pada kami, senyuman yang sama setiap kami akan mengajak Ardi pergi, seperti tadi malam misalnya. Baru semeter mobil kami melaju dari garasi rumahnya, Dania sudah membombardir ponsel KAMI SEMUA dengan pesan singkat yang meminta kami menjaga Ardi dan selalu stand-by kondom untuk tiap pesta kami. Kami hanya membalas (melalu pesan saya) "Dan, laki semua, no girls tonight, lo tau rumah gua kan?"

Dania tidak membalas karena dia tau benar bagaimana peraturan rumah saya yang anti-seks-bebas dan anti-narkoba. Alhasil, hanya puntung rokok, dvd film action dan kaleng bir yang menghiasi rumah saya pagi ini. Saya menatap mereka satu persatu lalu berhenti pada Ardi. Posisi tidurnya telengkup dan nafasnya bau alkohol. Saya melangkahinya dan meraih ponsel di sisinya tanpa menyentuhnya sama sekali.

"Dan, Erik nih.. Ardi masih tidur, hangover"
"Oh, tolong suruh Ardi cepet pulang, aku abis morning-sick"
"Lo hamil?"
"Mungkin, makanya aku mau ketemu Ardi cepet, nggak tenang nih.."
"Dan, hari ini Ardi gak bisa pulang, kami mau ke Anyer, mungkin besok baru kita anter balik ya"
"Anyer? Ayo dong, gak mungkin kan aku kesana sekarang untuk bangunin dia?"

Saya mulai merasakan hawa kekerasan lagi dalam percakapan kami. Setelah menutup telepon, saya menendang Ardi hingga dia terbangun. Ia langsung bangkit membenahi diri setelah saya menceritakan percakapan saya dengan Dania. "Taik, paling bukan anak gua kalo bener"

Dania tidak selingkuh, Ardi yang selingkuh namun menuduh Dania selingkuh.
Saya selalu bingung dengan pikiran Ardi, dan untuk kesekian kalinya, di pagi itu, saya menemani Ardi menemui Dania, just in case Ardi akan melayangkan tamparannya lagi kepada Dania, si perempuan mungil dengan watak keras dan cerdas.

sudah bulan juni lagi

Monday, 7 June 2010

karena ini sudah tengah tahun,

maka saya bertekad mereview ulang resolusi awal tahun 2010 kemarin,

agak kacau karena ternyata belum sampai setengah dari 18 resolusi terwujud hingga bulan juni ini.

satu lagi yang jadi perhatian saya, belum saya mengeluh sebuah kelelahan, saya yang tidak pernah lelah ini, rasanya ingin berhenti, namun waktu tidak mengizinkannya. Ya sudah, apa boleh (dan bisa) buat, saya harus tetap merangkak dengan posisi bediri.

Kemarin sore saya berpapasan dengan kerabat lama di halaman rumah. Tidak bertegur sapa, saya bertukar pandangan dan anggukan kepala. ini tipikal orang jawa yang sering sekali tertangkap basah berbasa basi dengan banyak orang. tak heran salah satu teman saya (yang ingin nonton JRL) menilai saya palsu, maklum, saya jawa tulen.

Bukan masalah kalau saya kadang suka senyum sendiri sama "dia"--ini orang lain, nggak suka musik rock, kayaknya-- dan suka sekali kalo dia telpon saya sekedar bilang "gua minta cheesecake ya" atau "besok titip tagihan telpon ya" wah, rasanya senang bukan main.

lalu saya juga tidak menganggap masalah kalau mama saya mulai mempermasalahkan keabstrakan gaya nulis saya. selain blog ini tidak banyak follower-nya, saya juga tidak berintensi menulis untuk dipuji, bahkan tidak untuk dilihat. -karena setelah sadar bahwa saya sedang mengetik dengan kecepatan 78km/jam, lalu saya menekan backspace berkali-kali.

suara telpon dan sidekick saya tidak mengganggu pengetikan ini, hanya saja mengganggu keluarnya urutan kata yang akan saya ketik dan membuyarkan mata saya dari fokus ke layar komputer. Maklum, kalo bukan disini, saya tidak akan dapat akses internet dengan layar sebesar 18". waw.. rasanya saya tergigit oleh teknologi, bukan begitu kawan?

