just another undeniable thing
Kita sering bangga (dan rightly so) sebagai manusia.
We think. We question. We doubt.
Kita pakai logika, debat soal etika, ngulik moral, bahkan—let’s be honest—merayakan free mind.
Manusia dikasih privilege yang nggak kecil:
kebebasan berpikir.
Kita boleh setuju, boleh nggak.
Boleh patuh, boleh membangkang.
Boleh percaya, boleh skeptis.
Dan sering kali, kebebasan ini kita anggap sebagai bukti paling valid bahwa manusia itu “merdeka”.
But then… there’s this one thing we never get to negotiate with. Gravitasi.
Sesederhana itu.
Sekaligus serumit itu.
Kita boleh denial soal banyak hal—nilai, ideologi, bahkan keberadaan Tuhan.
Tapi lompat dari lantai 39? Gravity doesn’t care about your free will. It pulls you. You fall. Period.
Tubuh kita tumbuh dengan asumsi ada “atas” dan “bawah”.
Tulang kita menguat karena setiap hari menahan berat badan.
Darah mengalir, otot bekerja, postur terbentuk, semuanya aligned dengan hukum alam yang sama sekali nggak nanya pendapat kita.
No voting.
No consent form.
No “agree to disagree”.
Here comes the thought when I pause: betapa ironisnya manusia.
Kita dikasih kebebasan berpikir sampai bisa mempertanyakan segalanya, tapi hidup kita literally bergantung pada hukum alam yang nggak bisa kita bantah.
Gravitasi bukan opini.
Bukan wacana.
Bukan hasil konsensus sosial. It just is.
Its existence defines and effects almost everything in this life.
Dan justru di situ refleksinya muncul.
Kalau hukum alam aja bisa sedemikian konsisten, nggak berubah mood, nggak tergantung zaman, nggak tunduk sama ego manusia, then why kita masih merasa sepenuhnya “berdiri sendiri”?
Mungkin kebebasan manusia bukan tentang bisa menolak segalanya. Tapi tentang menyadari batas. Bahwa ada wilayah di mana logika kita boleh bertanya, etika kita boleh berdebat, pikiran kita boleh liar.
Tapi tetap ada garis yang nggak bisa kita hapus.
Gravitasi mengingatkan kita dengan cara paling sunyi:
bahwa hidup ini berjalan di atas keteraturan yang sudah ada jauh sebelum kita lahir, dan akan tetap ada lama setelah kita pergi.
So yes, free mind is real.
But so is gravity.
Dan mungkin, justru di antara dua hal itu; kebebasan berpikir dan ketidakbisaan menyangkal hukum alam. Lalu manusia diuji: apakah kebebasan itu dipakai untuk sombong, atau untuk rendah hati?
Karena ternyata, even with all our intelligence,
we still walk on the same ground,
pulled by the same force,
under the same sky.
Comments
Post a Comment