Melamar dan Berefleksi
Acara yang kelihatannya sederhana—duduk manis, senyum sopan, air mata ditahan—ternyata diam-diam jadi panggung refleksi besar tentang peran hidup di tiap fase umur manusia.
Hari itu aku nggak cuma nemenin adik bungsu dilamar.
Aku lagi nonton hidup. One phase at a time.
---
Ada sang kakek.
Duduknya tenang. Nggak banyak bicara, tapi semua nunggu suaranya.
Kalau beliau angkat alis sedikit aja, satu ruangan langsung hening.
Di umur segitu, seseorang nggak lagi dinilai dari pencapaian terbaru, tapi dari track record hidupnya.
How you loved.
How you survived.
How you treated people when nobody was watching.
Terus aku mikir:
At 80-something, I want to be remembered as who?
Orang bijak? Orang baik? Orang yang “nggak gampang tapi pantas didengar”?
Karena ternyata, reputasi hidup itu bukan dibangun pas tua.
It’s accumulated. Pelan-pelan. Seumur hidup.
Ada sang ayah.
Ah, ini bagian paling sunyi tapi paling riuh di dalam hati.
Berat.
Bangga.
Sedih.
Haru.
Relief.
Loss.
All at once.
Melepas anak perempuan ke tangan lelaki lain itu bukan cuma soal adat atau seremoni.
It’s about letting go of a role you’ve held your entire life.
Mau senang, tapi kok dada sesak.
Mau sedih, tapi ini kan momen bahagia.
Mau terlihat kuat, tapi hatinya belum rela 100%.
Mixed feelings. Very human. Very father.
---
Ada sang ibu.
Ah sudahlah.
Ini mah fondasi hidup manusia.
Sekolah pertama.
Cinta paling panjang umurnya.
Doa yang paling “keramat”.
Di momen anak gadisnya dilamar?
Perasaannya pasti acak-acakan.
Bangga iya.
Takut iya.
Kehilangan iya.
Pasrah iya.
Apalagi di kultur patriarkis ini, di mana perempuan sering “dipindahkan” perannya, bukan sekadar bertumbuh.
Akhirnya yang bisa dilakukan ibu cuma satu: berdoa.
Karena cinta ibu itu aneh—paling kuat, tapi juga paling nggak berdaya.
---
Ada sang paman.
Dan aku sempat mikir:
“Ngapain sih beliau di sini?”
Turns out, perannya simbolis.
Bukan aktor utama, tapi penanda.
Penanda bahwa si gadis datang dari keluarga.
Bahwa dia bukan individu yang berdiri sendiri, tapi bagian dari sistem yang hangat dan kompak.
Bahwa pernikahan ini bukan cuma soal dua orang, tapi soal:
Hey, we’re gonna be a BIG family. You’re marrying into us too.
And somehow, that matters.
---Ada kami: para kakak.
Aku dan adik pertamaku.
Melamarkan adik bungsu tanpa orang tua itu…
berat.
pilu.
dan sedikit memalukan (jujur aja).
Bukan soal materi—itu bisa kami tutupi.
Tapi soal ketidaklengkapan, jarak emosional, dan cerita keluarga yang nggak selalu ideal.
Kami sedih.
Kami terharu.
Kami ingin mendukung sepenuh hati.
Tapi juga gemas sama keadaan, sama sejarah, sama hal-hal yang nggak bisa diubah.
Orang tua kami gengsinya tinggi.
Kami, sebagai anak, sering gigit jari karena cara pikir dan sikap yang sering bentrok.
Capek? Iya.
Kecewa? Kadang.
Tapi hari itu, siblinghood kami diuji lagi.
Dan lagi-lagi, kami menang.
Because blood is thicker than water.
Dan ketika orang tua absen, kakak-kakak yang maju satu langkah ke depan.
---
Pulang dari acara itu, aku sadar:
Hidup ini bukan cuma tentang fase kita sekarang, tapi tentang peran apa yang sedang kita jalani—dan suatu hari akan diwariskan ke orang lain.
Dan mungkin pertanyaan paling jujur yang tersisa malam itu adalah:
When it’s my turn to stand in each of these roles…
akan jadi versi manusia yang seperti apa aku nanti?
Comments
Post a Comment