The Superstitions You Hate (or Ignore)

As someone who believes in superstitious things, I merely rely myself on my salah. I know, it might sound so dumb to some people; how you rely on a performance of a few meditating rituals, five times a day, reading some sort of spells, and pouring your heart into an absurd thing called 'faith'.

I know.

But to some others, it's like a safe space almost like an escape. To me, last minute rescue. Let me tell you a story of how one night I was so desperate about things I cannot control in life, and I went to perform my salah. And magically the problems were gone.

Ada fase di hidup gue di mana semua pintu rasanya ketutup rapi.

Bukan dramatis yang teriak-teriak, tapi jenis putus asa yang sunyi. Yang bikin dada berat, kepala rame, tapi ke orang lain cuma bisa bilang, “gapapa kok.” Malam itu gue sampai di titik: Oke. Kayaknya gue udah mentok. I don't think I can do this.

There goes my plan Z: I performed tahajjud. Just as an escape route, and hoping that at least I can meditate and accept the situation. A dead one. 

Bangun di jam yang tanggung, mata masih berat, hati udah lebih berat. Berdiri, ambil wudhu, dan di situ… rasanya gue nggak lagi pinter ngomong. Nggak ada doa panjang yang puitis, I never feel like I am good at being a poet. Isinya hati gue cuma: “Gue capek. Gue bener-bener nggak tau harus gimana. Tolong aku ya Allah.” Dan anehnya, nggak ada petir, nggak ada tanda spektakuler seperti di film. Cuma ada rasa lega, dan mata sembab aja. Dada yang tadinya sesak, seperti lelah melayani dorongan air mata yang terbendung. Gue ketiduran.

Paginya…

masalah itu nggak hilang secara ajaib, tapi sesuatu berubah. Ada satu pesan masuk. Ada satu keputusan yang tiba-tiba jadi jelas.

Ada satu jalan yang kemarin sama sekali nggak kelihatan, sekarang muncul begitu aja—tenang, masuk akal, dan doable. Semua kayak… klik. Bukan karena masalahnya kecil, tapi karena kepalanya jadi bening. Dan ujungnya? Masalah itu selesai. Beneran.

---



People would say: “Universe conspires in your favour.” Katanya semesta bekerja diam-diam, nyusun puzzle buat kita. Yet, I wasn't entirely against it. But I chose not to believe it. To me, it's not universe, but salah. And that's the one I'm keeping until today.

I choose to believe, that The Guard is Guarding. and that's what's keeping me sane.


Comments

Popular posts from this blog

Renungan Transjakarta Sore Ini

Why Making Everything Digital Is Important

Romantisme Allah Lewat Azan: Panggilan Mesra dari Langit