---sebentar tengok blackberry---

adik ipar, menyapa.

saya sudah mulai terbiasa dengan slogan blackberry "mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat". Ini istilah yang sangat mewakili pertemanan saya terutama ketika bekerja dalam tugas dan ujian. rasanya kalau saya tega (dan bisa) saya sudah meraup untung setengah dari pejabat yang anaknya aborsi. lebay bner dah!! tapi bukan saya pintar, cuma sedikit sekali mengandung individualisme dalam otak ini.

ah, sudah ya, saya mau menenggelamkan diri dalam tumpukan kamus bahasa inggris dan manipulasi perasaan yang disebabkan oleh stiker keraton di mobil teman saya. rasanya saya tak akan kunjung siap untuk punya pacar lagi (kebanyakan mikir negatifnya) untuk beberapa saat ini. tapi jangan hamil juga sebelum nikah..

Ya Kariim...

I've just broken another glass of wine

Tuesday, 1 June 2010


Pesta papa tadi malam seru sekali. Semua tamu berpakaian super mewah dan termasuk Mama, salah satu yang paling glamor, Pamanku. Sudah lama aku curiga pada pasanga ipar itu. Pasalnya, Papaku tidak pernah curiga pada kakaknya yang pernah memacari Mama sewaktu aku belum lahir. Banyak rumor yang mengatakan aku adalah anak Pamanku itu. Papa sendiri tidak pernah ambil pusing karena menurutnya, kami mirip.

Papa sering kutemui merenung jika tidak sibuk di depan layar komputernya. Jika aku bertanya, Papa hanya menjawab dengan 2 atau 3 kalimat yang membuat otakku menjabarkannya sendiri tanpa suara. Papa sering mengajarkan teknik bercocok tanam tanpa berkata kata. Ia menunjukkan padaku bagaimana mengolah pupuk, mengganti air, mencangkok dan stek tanaman dengan sigap dan tangkas. Aku hanya bertepuk tangan.

Sepanjang aku mengenalnya sejak lahirku, Papa jarang sekali bicara. Perbincangan meja makan didominasi oleh Mama dan kakak-kakakku. Aku sendiri sesekali mengisi jeda dengan menawarkan Papa sayuran atau lauk. Papa hanya mengangkat tangan dan sesekali mengangguk. Keluarga kami punya kebiasaan makan pagi bersama, makan malam tidak tentu dan makan siang selalu terpisah, setiap hari. Tujuh hari seminggu. Aku suka sekali kebiasaan ini.

Sejak masuk fakultas psikologi, aku mempelajari karakter keluargaku dan mendefinisikan mereka dengan bahasaku sendiri. Namun, definisiku ini tak pernah terbukti jika kami sedang mengadakan pesta di rumah. Seperti semalam, pesta kami begitu meriah. Kakak tertuaku dilamar pacarnya dan kami sekeluarga berpesta wine. Wine hasil kebun ayah enak. Semua tamu menyukainya.

Undangannya adalah keluarga dekat kami dan keluarga dekat pacar dari Tania, Erik. Setahuku, mereka sudah lama putus, namun tiga bulan terakhir ini kembali berpacaran dan sekarang Erik melamar Tania. Sejumlah 30 orang memenuhi rumah dan tamanku dengan aksesoris dan kemewahan mereka. Pamanku satu-satunya dari Papa masih single, hingga di usianya sudah melewati 50 tahun, ia masih terlihat gagah dengan kemeja dan full-suit. Tak jarang juga para keponakan dan sepupu Erik mencoba mendekati Pamanku itu.

Aku ingat betul mataku tertuju pada pudding melon dan strawberry cheesecake di meja sudut ruangan saat Garry memecahkan sebuah gelas wine. Ia menjerit keras namun mataku tak beralih dari pudding melon dan bongkahan cheesecake. Aku maju mendekati meja tersebut sementara semua tamu berlari ke arah yang berlawanan denganku untuk menghampiri kakak keduaku. Beberapa dari mereka histeris karena kaget dan sebagian wanita menjerit pelan karena gaunnya terkena percikan kaca gelas wine dan tumpahan anggur merah.

Aku tidak sedikitpun menoleh pada Garry, dan justru menangkap sosok Papa di dekat meja pudding dan cake tersebut di pojok.
"Papa, Garry haas just broken your most expensive glass of wine.."
"Really? I hope he didn't get hurt"

"He did not, Papa, do you?"

"Neither me, Son.."

"Then why are you standing here by yourself?"

"This loneliness in a casual to me, just like you.."