It's raining again in Jogja tonight.

Aku balik lagi ke Jogja. Dan kali ini rasanya nggak sesimpel, “yay kuliah lagi.”

It’s heavier. Bukan karena nggak mau. Justru karena mau banget. Because I want this. I chose this. Tapi justru itu yang bikin complicated. Karena sekarang aku bukan cuma “anak yang pergi merantau buat belajar.”

Aku ibu. Dan ini yang jarang orang bahas: stabilitas di rumah itu… banyak banget bergantung sama aku. Kayak, when I’m home, everything runs smoother. Makan teratur. Mood lebih stabil. Hal-hal kecil nggak jadi drama besar. Bukan karena aku superwoman. Tapi karena aku ada. Presence matters more than we admit.

Jujur ya… ada rasa takut.

Takut kalau pas aku pergi, rumah jadi lebih chaos.
Takut kalau ada yang nggak ter-handle.
Takut kalau ternyata aku terlalu sentral.

Dan lebih jujurnya lagi? Ada sedikit (atau banyak!) rasa bersalah.

Kayak… “Emang boleh ya gue ninggalin dulu?”

Padahal ninggalinnya juga bukan buat main-main. Buat belajar. Buat grow. Buat bangun sesuatu yang lebih besar ke depan. But still.

Motherhood has this invisible leash. Nggak kelihatan, tapi kerasa banget.

Yang bikin aku mikir keras itu bukan cuma soal fisik jauh. Tapi soal kontrol. Karena kalau aku nggak ada, berarti aku harus percaya. Percaya semuanya tetap jalan. Percaya orang lain bisa handle. Percaya bahwa dunia nggak runtuh cuma karena aku nggak di situ. Dan itu susah banget.

Karena secretly… mungkin selama ini aku over-functioning. Maybe aku terlalu sering jadi penyangga. Terlalu sering jadi emotional regulator. Terlalu sering mikir, “udah deh biar gue aja.”

Jadi sekarang pas harus lepas sedikit, rasanya kayak… eh, ini gue egois nggak sih? Tapi terus aku mikir lagi. Kalau aku terus jadi satu-satunya titik stabilitas, itu juga nggak sehat kan? Rumah nggak boleh berdiri di atas satu orang.

Dan mungkin… just maybe… ini bukan cuma tentang aku pergi kuliah lagi. Ini tentang semua orang belajar berdiri dengan kaki sendiri. Dan aku belajar untuk nggak merasa bersalah karena punya ambisi.

Kadang aku pengen jujur bilang: “I’m scared. I'm not confident. I don't feel enough!”

Takut gagal di kuliah. Takut ketinggalan momen di rumah. Takut jadi setengah-setengah di dua dunia. Tapi mungkin emang nggak ada versi sempurna dari ini. Mungkin memang capek. Mungkin memang ribet. Mungkin memang ada malam-malam nangis sendirian di kosan Jogja sambil mikir, “ngapain sih gue begini banget hidupnya.”

Tapi juga mungkin… ini bentuk sayang yang lebih dewasa. Atau ini adalah jadi dewasa itu sendiri. Karena aku nggak cuma mau hadir sekarang. Aku mau jadi versi diri yang lebih kuat buat jangka panjang. Kalau kamu lagi ada di fase kayak gini juga —between responsibility and ambition —

I just want to say: It’s okay kalau rasanya campur aduk.

Kita nggak harus selalu kuat. Kita cuma harus terus jujur. Dan sekarang, jujurnya?

Aku takut.
Aku excited.
Aku capek.
Aku semangat.

All at the same time. Dan mungkin… itu tandanya aku lagi hidup beneran.

Comments

Popular posts from this blog

Renungan Transjakarta Sore Ini

Why Making Everything Digital Is Important

Romantisme Allah Lewat Azan: Panggilan Mesra dari Langit